Home Dunia Pemikiran Analisa Film Pendek yang Merusak Tujuan “Unity in Diversity”
Film Pendek yang Merusak Tujuan “Unity in Diversity”

Film Pendek yang Merusak Tujuan “Unity in Diversity”

92
0

Belakangan ini sosial media diramaikan dengan hashtag #PolriProvokatorSara. Awalnya cukup mengagetkan, karena sebelumnya saya memuji kinerja polisi secara perorangan atau institusi dalam menangani Hari Raya Idul Fitri 1438 H dari H-7 sampai H+7, lalu menulis sebuah artikel dengan judul “Polisi itu Baik”. Setelahnya belum ada perbincangan hangat di sosmed atau berita TV.

Dalam “Police Movie Festival” kategori film pendek terdapat satu film yang menjadi nominator berjudul “Kau Adalah Aku yang Lain”. Bahkan dikabarkan video ini menjadi juara 1 kategori film pendek. Dengan mengusung tema “Unity in Diversity” Polri ingin menegaskan bahwa persatuan bisa diraih dengan keragaman, kekeluargaan, kerja sama dan gotong royong tanpa memandang suku, ras dan agama.

Hanya yang kita lihat dalam film pendek yang berjudul “Kau adalah Aku yang Lain” justru cenderung menyudutkan umat Islam. Gambaran tentang persatuan dalam sebuah keragaman yang ingin diperlihatkan polri justru berbalik menjadi tuduhan tanpa dasar. Dengan menempatkan sekumpulan orang yang mengikuti pengajian lalu menghalangi mobil ambulance yang membawa orang sekarat lalu ditengahi oleh polisi cenderung menempatkan umat Islam yang Intoleran. Di sisi lain film ini menempatkan non-muslim sebagai sosok yang selalu tertindas dan polisi sebagai pahlawan.

Sebuah film pendek karya Anto Galon ini jelas menjadi provokator di tengah kedamaian umat Islam pasca hari raya Idul Fitri. Pasca Divisi Humas Polri mengupload di laman facebooknya, film ini menuai banyak kecaman dari netizen. Namun, yang  disayangkan adalah pihak polri (atau juri) yang memutuskan film ini sebagai nominasi atau juara. Padahal jelas film ini bernuansa sepihak, dengan menyudutkan sebagian kelompok sebagai pihak yang intoleran di Indonesia.

Di tengah ragam ujian dan fitnah yang ditujukan kepada Islam, umat Islam sudah membuktikan diri sebagai umat yang penuh dengan rasa toleransi dan saling menghormati. Mulai dari Aksi Bela Islam 1 hingga aksi-aksi lainnya menyusul mereka membuktikan bahwa Islam adalah agama yang santun menerima keragaman dan hormat dengan perbedaan suku, ras dan agama. Dan film pendek ini telah merubah ketenangan ini menjadi kerusuhan dan kenyamanan menjadi kegundahan.

Melalui akun pribadinya, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah @Dahnilanzar mengatakan “Kami aktif menggambarkan Muslim yang damai dan mendamaikan di Indonesia. Eh kepolisian justru menyampaikan wajah muslim yang bodoh via video itu,”tegasnya, Selasa (27/6/17). Hampir seluruh umat Islam coba membuktikan Islam yang rahmatan lil’alamin. Dalam berbagai even umat Islam telah menghadirkan dirinya sebagi umat yang rukun beragama, saling menghormati dan tidak anti Bhinneka, NKRI. Sedangkan film pendek hadir dan begitu saja merusak tatanan yang sudah dibentuk.

Umat Islam yang intoleran dan non muslim yang jadi korban adalah strategy playing victim yang sejak lama digunakan untuk meruntuhkan popularitas Islam. Saking seringnya masyarakat menjadi fast respon ketika dihadapkan dengan hal-hal seperti  ini. Baiknya, umat Islam mejadi peka ketika titik fundamental Islam coba disentuh atau dirusak. Dan Islam akan kembali kuat dan tidak bisa diremehkan begitu saja.

Mestinya dalam lomba seperti ini Anto Gulan tidak membuat film yang diluar fakta. Karena sejatinya fakta-fakta intoleran itu sudah jelas di mata masyarakat. Begitu juga polisi sebagai penyelenggara, seharusnya tidak meloloskan participant yang karyanya justru melukai mayoritas masyarakat Indonesia. Bukannya sampai kepada tujuan yang diinginkan,  justru melumpuhkan kerukunan yang sudah terjalin dan tujuannya sendiri “unity in diversity”.

Niat baik polisi justru ternodai oleh tatanan sistem mereka sendiri. Sangat disayangkan memang film pendek ini bisa lolos dari juri dan tersebar kepada para netizen. Sehingga memanggil kembali kerusuhan di media khususnya. Di sisi lain, umat Islam kembali menunjukan bahwa dirinya tidak akan membiarkan begitu saja ketika agamanya dinodai segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan tetap menjaga sikap dalam menyelesaikannya.

Wallahua’lam bisshowab.

92

Azhar Fakhru Rijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : FLP Jakarta Kammi Djuanda Garuda Keadilan Tasikmalaya

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *