Home Kajian Fakultatif Imam Ghazali dan Tahafutul Falasifah
Imam Ghazali dan Tahafutul Falasifah

Imam Ghazali dan Tahafutul Falasifah

54
0

Kairo, PENAPEMBAHARU.COM — Selasa 28 Maret 2017, IIIT (Internasional Institute of Islamic Thought) Cabang Kairo menggelar bedah buku Tahafutul Falasifah karya Imam Al Ghazali. Hadir sebagai pembedah Prof. Dr. Abdul Hamid Madkur, seorang pemikir, akademisi, penulis, pakar Filsafat Islam, dan dosen di Daarul Ulum, Universitas Kairo.

Dalam acara yang berlangsung di Ruwaq Makrifah, IIIT Kairo ini, Prof. Dr. Abdul Hamid Madkur menyampaikan kajiannya terkait Imam Ghazali dan Tahafut Falasifah. Beberapa pandangannya penulis rangkum dalam poin-poin berikut:

1. Imam Ghazali sebagai ulama yang pakar di dalam berbagai bidang keilmuan Islam, Fiqh, Ushul Fiqh, Kalam, Filsafat, Mantiq, Akhlaq dan Tashawwuf.

2. Dalam mencari kebenaran, Imam Ghazali senantiasa membangun dan hanya menerima dalil yang bersifat yaqin.

3. Ghozali tidak mengingkari filsafat secara mutlak, namun hanya yang terkait dengan bab ilahiyat semata. Beliau membagi filsafat ke dalam enam cabang ilmu; ilmu logika, ilmu alam, matematika, akhlak, politik, dan ilahiyat. Sebagaimana juga beliau membaginya ke dalam a) masalah-masalah yang boleh diterima, dan b) masalah-masalah yang tidak boleh diterima.

Dengan demikian sikap Imam Ghazali terhadap filsafat –dalam pandangan Prof. Dr. Abdul hamid Madkur—sangat munsif (bijak).

4. Motif yang mendorong Imam Ghazali dalam menulis bukunya Tahafut Falasifah, diantaranya adalah; a) Munculnya para cendikia yang menganggap dirinya memeliki kemampuan yang lebih dalam berfikir, mereka menolak ibadah-ibadah Islam, menghinakan syiar-syiarnya, merendahkan ajaran-ajarannya, menyebarnya bidah dan kekafiran..dst. b) Penyebab kekafiran mereka adalah karena mereka banyak mendengar dan mengikuti pemikiran Socrates, Plato, Aristhoteles, dan para filosof Yunani lainnya—tanpa mengkaji lebih dalam mana yang baik yang harus diterima dan mana yang buruk dan harus ditolak, c) belum ada dari para ulama sebelum Ghazali membantah pemikiran para filosof dengan bantahan yang ilmiyah dan mendalam.

Maka dalam pandangan Dr. Abdul Hamid Madkur Imam Ghazali memiliki motif baik dalam membantah pemikiran filsafat untuk membentengi akidah umat dari pemahaman yang sesat dan menjaga Peradaban Islam dari pemahaman-pemahaman peradaban luar yang merusak.

5. Metode yang digunakan Imam Ghazali di dalam kitab Tahafut diantaranya; a) Pemikiran Filsafat yang ingin dibantahnya adalah filsafat Aristoteles sebagaimana yang disampaikan oleh Al Farabi dan Ibnu Sina, b) Beliau menggunakan premis-premis yang bersifat yaqini dan tidak diragukan lagi, sebagaimana beliau juga menggunakan premis-premis yang dibangun Mu’tazilah dan Karomiyah dalam membantah pemikiran para filosof, c) Dalam membantah pemikiran para filosof beliau memposisikan diri sebagai seorang pengingkar yang mengingkari dan mendustakan pemikiran mereka.

6. Imam Ghazali membagi 20 masalah filsafat yang ingin dibantahnya ke dalam 2 bagian; pertama, bagian yang melazimkan pentakfiran yang mencakup 3 masalah. kedua, bagian yang melazimkan pembid’ahan yang mencakup 17 masalah.

7. 3 masalah yang membuat kafirnya para filosof adalah (1) Qidam dan azalinya Alam, (2) Allah SWT tidak mengetahui perkar juz’i, dan hanya mengetahui perkara kulli,(3) Kebangkitan akan terjadi hanya bersifat ruh semata, sebagaimana kenikmatan dan siksaan hanya bersifat ruh semata.

8. Prof. Dr. Abdul Hamid Madkur memberikan catatan negative atas vonis kafir yang dilontarkan Ghazali terhadap para Filosof. Beliau mengatakan bahwa para filosof Islam tidak bisa dikafirkan karena masih mengakui prinsip asasi dalam tiga masalah di atas.

Dalam masalah qidamul alam wa azaliyatuh para filosof memandang bahwa walaupun alam itu qodim (qidam zamani) namun masih memerlukan pada pencipta. Sedangkan dalam masalah Ilmu Allah, para Filosof Islam tidak mengatakan bahwa Allah hanya mengetahui perkara juz’i sebagaimana yang diklaim Ghazali namun mereka mengatakan Allah mengetahui perkara juz’I melalui ilmu kulli/ilmu qodim. Adapun terkait masalah kebangkitan ruhani, Ibnu Sina hanya menyatakan bahwa ada dua bentuk kebangkitan manusia setelah mati, kebangkitan ruh saja, dan kebangkitan ruh beserta jasad. Menurut beliau tingkatan paling tinggi dari kebangkitan dan kehidupan akhirat (kenikmatan atau siksaan) adalah kebangkitan ruh bukan jasad. Walau dalam Risalah Udhawiyyah Ibnu Sina hampir menyatakan bahwa kebangkitan hanya bersifat ruh saja, namun dalam buku lainnya beliau masih mengakui prinsip kebangkitan menurut syar’I, walaupun menurut tinjauan logika tidak bisa dibenarkan.

Oleh karena itu menurut Prof. Dr. Abdul Hamid Madkur para filosof Islam tidak bisa dikatakan kafir, meski salah dalam berijitihad.

9. Prof. Dr. Abdul Hamid menyatakan bahwa vonis takfir Ghazali terhadap para filosof Islam yang diputuskan di dalam Tahafut, sangat bertentangan dengan manhaj beliau sendiri dalam kitabnya “faisholut Tafriqoh..” yang di dalamnya sangat tegas beliau menyeru umat Islam untuk menghindari dan menjauhi takfir.

Secara umum, dalam bedah buku Tahafutul Falasifah ini, Prof. Dr. Abdul Hamid Madkur berusaha untuk sebijak mungkin dalam menilai Imam Ghazali–sebagai seorang ulama, pakar, dan pencari kebenaran—terkait pandangnnya terhadap filsafat dan para filosof Islam. Bahkan beliau menolak pandangan orang-orang yang menyatakan bahwa Ghazali sebagai penyebab kemunduran dan kejumudan pemikiran Islam.

Prof. Dr. Abdul Hamid juga menyampaikan beberapa kritikannya terhadap Ghazali seperti tentang masalah takfirnya terhadap para filosof, dan luputnya pandangan Ghazali terhadap Al Kindi yang juga merupakan seorang filosof muslim. Akan tetapi kritikan beliau terhadap Ghazali tidak sepedas kritikan Prof. Dr. Sulaiman Dunya, Prof. Dr. Abdul Mu’thi Bayumi, dan para pakar lainnya.

Ada beberapa kritikan pedas yang dilontarkan oleh kedua pemikir di atas– yang dilewatkan oleh Prof Dr. Abdul Hamid Madkur–terhadap Imam Ghazali dan Tahafut Tahafut:

1) Riwayat hidup Imam Ghazali terbagi kedalam tiga fase; a) fase sebelum ragu, b) fase keraguan, c) fase hidayah dan petunjuk. Tahafut falasifah adalah buku yang ditulis pada fase keraguan.
2) Imam Ghazali sendiri mengakui dalam “Al Munqidz” bahwa pada fase keraguan –fase dimana beliau menulis kitab Tahafut–beliau mengajar dan menulis bukan untuk mencari kebenaran namun untuk mencari kedudukan dan ketenaran.
3) Kerena Tahafut ditulis pada fase keraguan maka kita tidak bisa menjadikan buku Tahafut Falasifah sebagai rujukan yang menampilkan pandangan Ghazali terhadap masalah-masalah filsafat.

Setelah kuliah umum, penulis bertanya kepada Prof. Dr. Abdul Hamid terkait kritikan Prof. Dr. Sulaiman Dunya di atas, beliau hanya menyampaikan bahwa apa yang disampaikan oleh Sulaiman Dunya adalah pernyataan Ghazali setelah masa Fitnah, bukan dalam penulisan Tahafut. Jawaban ini tentu tidak memuaskan, karena maklum diketahui bahwa Al Munqidz lebih akhir daripada Tahafut.

Wallahu ‘Alam bishowwab.

54

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Hingga sekarang sedang menempuh Program Master di American Open University Cairo, Egypt. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *