Home Dunia Ide Di Lembah Suci Ini, Leburlah Setiap Perbedaan
Di Lembah Suci Ini, Leburlah Setiap Perbedaan

Di Lembah Suci Ini, Leburlah Setiap Perbedaan

21
0

Di sini, di lembah suci yang gersang nan tandus ini, setiap perbedaan lebur, setiap sekat-sekat luntur, dan kaum muslimin berkumpul pada suatu momen yang sangat agung, penuh dengan bahagia, penuh dengan suka-cita.

Di sini, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam, sebagaimana tidak ada keutamaan bagi orang Ajam atas orang Arab, tidak ada juga bagi orang berkulit merah atas yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dalam ketakwaan.

Di sini, berkumpul tamu-tamu Allah dalam perjalanan keimanan, sebagai penyempurnaan rukun-rukun Islam. Di sini semuanya menyambut seruan Allah kepada Al Khalil Ibrahim AS. “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengandarai unta-unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Qs. Al Hajj: 27)

Inilah ibadah haji, simbol dari persatuan umat Islam dalam bentuk yang begitu indah.

Dr. Abdul Halim Mansur, Dosen Fiqh Muqorin Universitas Al Azhar, menyatakan bahwa ibadah haji menyimpan hikmah-hikmah yang sangat banyak dan berharga yang terbentang dalam setiap kehidupan spiritual umat Islam, di antaranya adalah penegakan syariat Allah, kerena haji merupakan rukun terakhir dari rukun-rukun Islam, ketika ruun Islam yang paling melelahkan dan paling banyak pengorbanannya telah ditunaikan, maka hal itu menunjukkan akan tegaknya syariat Allah .

Ibadah haji juga mampu menguatkan persatuan umat Islam dketika para jamaah haji menggunakan baju yang sama, menyebaranya rasa saling tolong menolong, rasa cinta dan kedamaian, hingga upaya untuk mensucikan jiwa dari dosa-dosa. Semua ini, kalau dimaknai dengan baik, akan mampu menghidupkan spirit umat Islam yang akan mendorongnya kepada setiap kebaikan.

Beliau menambahkan bahwa haji memiliki kekuatan ruhiyah yang akan mebentangkan jalan kepada persatuan, menghilangkan setiap sekat-sekat geografis, dan menghapus setiap fanatisme dan perbedaan.

Sebagaimana di awal kemunculannya, Islam telah mengeluarkan manusia dari paganisme dan sukuisme, aka umat Islam hari ini dituntut untuk melepaskan segala perbedaan, perselisihan di antara mereka, dan memegang teguh nilai-nilai Islam, agar mampu kembai kepada shirothol mustaqim.

Sedangkan Dr. Muhammad Nabil Ghanaim menyampaikan bahwa jauhnya umat Isam dari amar ma’ruf nahi mungkar merupakan penyebab dari kemundurannya, oleh karena itu, ibadah haji adalah kesempatan berharga bagi umat Islam untuk memperkuat sikap saling tolong menolong dalam setiap kebaikan dan membuang setiap pepecahan.

Dalam haji kita melihat umat Isam datang dari berbagai penjuru dunia, dengan beragam warna kulit dan berbagai macam bahasa, sedangkan mereka memakai baju yang sama, semuanya mengharap rahmat Allah dan takut akan adzab-Nya. Di sini semuanya sama, mereka datang dengan melepaskan jabatannya dan juga hartanya, kemudian sama-sama berdiri di lembah yang satu, dengan harapan mereka kembai ke negerinya seperti pada hari mereka di lahirkan.

Sang pemikir Islam kontemporer ini–sebagaimana dikutip oleh majalah Wa’yu Islam– mengaskan bahwa “Kita bisa mengambil pelajaran dari haji untuk menguatkan nilai persamaan bagi semua dalam hak dan kewajiban, menguatkan nilai keadilan dan kesabaran. Para pemimpin Islam ditutut untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat melalui media, kemudia membangun kerja-kerja nyata yang mampu mewujudkan persatuan umat dan kerekatan diantara anak-anaknya. Maka pelajaran terbesar yang bisa kita petik dari ibadah haji adalah bahwa suatu kebangkitan, kesatuan dan persatuan setelah perpecahan akan terwujud kalau kita menghadap kepada Allah degan melepaskan diri dari segala sesuatu yag kita miliki, dan mensucikan jiwa kita dari setiap dosa dan dengki, serta membuang setiap fanatisme, kemudian berkumpul pada satu sikap, dan kalimat yang sama, yang terpancar dari nilai-nilai agama kita yang mulia.”

Semoga Allah SWT, mempersatukan hati, jiwa dan pikiran umat Islam, hingga mampu bersatu dalam kalimat dan langkah yang sama demi terwujudnya keulyaan Islam.

Wallahu ‘Alam Bis Showwab.

21