Home Filosofi Saudara Beda Bendera
Saudara Beda Bendera

Saudara Beda Bendera

21
0

“kak sadar !! sadar kak ini Rouf.. !!!”

Rouf ditindih dengan pistol kaliber menempel di dahinya siap memuntah peluru, ia meronta berusaha terlepas dari tindihan itu, kakaknya yang dulu bukanlah semestinya.

ia menangis sejadi-jadinya, bingung dengan apa yang telah merubah kakaknya, ia dekap kakaknya sekencang-kencangnya tak peduli apa yang akan dilakukannya “kak !! ini adek !”, teriaknya, namun telat! pelatuk terlanjur tertarik reflek ” darr !!”, suara keras tembakan memecah belah langit bak halilintar.

                                                                              ****************

terik yang menyengat di penghujung musim dingin, kelas telah usai, Rouf berbenah buku pelajaran, kemudian beranjak meninggalkan sekolah untuk pulang

” koran …. koran …..koran koran….. “, di perjalanan melintas pria paruh baya berbadan tegap berteriak- teriak menjajakan jualanya

Rouf berlari kecil jingkrak girang di depanya sambil senyum- senyum meledek ” korannya bang ….korannya…korannya kasian nih orang koranya belum laku-laku dari pagi “

“sial nih anak….ngeselin ..sini kalo berani …. eh tunggu jangan lari “

Rouf berlari tertawa dikejar oleh kakaknya yang membuntuti bersambut tawa pula, begitulah kehidupan mereka canda tawa selalu terlukis dalam kesehariaan tak ada sedih apalagi gundah gulana, keakraban selalu tercipta, bagaimanapun kondisinya, Rouf yang terkadang mengeluh selalu larut oleh perlakuaan kakaknya yang selalu punya seribu cara mengubah sedih menjadi tawa

” Kak … “,“iya ada apa Dek?”, sambil mengelus lembut kepalanya, mereka berdua selalu menutup hari dengan berbaring di bukit dekat rumah mereka memandang surya memerah yang sedikit demi sedikit ditelan oleh gulita

 ” kak “, wajah kakaknya mulai naik pitam walau bercanda “nggak cuman mau manggil doang “, canda Rouf bersambut tawa.

” iya ada apa dek… tuh kan mulai gak jelas … pulang lah yuk dah gelap “, ajak kakaknya bangkit.

“Kak….Kak Samir janji kan mau  …. kapan pun di mana pun dan bagaimana pun kondisinya”, mendengar hal itu Kakaknya merekah senyum kemudian menyentuh ubunnya ” iya kakak janji “

Harmoni indah  keluarga menengah ke bawah, Rouf adik yang sangat menyayangi dan mengagumi kakaknya, bagaimana tidak, semenjak ayahnya meninggal kakaknya sudah menjadi tulang punggung keluarga, ialah yang membiayainya untuk melanjutkan sekolah, ialah yang membayar sewa rumah, dan ia pula yang merawat ibunya yang telah renta, baginya kakaknya adalah segalanya, sosok yang tak tergantikan, iri, itulah yang terkadang yang dirasakan Rouf menafikan kemampuan diri padahal ia masih bujang dan satu-satunya yang mengeyam pendidikan.

Pelataran rumah masih ramai oleh tetangga yang membersamai ibu mereka berkumpul bercengkrama, padahal gelap telah bersambut tak juga mereka cabut, begitulah ibu-ibu, di mana pun itu, selalu punya aturan khas tersendiri dalam membangun interaksi, bukan merupakan aturan tertulis, namun sudah menjadi norma yang apabila tak terlaksana akan menjadi sebuah kecacatan social.

Mereka datang nampaknya membuat gairah bicara sirna, Rouf menyikut pelan kakanya sambil bergumam “tuh kan kak,… ngeganggu kan”, suasana canggung tercipta, mau bagaimana lagi memang harus seperti itu, para Ibu bubar kembali ke atap masing- masing.

“Rouf …. Samir… yuk masuk ibu dah siapkan makan malam tuh …ayo kita makan bareng “, ajak ibu menuntun.

di meja makan hidangan sederhana namun menggiurkan terhampar di depan mata, harmoni keluarga tercipta, namun  tiba- tiba kak Samir nyeletuk sebelum gagang sendok terangkat, suasana berubah  menjadi tegang, matanya tajam dan alisnya tertekuk, nampaknya ia marah.

“ibu kan Samir udah bilang jangan berhubungan dengan para Penjajah laknat itu! Ini semua dari mereka kan!? … serahkan semuanya sama Samir …. Percayalah sama Samir bu ..“, erangnya kecewa

“ yah mau bagaimana lagi … ibu terkadang merasa gagal nak …. Lagian bolehkan ibu bantu kak Samir …. Buat nambah- nambahin “

Seketika suasana menjadi haru, Rouf tak kuat, sendok meluncur dari tangannya terjatuh … ia hampiri ibunya kemudiaaan memeluknya, Samir yang juga menyaksikan ikut terharu namun ia tak bisa menampakanya, itu semua karena wibawa, ialah representasi ayahnya, malam itu cinta mereka semakin rekah tak peduli dengan  kondisi menghimpit yang membuat menjerit.

“ kak Samir, bagaimana pun kamu harus berjanji pada ibu untuk selalu mejaga adikmu “

“ baik bu …. Kakak janji untuk selalu jaga Rouf  “

Dalam peluk, Rouf nyeletuk “bisa kita makan sekarang? “, suasana seketika menjadi ceria kembali, kesedihan sirna terbitlah suka.

                                                                             ****************

Mesir 1973, pesawat tempur berseliwiran , desing peluru bersahutan, rudal tempur menghujan, pasukan beseragam loreng menyisir perumahan, Anwar Sadat dari TV hitam putih berdiri tegak mengepal tangan di atas mimbar menyuarakan pengumuman mencengangkan, perang melawan Israel yang sejak dulu telah mencengkram rongga kehidupan rakyat.

“ Evakuasi …. Evakuasi……evakuasi ….. seluruh penghuni wilayah ini segera megemas barang …. Bawa yang perlu, tinggalkan yang tak berguna …… “ , teriak salah seorang pria legam dengan baju loreng berbenderakan Republik Arab Mesir di sakunya.

Seketika Rouf dan ibunya panik bukan kepalang bagaimana mungkin mereka dapat meninggalkan tempat kelahiran mereka, dengan segala kenangan yang hinggap di kepala rasanya tak sanggup, ibunya tersungkur menyerah ia teringat dengan suaminya yang telah lama pergi

 “seandainya ada ayah di sini “, gumamnya.

Kemudiaan Samir memegang pundak ibunya menenangkan, dari wajahnya nampak pula keengganan namun mau bagaimana lagi, zona itu telah ditandai sebagai zona merah yang tidak lama lagi akan disisir Israel. Keputusan diambil tanpa panjang pikir, suasana semakin genting dengan tekanan orang-orang berbaju loreng di sekeliling mereka,  yang menggiring paksa mereka, akhirnya mereka tak punya pilihan

Di stasiun kereta pukul setengah dua, duduk Rouf dan ibunya menunggu lanjutan arahan evakuasi, kakaknya masih berdiri sambil sesekali berputar, wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran, Rouf melihat wajah ibunya pucat pasi, “ibu …. biar Rouf belikan minum ya“, tawarnya.

Tiba-tiba Samir menyela saat adiknya bangkit “biar kakak saja….kamu tunggu saja di sini jaga ibu “,perintahnya, Rouf hanya geleng-geleng, begitulah sikap kakaknya yang mudah terbaca kalau sudah urusan keluarga, ia selalu menjadi yang terpeduli, Samir beranjak pergi mencari warung terdekat di stasiun yang ramai pula oleh pengungsi yang juga korban dari upaya evakuasi.

Sambil menunggu kakaknya kembali Rouf mendekap ibunya menenangkan sambil bergumam kecil “ semua akan baik-baik saja bu…kakak akan selalu menjaga kita “ ungkapnya berusaha meminimalisir ketegangan.

“pengumuman..pengumuman… untuk siapa saja yang berumur antara delapan belas sampai dua puluh lima di harap segera berkumpul ke sumber suara “, Rouf yang mendengar pengumuman itu sedikit kaget, nampaknya ia tidak dapat memenuhi panggilan itu karena harus menjaga ibunya lagi pula kakaknya belum kembali, ia urung untuk memenuhi panggilan.

Namun tiba-tiba dari hadapan mereka berjalan salah seorang berbaju loreng menghampiri, ia bertanya pada Rouf tentang umurnya, kemudian ia menjawab terus terang “umurku sembilan belas“, jawabnya tenang sambil memegang erat tangan ibunya. Langsung saja tentara itu menariknya kasar membuat Rouf melepaskan pegangan bersama ibunya, ibunya yang melihat hal itu tentu meronta berusaha membuat tentara itu melepaskan tarikannya terhadap Rouf, namun apalah daya,” tenang bu mereka cuman mau menanyakan identitas saja sepertinya….ibu tunggu saja di sini ….tunggu kakak “, teriaknya

Waktu berlalu cukup lama sementara ibunya khawatir terhadap Rouf, akhirnya Samir kembali, wajahnya aneh memandang ibunya yang hanya sendiri  “ Rouf bu …?”

“ tadi ia dipanggil oleh militer … nggak tau ada apa …. Tapi dari tadi ia belum kembali “, jelas Ibu diliputi kekhawatiran

Samir langsung khawatir… tak panjang pikir ia segera ambil sikap, ia titipkan ibunya kepada tetangga yang duduk di sebelahnya, ia langkahkan kaki mencari posisi adiknya, di kantor ia gebrak pintu, matanya menatap menjelajah memeriksa kebaradaan adiknya, sepertinya tak ketemu juga, tiba –tiba dari jendela salah satu gerbong terdengar teriakkan “kak ….kak Samir … di sini kak!!”, Samir berlari menghampiri kereta yang nampaknya akan segera berangkat itu, ia meloncat masuk ke dalam, ia berlari menerjang beberapa tentara yang coba menghalangi, saat membuka pintu alangkah kagetnya ia melihat sejauh mata memandang orang-orang berbaju putih dengan tangan memegang bendera mungil Mesir meriakan yel-yel “ hidup Mesir….Hidup Mesir… hancurkan Israel…”nampaknya ia mulai sadar, tidak salah lagi itu adalah kumpulan orang-orang yang menjadi sukarelawan, tak peduli dengan yang dilihat, dengan serta merta ia langsung mencari keberadaan adiknya, dari kejauhan terlihat lambaian tangan, tidak salah lagi itu adalah Rouf, dengan sekuat tenaga ia berlari menyusuri gerbong, “apa yang kau lakukan di sini!? ayo kita keluar ibu sudah menunggu”, baru saja mereka berjalan beberapa langkah, namun terlambat sudah, di hadapan mereka telah berdiri sosok lelaki dengan pangkat melekat di pundaknya menahan mereka.

“ kalian tidak bisa keluar dari sini….kallian telah terpilih “,ungkap lelaki itu

Tentu saja Samir langsung berontak “ apa kalian bercanda??! “, katanya, menghardik lelaki yang berdiri di hadapan mereka “permisi kami akan keluar …. Ibu kami menunggu di luar “, kata Samir menegaskan kembali.

Lelaki tinggi itu tetap pada pendiriaanya ia suruh beberapa tentara di belakangnya untuk membekuk Samir dan Rouf, Samir masih meronta bahkan ia sempat memukul lelaki itu beberapa kali, namun perlawanan terhenti saat pukulan bertubi-tubi balas melayang padanya, akhirnya ia menyerah, mereka berdua ikut menjadi sukarelawan bela negara melawan Israel, kereta mulai berjalan namun tiba- tiba dari luar terdengar teriakkan ibu memanggil nama mereka “ Rouf … Samir…Rouf….Samir “, Rouf  menoleh ke luar jendela mencari sumber suara…ternyata benar itu adalah ibu…ia menangis sambil berlari mengimbangi laju kereta, ia tak karuaan melihat anaknya hilang pergi darinya.

“ ibu ….maafkan Rouf bu …..Rouf dan kakak akan kembali segera… ibu pergi saja ke rumah bibi nanti kami akan menyusul”, teriak Rouf dibarengi tangis

Lain dengan kakaknya yang hanya menangis, dalam duduknya ia tertunduk merasa bersalah terhadap Rouf dan ibunya, ia tak sanggup mengutarakan sesuatu pun di hadapan ibunya, rasa bersalah yang menghantuinya membuatnya urung untuk berkata- kata.

Kini kematiaan atau kehidupan menjadi dua hal yang paling dekat di hadapan mereka, keputusan itu memberi kemungkinan –kemungkinan yang tak dapat dipastikan, apakah mereka berdua akan kembali, apakah hanya Rouf yang akan kembali, atau Samir, atau…tidak kedua-duanya. Siapa yang tahu.

                                                                                 ****************

Samir berlari menuju pusat kendali, didatangi olehnya komandan tertinggi, dengan gerakan serba kemiliteran ia begitu hati-hati bersikap, ia ingin mengutarakan sesuatu yang penting kepadanya “Pak mohon maaf … saya Samir…. Saya sudah sebulan bergabung ….saya ingin meminta bantuan bapak untuk memulangkan adik saya Rouf untuk menjaga Ibu saya ….karena ibu saya kebetulan sendiri …..”, terangnya meminta pengertian.

“ oh tidak bisa nak …. bukan demi keluarga …. Ini demi negara, bisa saja kami memulangkanya tapi kecintaan kalian terhadap Republik Arab Mesir sepertinya dipertanyakan… jangan salah banyak orang macam kalian yang jauh lebih buruk lagi kondisinya…..tapi tunggu dulu ada satu !!”, kemudiaan dengan serius Samir mendengarkan penjelasan komandan itu.

“ bagaimana kau setuju ? “, tanya Komandan itu setelah panjang lebar menjelaskan, kemudian Samir dengan serta merta langsung menyanggupi, baginya keselamatan Rouf adalah yang mesti diprioritaskan.

Baru beberapa langkah menjauh dari pos, ia pijak tegak tanah memandang tajam langit, matanya terpana  melihat rudal mengarah ke camp, rudal itu melintas cepat dan ….. “duarrrr!!” Ledakan kuat itu membuat pasukan yang sedang istirahat kocar-kacir panik ternyata dari balik tebing telah bersiap bala tentara Israel dengan agresinya.

“ Pasukan siap !!!”, Komandan berteriak memberi komando, pasukan langsung siap siaga, reflek strategi langsung dimuat, baku tembak terjadi …. Perang panas berkecamuk, bom bersliwiran meledak- ledak memisahkan anggota tubuh, senjata mesin Maxim 1886 menghancurkan badan sampai tak berbentuk, Israel mundur, serangan aktif mereka gagal, tak bisa dipungkiri persenjataan Mesir memang sangat kuantitatif dengan sokongan soviet di belakang. Mesir bersorak-sorai, kembali mereka memenangkan baku serang.

Samir panik mencari adiknya, memeriksa setiap tenda, membukanya satu persatu, inilah yang membuatnya khawatir, dipandangi olehnya orang- orang yang terluka akibat agresi tadi, bahkan banyak yang meregang nyawa membuatnya semakin khawatir, tiba di sebuah tenda di mana orang- orang banyak berkumpul, mereka menangis .. ternyata salah seorang sahabat mereka yang juga senior telah mati dengan badan gosong terkena bom.

Dihampiri lah oleh Samir kerumunan itu dan tanpa disangka- sangka di seberang kerumunan ternyata ada Rouf “ Rouf..!”, Samir berteriak menghampiri.

“ tenang….kamu akan segera pulang….tenang kakak akan memulangkanmu “

“tidak!!…..kita akan pulang bersama”, jawab Rouf dalam dekapan Samir.

Hari berjalan … bulan berganti …. Perang masih berkecamuk, namun ada yang aneh selama sebulan terakhir, Rouf menangkap sesuatu yang aneh dari sikap kakaknya, Samir belakangan ini semakin glagat menjadi sukarelawan menjalankan misi-misi berbahaya … ia tak tahu apa yang terjadi padanya sampai berlaku demikian … ia takut kakaknya semakin berambisi berperang sedang tak dapat pulang bersamanya.

“Kak kenapa kakak belakangan ini mau menjalankan misi- misi berbahaya?!”

“ini demi kamu ….”,ungkapnya, “ tidak kak…. Kalau demi aku ….. maka kakak harus berhenti melakukan itu …kita harus pulang!!  bersama kak!!”

“ tidak …! Pilihannya hanyalah kamu yang pulang atau kakak yang pulang….kita tak bisa pulang bersama….kakak ingin kamu lah yang pulang dek…”

“kenapa kak!!….kenapa !!!?”, Rouf menangis memukul-mukul kecil dada kakaknya, baginya ini adalah sebuah pertanyaan penting yang hinggap di kepalanya menghantui.

                                                                             ******************

Setahun berlalu, Samir telah menjalankan operasi- operasi berbahaya, merangsek mengobrak- ngabrik pos militer, membakar camp, sampai puncaknya adalah serangan heroiknya menangkap hidup- hidup salah seorang perwira militer, dalam sekejap ia menjadi buah bibir Jendral serta petinggi-petinggi militer Mesir bahkan ia dikagum- kagumi oleh rekan- rekan sesamanya. Ucapan selamat menghujaninya.

“ selamat ya Samir….tidak lama lagi kamu akan mendapat medali kehormatan…..selamat ”, ucapan itu terdengar oleh Rouf, seketika wajahnya semakin garang, ia hampiri kakaknya kemudian memukul keras pipinya, kakaknya hanya bisa mengelak dan menahan pukulanya, ia tak tega membalas,

“ kamu akan pulang!…..kakak akan memulangkanmu…”, katanya sambil dihujani pukulan

“ tidak kau pulang saja sendiri…. Aku tak sudi !!!”, teriak Rouf.

 “sebentar lagi kamu akan pulang “, Samir kembali mengulang menegaskan.

Akhirnya Samir didaulat untuk mendapatkan medali penghormatan atas pejuangan heroiknya selama ini, dan dengan hal itu maka dapat dipastikan Rouf dapat dipulangkan, kembali bertemu ibunya.

Sore itu Rouf kembali ke kampung halamannya, di pelataran  ia lihat rumahnya masih seperti dulu tidak banyak berubah, namun yang membedakan adalah adanya lubang- lubang kecil bekas peluru, agresi militer Israel dulu memang betul- betul meninggalkan bekas namun kini kampung halamanya tersebut telah dibebaskan.

Tiba- tiba saja keluar dari pintu sosok perempuan…ternyata itu adalah ibunya..lantas Rouf berlari menghampiri, mereka sangat bahagia dapat bertemu kembali, ibunya sangat bersyukur sekali, namun ibunya sedikit merasa aneh “ di mana Samir!?”, Rouf mengelak dengan menjawab bahwa kakaknya sedang sibuk di pos militer “sebentar lagi ia juga akan kembali .. kakak masih ada urusan bu…kakak sudah jadi orang hebat sekarang…ia adalah pahlawan negeri kita”, jelasnya menenangkan dan menghibur.

Baru beberapa langkah belum sampai di pintu rumah tiba-tiba konvoi polisi berhenti tepat di depan pelataran, seketika mereka berdua kaget! Ada apa gerangan, kemudian dengan menunjukan sebuah surat, salah seorang dari mereka menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk membawa ibu karena diduga ia telah mengabdi pada Israel sejak lama.

Rouf tentu saja berontak! namun apalah daya ia tak bisa melakukan apapun saat sebuah pukulan moncong senapan mengenai pelipisnya, akhirnya ia merelakan ibunya untuk dibawa, kemudian ia terbangun di pangkuan kakaknya, ia menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi, tanpa panjang pikir Samir dan Rouf  langsung mencari ibunya, setelah menyisir perkampungan akhirnya mereka temukan ibunya sedang mengangkat tangan di belakang kepala bersiap untuk dieksekusi.

Samir dan Rouf langsung berontak… mereka lumpuhkan beberapa polisi militer dengan kekuatannya, namun terlambat sudah, baru saja Samir membedirikan ibunya “ibu gak apa-apa kan?” Samir memeluk ibunya, namun tiba-tiba peluru melesat melubangi dada, seketika itu juga Rouf dan Samir histeris, mereka mengamuk! Rouf melumpuhkan salah seorang dari mereka, ia rebut senjata! Ia tembak orang yang membunuh ibunya. Seketika tempat itu ramai oleh polisi yang berusaha membekuk mereka berdua…akhirnya mereka ditangkap dan dipisahkan, Rouf pingsan sedang Samir bercucuran darah dipukuli.

                                                                                **************

Samir tebangun di sebuah ruangan gelap pekat, di hadapanya berdiri komandan militernya sendiri yang memberinya medali, ia memakinya dengan amat sangat.

“ apa yang kau lakukan pahlawan!? …. “, tanya komandan itu menyeringai sambil mencabut medali kehormatan yang berada di bajunya.

“ diam kau bajingan ….. lepaskan aku ….di mana adikku !? “, komandan menunjuk ke luar jendela “ di situlah tempat adikmu”, kata komandan itu sambil memberikan korek gas ke anak buahnya “bakar”, perintahnya dengan muka dingin.

Api berkobar di tempat yang ditunjuk olehnya !!…. Belum lama setelah itu …tiba- tiba sebuah rudal melesat meluluhlantakan tempatnya bersama sang Komandan, Samir memanfaatkan momen itu untuk lepas dari ikatan …ternyata Israel kembali melancarkan serangan, tak ada waktu lagi ia harus menyelamatkan adiknya.

“ serahkan kuncinya…serahkan kuncinya bajingan! ”, teriaknya pada komandan itu,  nampaknya ia sekarat terkena peluru sasar, “tolong aku…”,permintaanya dijawab dengan lesatan peluru, setelah Samir mengambil kunci dari Komandan itu, ia bergegas pergi menghampiri adiknya…namun…terlambat sudah, api telah berkobar tinggi meruntuhkan bangunan, ia menangis sejadi- jadinya amarahnya tumpah ruah terhadap negerinya sendiri, bagaimana tidak, ibu serta adiknya telah direnggut oleh bangsanya sendiri. Ia tersungkur meratap, ia dibawa oleh kumpulan pasukan Israel.

                                                                                   ***************

Pagi yang cerah di mana kicau burung bersahutan satu sama lain membentuk irama, Rouf terjaga di sebuah rumah sakit, badanya masih letih sejak kejadiaan kebakaran itu, namun syukur ia dapat menyelamatkan diri, pikiranya masih melayang memikirkan peristiwa naas yang terjadi dari mulai kematiaan ibunya sampai kondisi kakaknya yang sampai kini belum terdengar.

Saat menyantap sarapan di luar tiba-tiba saja telinganya menangkap sebuah pembicaraan “ kok bisa ya padahal dulu kan dia adalah salah seorang pahlawan kita…aneh ya!?”, di hadapanya banyak orang berkumpul sambil memegang selembaran.

Rouf tidak begitu peduli dengan hal itu sampai salah seorang dari mereka menghampirinya membawa selembaran itu, “boleh saya ikut makan di sini tanyanya”

“ Oh silahkan…”, jawab Rouf

“sudah dengar tentang Samir ??…itu loh salah seorang tentara kebanggaan negara kita”, Rouf hanya tersenyum pura-pura tidak tahu “aneh ya kok dia malah membelot jadi komandan di Israel ya? “, wajah Rouf tiba-tiba berubah serius “ katanya sih itu semenjak kematiaan adik dan ibunya”, jelas orang disebelahnya itu.

Kemudiaan Rouf melihat selembaran itu, ternyata benar itu adalah kakaknya tak disangka- sangka, perasaannya bercampur aduk, ia pahami perasaan kakaknya sebagaimana perasaaanya, memang hancur.

Rouf langsung bangkit meremas selembaran itu, ia buka pakaiaan rawatnya, ia cabut infus di lengannya kemudian beranjak pergi….. ia langkahkan kaki pergi  ke pos militer, dan menawarkan diri untuk menjadi tentara kembali, tentu militer hanya mangut-mangut saja karena bagi mereka ini adalah sebuah keuntungan.

“ pakai seragam tempurmu kita berangkat ke Terusan Suez…. ….. bersiap ….kita langsung bertempur !…melawan kakakmu ”, Rouf memakai kembali baju lorengnya setelah sekian lama terbaring, baginya ini adalah kesempatan emas untuk menemui kakaknya, karena ia paham bahwa kakaknya berontak  karena tak mengetahui bahwa ia masih hidup.

Kepergian Konvoi itu diringi dengan penghormatan rakyat di sepanjang jalan yang mengibar-ngibarkan bendera kecil Mesir “ hidup Mesir …. Hidup Mesir…hidup Mesir “, tentara yang meyaksikan itu turut gembira dan bertambah semangat.

Perang berkecamuk !! Mesir mencoba merangsek menyerang, seluruh pasukan dikerahkan, pesawat termpur berseliwiran, tank-tank Mesir meluluhlantakan pos pusat, Mesir menatap kemenangan!

Bagi Rouf perang, menang dan pulang bukanlah lagi yang ia tuju…yang ada hanyalah satu! bertemu kakaknya, “ Rouf mundur …..!!” teriak salah seorang komandan, namun Rouf tak menghiraukan ia berlari menerobos pasukan Israel, peluru meluncur mengarah padanya namun…meleset…bom berseliwiran namun ia masih dapat menghindar… “ duarr “ !! kali ini tidak, granat meledak tepat di sebelahnya, pandanganya kabur, pendengaranya terganggu, ia terkapar, tak sanggup rasanya berdiri tubuhnya terkulai lemah matanya terpejam, “ serang… habisi para keparat itu !!”, terdengar olehnya suara yang tak asing didengar tak salah lagi itu adalah kakaknya, tanganya mengepal gumpalan pasir dengan sekuat tenaga ia kembali bangkit, dari belakangnya nampaknya pasukan Mesir kembali melancarkan serangan.

“ Samir….Samir….!!” teriak Rouf dari jauh melihatnya, ia daki bukit itu dengan sekuat tenaga, diterjangnya beberapa pasukan, ia lucuti senjatanya, tibalah ia di hadapan kakaknya “kak ini ….aku Rouf.. !”, kakaknya bermuka dingin tak hirau, ia arahkan moncong senjatanya kepada adiknya, namun Rouf sigap ia pukul kencang pelipis kakaknya, senjata terlepas dari tangannya, Samir kembali balas menghajar, Rouf bingung apa yang telah terjadi pada kakaknya, kenapa ia tak sadar! Mereka saling memukul layaknya musuh, seragam mereka yang dulu sama kini telah berbeda itulah yang mungkin membuat kakaknya buta, posisi Rouf terjepit, terhimpit ditindih oleh kakaknya, ia putus asa, ia bingung memikirkan cara apa untuk menyadarkan kakaknya.

Rouf menangis sejadi-jadinya, bingung dengan gerangan  yang telah terjadi menimpa kakaknya, ia dekap kakaknya sekencang-kencangnya tak peduli apa yang akan dilakukan kakaknya “kak !! ini Rouf !” teriaknya namun telat pelatuk terlanjur tertarik reflek ” darr !”, suara keras tembakan.

Peluru menyusur gundukan tanah, Samir terdiam membisu, matanya berkaca-kaca, tanganya bergetar memegang pistol kaliber yang seketika itu juga terjatuh, ia tersadar, Rouf memeluknya hangat “ maafkan kakak ..!”, air matanya tumpah ruah “ kakak tak perlu minta maaf “, mereka berpelukkan di tengah genderang perang berkecamuk membara, seakan dunia hanyalah ada mereka berdua, mereka tak peduli dengan keadaan “ lupakan semua ini kak…mari kita pulang “, kata Rouf sambil menyeka air mata kakaknya, kemudian Samir tersenyum…. Ia tahu bahwa dirinya tak dapat kembali dengan cap penghianat melekat …sebuah granat meledak tepat di samping mereka berdua “ pulanglah …. Kakak akan segera menyusul….kakak kan sudah janji untuk menjagamu ! “, Rouf berontak mendengar hal itu, belum sempat ia berkata- kata kakaknya langsung mendorongnya membuatnya menggelinding ke bawah.

Samir tahu bahwa ia telah dicap sebagai penghianat oleh sebab itu ia ingin membersihkan namanya! ia berdiri berbalik arah, ia pegang Maxim 1886  yang tadinya tergeletak tak jauh darinya bekas prajurit yang gugur, ia arahkan senapan mesin itu ke kumpulan pasukan dengan bintang David di saku, peluru beruntun termuntah, mematikan beberapa orang, ia arahkan tembakannya melesat ke salah seorang komandan, seketika komandan itu meregang nyawa dengan hujan peluru di sekujur tubuhnya, belum sempat berpindah tempat tiba-tiba dari kejauhan peluru melesat menyayat tubuhnya, darah terkucur ia tertunduk menahan sakit, namun dengan sekuat tenaga ia genggam kembali senjatanya dan memuntahkan beberapa peluru, semua terhenti saat senapan mesin dari atas bukit menghujani tubuhnya, seketika itu juga ia terbaring terhempas lemas menyentuh tanah, ia pandang langit nan hitam gelap pertanda hujan untuk terakhir kalinya

matanya perlahan terpejam, terbayang olehnya wajah ibu serta adiknya membuatnya tersenyum menyambut akhir. “ aku akan menyusulmu ibu “

teringat wajah adiknya yang berlari-lari riang di depanya saat ia menjajakan koran, desiran hangat mengalir jatuh bersambut darah yang mengalir, pikirannya melayang menerawang mereka ulang memoar saat ia bersama adiknya memandang langit kala senja mengundang gulita, “kakak janji kan?” pertanyaan itu membayanginya, kini ia bisa menjawabnya walaupun bukan di hadapanya “ aku telah menepati janjiku “, senyumnya menyambut akhir disertai detakkan jantung untuk terakhir kalinya.

                                                                               ******************

Dua anak kecil berlari riang bercanda di ruangan luas berinterior itu, tiba- tiba salah satunya cemberut beranjak menghampirinya yang sedang duduk di atas sofa dengan tongkat di tanganya, ia mengadu, “ kek… Samir gak mau gantiaan”, kakek itu hanya tersenyum memandangi mereka berdua, ia mengelus salah satunya  “ sini kakek pangku “ anak itu mangut setuju, Samir terbakar cemburu “ itu kakekku …nih ambil maenan ini gak apa-apa “, ia serahkan mainanya pada saudaranya itu “enggak…kamu ambil saja…aku mau dipangku kakek “, suasana menjadi ricuh.

“ eh…eh..sudah-sudah sini kakek pangku kalian berdua “, ucap kakek itu melerai, akhirnya mereka berdua duduk di pangkuanya, mukanya tersenyum walau merasa punggungnya hampir remuk, ia elus keduanya, namun tiba-tiba saja Samir meraih sebuah foto dari atas meja yang dibingkai, ia raih dengan tangan mungilnya “ ini foto siapa kek ?”, tanya Samir ingin tahu, terlihat di foto itu seorang perempuan yang duduk dengan dua laki-laki di sampingnya, “ oh itu ibunya kakek…yang ini kakek dan yang ini…”, mereka semua serius mendengar dan menatap wajah kakeknya penasaran “ siapa kek ?”, tanya Samir kembali, “ mukanya kaya kak Samir”, celoteh adik Samir, “ yap… namanya adalah Samir “, terang kakek itu yang seketika membuat kedua anak itu kebingungan “ kok namanya sama kaya aku kek “, tanya Samir, kemudiaan kakek itu tersenyum sambil membelai rembut kedua cucunya itu “ mau kakek ceritain kisah Samir?….dia adalah paman kalian loh “, mereka mengangguk diliputi rasa penasaran “dengarkan baik-baik…. begini kisahnya …”

 

21

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Lahir di Sungai Penuh 26 Mei 1998. Kuliah: Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Usuluddin. Riwayat Organisasi dan Aktivitas: Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *