Home Dunia Pemikiran Filosofi Like father like son
Like father like son

Like father like son

12
0

 

Suatu malam sang ayah bermimpi, dalam mimpinya ia diperintahkan untuk melakukan suatu hal yang sangat berat, bahkan suatu hal yang mungkin mustahil dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya tercinta. Perintah itu adalah agar ia menyembelih sang buah hati tercinta yang baru tumbuh dan rasanya belum lama ia nikmati hari-hari indah bersama. Sebagai seorang utusan langit, ia memiliki kewajiban dan tanggung jawab penuh untuk melaksanakan titah tersebut, tapi dilain sisi ia adalah seorang ayah yang memiliki sifat manusiawi yaitu  mencintai sang anak tercinta. Sebuah pilihan sulit baginya, bagaimana mungkin ia melalaikan tugas dari Langit sementara ia adalah sang utusan, dan bagaimana pula ia tega meyembelih sang anak yang telah lama ia tunggu-tunggu.Dilemakah ia? Adakah ia berfikir untuk melalaikan titah yang berat itu dan meminta keringanan? Lalu bagaimana dengan sang anak? Adakah ia berfikir bahwa sang ayah telah gila dan tega ingin menyembelihnya layaknya seekor hewan?

Jawaban dari cerita itu adalah jawaban dari sepasang ayah dan anak “luar biasa” yang pernah ada di muka bumi, bagaimana tidak, ketika sang ayah mengutarakan niat kepada sang anak , maka kita akan tercengang dan takjub. Bagaimana tidak, bukannya ia mengeluh atau bahkan kabur dari permintaan sang ayah tapi ia juga setuju bahkan mendukung niat sang ayah tercinta. Sebuah jawaban yang mungkin akan “jarang” atau bahkan hampir tidak akan kita dapati di zaman ini. Tidakkah ini berlebihan?jawabannya tentu tidak, lalu kenapa? Karena pada sejatinya disitulah sebenarnya kadar cinta sang ayah diukur oleh Sang Pemberi titah.apakah ketika ia diperintahkan untuk melakukan suatu hal menurut akal manusia adalah mustahil berpaling atau tetap ta’at ? lalu bagaiman dengan sang anak? Tentu saja ini juga merupakan ujian bagi sang anak, ujian kesabaran dan keridho’an akan suatu ketentuan Sang Pemberi takdir.

Sungguh haru memang, bahkan  lebih haru daripada sebuah drama korea, dan lebih sedih daripada film bolywood  yang pernah ada. Bahkan di akhir cerita pun  berkhir“happy ending” bahkan lebih indah daripada cerita dongeng dari negri manapun. Cerita ini pun bahkan tidak datang dari sutradara handal manapun, ia datang langsung dari Sang Sutradara Kehidupan dan terdapat dalam kitab terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Mari kita  buka kembali Mushaf kita dan coba untuk melisik kembali kisah  Nabi Ibrahim dan Ismail yang terdapat pada  ayat 99-111 surat  Ash- Shaffat. Karena inilah kisah sebenar-benarnya kisah pengorbanan yang sejati yang pernah ada dimuka bumi, tentang cerita sepasang ayah dan anak yang tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintahnya. Sang ayah yang mampu meyakinkan sang anak dalam keta’atan begitu pula sang anak yang mendukung dan ridho dengan ketetapan Langit.

Maka belajar dari kisah diatas, bagaimana seorang ayah dan anak mampu saling bersinergi dalam keta’atan dan keteguhan dalam menerima setiap ujian kehidupan,memberi contoh yang baik bagi sang anak, sekaligus teman dalam kehidupan. Lalu bagaimana dengan anda?

Wallahu a’alamu bisshawab

12

Azmi El Haq Azmi El Haq. Lahir di Sumenep 19 Juni 1994. Riwayat Pendidikan: SDN Sepanjang 3 Sapeken. SMP Muhammadiyah 2 Singaraja. Ma'had Al Ittihad Al Islami Camplong Madura. Ma'had Al Imarat Bandung. Kuliyah Ushuluddin Univ. Al Azhar Cairo

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *