Home Kajian Tematik Apa itu Berkurban? Apa saja Keutamaanya dan Hikmahnya?
Apa itu Berkurban? Apa saja Keutamaanya dan Hikmahnya?

Apa itu Berkurban? Apa saja Keutamaanya dan Hikmahnya?

39
0

Idul Qurban tinggal mengetuk pintu, langkahnya semakin terdengar jelas menghampiri, bayangnya beranjak pudar menampakkan wujud aslinya, harumnya semakin semerbak tercium membawa kegembiraan, muslimin di pelosok negeri semarak bersiap-siap menyambut kedatangannya, hari yang dinanti oleh setiap muslimin, anak kecil, remaja, dewasa sampai yang renta semuanya sibuk memantaskan diri untuk hari raya yang mulia ini demi mendapat cipratan berkah Penciptanya, Allah azza wa jalla, ialah hari yang mengumpulkan kaum muslimin di berbagai tempat di pelosok negeri dan kota, ia disebut ied (perayaan) kata yang satu kesatuan huruf dengan audah (pengulangan), hari yang mulia ini selalu terulang setiap tahunnya membawa kegembiraan, mereduksi kegelisahan, kegalauan, dan kesedihan umat setelah setahun penuh ditimpa getir manis rasa kehidupan, ia adalah oase tatkala keringnya gairah beribadah melingkupi jiwa, ia adalah halte tempat berteduh dari rangkai kejenuhan dalam berkehidupan. Idul Qurban adalah hadiah rutin Allah ta’ala untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan senantiasa mengharap ridho-Nya.

Qurban berasal dari bahasa Arab, Qurban yang berarti dekat. Kurban dalam Islam juga disebut dengan udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi, kerbau, dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah mensyariatkan kurban dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (Al-Kautsar: 1 — 3),“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya.” (Al-Hajj: 36). Disyariatkannya kurban bukan semata- mata sebagai rutalistik semata, melainkan di dalamnya banyak hikmah serta keutamaan yang penting untuk digali oleh kaum muslimin sebagai padanan hidup, baik mengelola diri, dan bersosial masyarakat.

Bagi seorang yang berkurban pahala yang besar di sisi Allah ta’ala,  “tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu” (HR. Muslim).

Qurban adalah pintu mendekatkan diri kepada Allah. Dan berkurban juga merupakan pertanda seseorang bertakwa,”sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa”, Ia juga berfirman di ayat yang lainnya, “daging-daging unta dan darahnya itu sekali-sekali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS: Al- Hajj: 37), kita tak bisa menilai ketakwaan seseorang hanya dengan melihat dzohirnya, namun paling tidak dengan berkurban, sesuatunya sedikit terlihat jelas, karena berkurban bukanlah perkara mudah, kelapangan hati untuk membeli hewan kurban adalah pertanda ia tidak matrealistis, dengan berkurban juga ia mencerminkan diri sebagai orang yang peduli terhadap sesama, itulah syiar taqwa yang kita hanya bisa nilai secara dzohirnya, selebihnya urusan dirinya bersama Rabbnya.

Berkurban adalah sikap kepatuhan dan ketaatan pada Allah. “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS: Al Hajj : 34), dari ayat ini Allah ta’ala menggambarkan kasualitas, alasan Ia mensyariatkan kurban tidak lan adalah untuk menyaring hambanya yang patuh, dan senantiasa bersyukur.

Adanya syariat berkurban adalah antitesa dari fenomena kurban di masa jahiliyyah, dahulu kaum jahiliyyah menyembelih potongannya untuk dijadikan sesembahan untuk berhalanya, kebodohan inilah yang kemudian dihapuskan oleh Islam, Islam menjadikan ritual tersebut bukan hanya sebagai ajang tabzir (foya-foya), namun Islam menyelipkan di dalamnya syariat yang mengikat yang kemudian bermanfaat bagi laju keharmonisan masyarakat, membantu individu dan keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk dapat mengecap kebahagiaan sebagaimana yang kaya. Berkurban membedakan dengan orang kafir “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS: al-An’am : 162-163)

Berkurban adalah wajah perekonomian Islam. Dari berkurban kita lihat bagaimana Islam menciptakan komoditas, uang yang dipegang oleh orang yang baik akan berputar kepada kebaikan, inilah konsep ekonomi Islam, tidak dzolim apalagi mendzolimi, tidak membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin sengsara, berkurban adalah lambang bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk menyadari bahwa sejatinya yang Maha kaya tetaplah Allah ta’ala, berikut adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib “ Rosulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiaanya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya”

Berkurban adalah pelajaran, pelajaran yang langsung diajarkan oleh ‘lapangan’, karena pelajaran dan Hikmah tidak terbatas didapat hanya di dalam kelas, terkadang pelajaran di luar kelas bahkan lebih banyak mengajarkan dibanding di dalamnya, ayat-ayat Allah ta’ala meliputi ayat qauliyyah dan kauniyyah, keduanya merupakan instrumen belajar kaum muslimin, berikut adalah hikmah yang sekiranya dapat kita jadikan padanan sebagai sarana pembelajaran, Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (Al-Hasyr: 2)

Idul Adha sebagaimana yang Syaikh Yusuf Qardhawy gambarkan, ialah oase dan halte tempat seorang muslim beristirahat, di dalamnya terdapat hikmah untuk kita semua meng-instal ulang jiwa kita, untuk sejenak merenungkan kembali hakikat dari keberadaan kita yang merupakan bagian kecil dari dunia ini, Sesungguhnya siyahah (wisatanya) umatku adalah berjihad fi sabilillah” (HR Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim), islam adalah agama yang komprehensif, semua terdapat dalam Islam, bahkan rekreasi pun disunggung oleh Islam yang merupakan sarana peristirahatan, Idul Adha merupakan bagian dari rekreasi kita, berjuang melawan nafsu materialistik dengan menyedekahkan harta kita melalui kurban, karena hakikat Idul Adha dzohirnya adalah berbahagia bergembira, sedangkan batinnya adalah amal, syukur menebar kecintaan, mengubah waktu menjadi ketaatan dan hidayah, Hasan Al-Basry berkata, “ setiap hari di mana ia tidak bermaksiat pada Allah maka itu adalah hari raya, dan setiap hari seorang mukmin menyempatkan dari harinya ketaatan terhadap Pelindungnya, berzikir pada-Nya, bersyukur pada-Nya, maka baginya hari raya”, dari hari raya ini kita belajar untuk senantiasa taat, berdzikir dan bersyukur pada-Nya yang telah menyempatkan untuk kita kesempatan mengecap rehat di antara manis getir rasa kehidupan sepanjang tahun.

Hikmah lainnya yang dapat kita ambil dari Idul Qurban juga adalah citra Islam sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan (Syumuliyyatul Islam), hatta dalam beraya-raya pun Islam punya tatanan aturan, tidak seperti perayaan jahiliyyah yang kunjung melampui batas, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). “work hard, play hard”, itulah inti perayaan mereka, Islam adalah Agama kedisiplinan, semua dapat dirujuk ke dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam, Islam cakupannya integral, kesenangan dan kewajiban ada aturannya, itulah hakikat syiar Islam, berkurban memiliki dua makna hakikat, pertama makna Rabbani bahwa seorang muslim hatta dalam perayaan tidak akan pernah lupa Rabbnya, yang kedua adalah makna Insani, momentum kurban adalah sarana menjajaki awareness berkehidupan sosial, belajar peduli dalam rajutan ukhuwah Islamiyyah, sehingga perayaan tidak dipersempit maknanya hanya untuk orang-orang berkelebihan, bukan untuk yang berkecukupan apalagi kekurangan, hari raya adalah hak setiap individu yang pernah mengucap kalimat tauhid, begitulah teladan Islam dalam beraya-raya di hari raya.

Idul Qurban adalah kuliah berkomitmen. As- Syahid Hassan Al-Banna berkata “janganlah menjadi hamba Ramadhan (Romadoniyyan) akan tetapi jadilah hamba yang Rabbani (Rabbaniyyan), komitmen kita dalam bersedekah tidak boleh terhenti, amalan kebaikan kita tidak boleh kita kurung musimkan, semuanya harus stagnan sedikit namun dawam lebih baik dari pada banyak yang terpotong-potong, waktu silaturrahmi yang kita lakukan tidak perlu kita persempit hanya pada hari raya, selama nafas masih dikandung badan, selama ada waktu luang, mari kita sempatkan untuk bersilaturrahmi. karena hari raya adalah momentum perbaikan hubungan sosial, mari kita berringan tangan berderma ria, mungkin manfaatnya tidak kita rasa langsung pada momen tersebut, karena kebaikan biasanya akan dibalas dengan kebaikan walau balasannya kadang perlu rentang waktu yang panjang, intinya komitmen beramal sholeh itulah yang mesti kita terapkan di sepanjang hari kita, bukan hanya di hari raya.

Menampakkan kebahagiaan, selalu ceria, tak henti menebar senyum itulah yang kita pelajari dari momen berkurban, berbagi kebahagiaan, “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Ad-Dhuha: 11), jangan sampai orang-orang tidak tahu menahu kondisi kita, kita harus sering update dan upload kabar kita, terutama saat memiliki kabar gembira, prestasi baru, promosi jabatan, perkembangan anak jangan kita sembunyikan, karena berbagi kebahagiaan merupakan sarana berpahala, jangan takut riya’!, karena enggan beramal karena takut riya’ merupakan riya’ itu sendiri, karena momen Idul Adha’ adalah momen berkumpul, hendaknya kita belajar mengamalkan kebiasaan baik yang satu ini, yaitu menebar kabar gembira (qodoya rowai’).

Dan yang terakhir adalah menempa rasa syukur. Kenapa kita dianjurkan untuk melihat sendiri prosesi pemotongan hewan kurban kita atau bahkan memotongnya sendiri? Karena dengannya kita dapat mendapatkan feel tersendiri bahwa harta kita tidaklah kekal abadi, semuanya akan lenyap mati, dengan berkurban kita dapat membatasi diri dari makna perayaan yang keluar batas sebagaimana yang kaum jahiliyyah tampakkan, dengan berkurban kita menepis kecintaan berlebihan kita terhadap  satu kata yang kadang mengelincirkan manusia, yaitu ‘uang’, dengannya manusia mulia atau malah menjadi hina, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”(Ali Imran: 92). Mari kita jadikan momentum berkurban kali ini sebagai instrumen pembelajaran maksimal, kecintaan tertinggi terhadap Rabb semesta alam, tarbiyyah mengelola kepekaan sosial, dan penggalian ganjaran yang tiada hentinya untuk menjadi bekal meraih surga kelak.

Allahu a’lam bis showab

Referensi:

-pengertian ied: al-mathla’ ala abwabil fiqh 1/108, lihat: at-tibyan fi tafsir ghoribul qur’an 1/188.

-Perkataan Ibnu Hajar Al-Atsqalani: fathul bari’ 2/443

– Yusuf Qardhawy : al-ied al-mubarak wa duktur yusuf qardhawy naqlan minal intibahah

– Yahya G. Nasrullah : enam fadhillah dan keutamaan berkurban

39

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Lahir di Sungai Penuh 26 Mei 1998. Kuliah: Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Usuluddin. Riwayat Organisasi dan Aktivitas: Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *