Home Dunia Pemikiran Counter Pembaharuan Salafiyyah
Pembaharuan Salafiyyah

Pembaharuan Salafiyyah

70
0

By: Prof. Dr. Muhammad Imaroh

Dalam realitas pemikiran kita, ada orang yang membenturkan antara rasio dan rasionalisme dengan mengatasnamakan salaf dan salafiyyah, dan mereka berupaya untuk memonopoli istilah yang mulia itu, hingga mereka berpendapat bahwa rasio dan rasionalisme adalah sebuah tuduhan dan hinaan, kemudian mereka menulis buku –buku dan artikel hanya untuk mencaci rasio dan rasionalisme.

Dan dalam berdialog dengan mereka sebaiknya kita mengajak mereka untuk memahami warisan para ulama salaf, di mana tidak ada pertentangan atas apa yang mereka kemukakan dari pemikiran salaf di dalam khazanah peradaban kita. Sebagaimana kita mengajak mereka untuk memahami fiqh realitas daripada lari dari realitas, lari dari realitas menuju masa lalu yang amat jauh. Sebagaimana kita juga mengajak mereka untuk memprodak hukum-hukum agar bisa memberikan solusi bagi realitas yang kita alami sekarang ini.

Kita katakan kepada mereka: Apakah kalian telah membaca dan merenungkan  ketika  Allamah Ibnu Taimiyah lebih mengedepankan realitas daripada hukum?

Beliau berkata:

“Ada dua jenis fikih yang harus dipahami oleh seorang hakim: 1) fikih tentang peristiwa-peristiwa umum. 2) fikih realitas dan kondisi manusia. Kemudia seorang hakim menyesuaikan  antara yang pertama degan yang kedua, hingga ia memberikan hukum wajib bagi realitas tersebut, namun tidak menjadikan yang wajib bertentangan dengan realitas.

 

Maka seorang mufti, hakim, alim: mereka adalah orang yang dengan pengetahuan dan pemahamannya tentang realitas mampu berhubungan dengan pengetahuan tentang hikmah Allah dan Rasul-Nya. Dan sesungguhnya fatwa dan hukumlah yang berubah seiring dengan perubahan realitas dan maslahat, bukan sebaliknya,”

Kita juga mengajak orang-orang yang berafiliasi ke Salafiyyah, yang mana mereka telah membenturkan antara rasio dengan teks—agar mereka membaca kembali warisan ilmiyah filosof dan kebanggaan Salafiyyah, Syekh Islam Ibnu taimiyyah yang telah menegaskan akan mustahilnya teks yang benar bertentangan dengan rasio yang jelas.

Beliau berkata:

“Apa yang diketahui dengan rasio yang jelas tidak mungkin akan dipertentangkan oleh teks yang benar. Saya sudah mengkajinya dalam masalah-masalah pokok, seperti permasalahan tauhid, sifat, qodar, kenabian, kebangkitan, dan lain sebagainya, dan saya menemukan bahwa apa yang diketahui  dengan rasio yang jelas, sama sekali tidak akan dipertentangkan oleh teks/wahyu, bahkan teks yang dikatakan mempertentangkannya, bisa jad itu hadits maudhu’ (hadits palsu), atau dalil/penunjukan yang lemah, maka ia tidak bisa dijadikan sebagai dalil.

Sebagaimana saya juga menemukan bahwa apa  yang bertentangan dengan teks yang benar, ia adalah syubhat yang batil, yang bisa diketahui akal kebatilannya.”

Artinya Ibnu Taimiyyah berdalil dengan rasio atas kebenaran suatu teks atau ketidakbenarnya, sebagaimana ia telah memastikan bahwa teks yang benar tidak akan bertentangan dengan rasio yang jelas, bukan karena para Rasul tidak memberitahukan tentang wilayah-wilayah akal, akan tetapi perkara itu diperbolehkan  akal.

Mereka—uama salaf dulu– bangkit untuk menyempurnakan fitroh, bukan untuk merubanya. Di sana ada kesesuaian antara dalil Al Quran dengan dalil akal. Kalau ada pertentanga antara rasio dan teks, ia mengambil yang lebih qoth’I dari keduanya—baik dari rasio ataupun teks—kemudian meninggalkan yang dzonni dari keduanya—dari rasio atau teks—maka yang lebih didahulukan adalah dalil yang qoth’i, tanpa perlu memperhatikan jenisnya. Dan yang diakhirkan adalah dail dzonni, tanpa perlu memperhatikan jenisnya juga.”

Apakah para penyeru dakwah Salafiyah membaca ‘timbangan’ ini, yang mana dengannya Syekh Islam Ibnu Taimiyyah menimbang hubungan antara rasio dan teks? Apakah mereka juga membaca pernyataan Ibnu Taimiyyah tentang kesepakatan jumhur fuqoha umat Islam dan ulamanya yang menjadikan akal sebagai perangkat untuk mengetahui baik buruknya sesuatu—yang mana para da’I Salafiyyah menggap hal itu pendapat Mutazilah semata?

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“ Mayoritas sekte yang menguatkan bolehnya menimbang baik dan buruknya sesuatu dengan akal, yang demikian adalah pendapat Abu Hanifah, dan mayoritas ulama  Malikiyyah, Syafiiyyah, Hanabilah, Ahlil Hadits, bahkan mereka menyebutkan bahwa pendapat menafikan baik buruknya sesuatu secara akal adalah termasuk bid’ah dalam ajaran Islam, dan tidak pernah dikatakan oleh  seorangpun dari kalangan salaf dan para ulamanya. Akal cenderung mencintai dan menikmati kebenaran. Dan keindahan itu adalah sesuatu yang baik, dan sesuatu yang buruk adalah kebalikannya. Dan dengan membedakan antara yang baik dan buruk orang yang berakal menjadi lebh utama.

Demikianlah bagamana Filosof Salafiyyah Syekh Islam Ibnu Taimiyyah menyabut benang pertentangan antara teks yang benar dengan rasio yang jelas, sebagaimana ia bersama jumhur ulama dan fuqoha telah menetapkan bahwa akal adalah perangkat yang digunakan dalam menentukan baik-buruknya sesuatu.

Kalau disekitar kita ada kaum salaf yang fanatic terhadap Ibnu  Taimiyyah menyerang Ibnu Rusydi, dan juga ada kaum sekularis yang fanatic terhadap Ibnu Rusydi menyerang Ibnu Taimiyyah, maka sebagian teks filsafat yang kita sajikan ini  adalah teks Ibnu Taimiyyah. Kalau kita membandingkannya dengan perkataan Ibnu Rusydi:

“Sesungguhnya dalil logika  tidak bertentangan dengan apa yang terdapat pada syariat, karena yang haq tidak bertentangan dengan yang haq, akan tetapi menyepakatinya dan men membenarkannya. Dan Filsafat adalah temannya Sayariat, bahkan saudara sesusunya, dan keduanya saling bersanding secara lahiriah, dan saling mencintai secara esensi dan insting.”

Kalau kita membaca perkataan Ibnu rusydi di atas, dan memahaminya, maka musibah kita (umat Islam) yang terjadi dikalangan kaum salaf tidak lebih kecil dari musibah kita yang terjadi di kalangan kaum sekular.

Sumber: Arabi21

Alih Bahasa: Nurfarid

70

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *