Home Dunia Ide Berkali-Kali Umat Merayakan Hari Raya, Namun Tak Kunjung Bersatu Juga
Berkali-Kali Umat Merayakan Hari Raya, Namun Tak Kunjung Bersatu Juga

Berkali-Kali Umat Merayakan Hari Raya, Namun Tak Kunjung Bersatu Juga

19
0

Sejak meletusnya ketegangan antara Saudi Cs dan Qatar pada juni 2017, kita sudah 2 kali melewati 2 hari raya besar, namun krisis Teluk hingga kini belum menemukan titik temu. Ketika Saudi sudah tanazul untuk menerima jamaah haji dari Qatar yang sebelumnya menyatakan akan menolak, saya berharap Qatar bisa menerima juga, namun bagi pemerintah Qatar ini adalah kesempatan baginya untuk menekan Saudi agar mengangkat embargonya, maka seketika Qatar pun mengizinkan rakyatnya pergi haji dengan syarat Saudi bisa mengangkat embargonya atas Qatar. Seketika itu pun saya berharap Saudi bisa legowo dan mau memenuhi permintaan Qatar, demi persatuan umat Islam, dan demi menghormati hari raya idul adha dan ibadah haji. Namun pada kenyataannya, Saudi masih bersikeras dengan sikapnya, Qatar pun tetap teguh dengan pendiriannya. Krisis Teluk pun terus terseok di jalan buntu.

Dari sejak mulainya genosida pemerintahan Myanmar atas minoritas muslim Rohinya, kita sudah lebih dari 4 kali merayakan hari raya besar, namun hingga hari ini genosida di Rohinya semakin membabi buta, kedzoliman di sana semakin merajalela, sementara umat Islam mayoritas di dunia terus berpaling muka, seakan tidak terjadi apa-apa, sibuk dengan masalahnya sendiri, sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Muslim Rohinya pun semakin terasing dari saudara-saudarnya sendiri.

Dari sejak Israel menjajah Palestina 1948 M, kita sudah 138 kali melewati 2 hari raya besar, namun hingga kini Palestina masih dalam cengkraman penjajah, sementara umat Islam masih terus berselisih satu sama lain, para pemimpin Islam sibuk memenuhi egoisme dan kepentingannya masing-masing. Yang satu tak pernah lelah memperkaya diri meski harus menjual kehormatan bangsa, yang lainnya terus berupaya mengamankan kekuasaan meski harus menggadaikan aset-aset negara, yang satunya lagi sibuk meberantas kaum islamis demi mengharap keridhoan tuan-tuannya.

Dari sejak Khilafah Islamiyah tumbang, 1924 M, kita sudah 186 kali merayakan 2 hari raya besar, sebagai simbol persatuan dan kekuatan, namun hingga kini umat Islam masih terpecah menjadi negara-negara kecil, tekotak-kotak ke dalam madzhab-madzhab pemikiran dan keyakinan, tersekat-sekat oleh fanatisme budaya dan golongan, sementara itu bangsa Barat yang sebelumnya terpecah-pecah kini semakin membesar dan menyatu dalam satu kekuatan. Entah sampai kapan, entah kali yang ke berapa kita merayakan hari besar, kemudian seketika itu kita bersatu seperti menyatunya lautan putih jamaah haji di lembah suci dan di padang Arafah.

Hari Raya Idul Adha yang kita rayakan hari ini, harus menjadi momen berharga bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, kemudian bersatu–dalam keberagaman bangsa, bahasa, dan madzhab pemikiran ataupun gerakan keagamaan– dengan bingkai Islam. Di hari yang mulia ini, para pemimpin Islam perlu merancangkan kerja-kerja nyata untuk menyelesaikan masalah-masalah umat yang nampak di depan mata.

Krisis Teluk harus segera diakhri, kekejaman Israel atas rakyat Palestina harus segera dihentikan, dan pembantaian rezim Myanmar atas minoritas muslim Rohinya harus segera dituntaskan.

Kalau para pemimpin negara-negara Islam mampu menganggarkan dana jutaan dollar untuk pengembangan dan perlindungan flora dan fauna, mengapa mereka tidak bisa menganggarkan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Rohinya yang tertindas dan terampas hak-haknya. Bukankah muslim Rohinya sebagai manusia lebih mulia dari sekedar flora dan fauna, atau para pemimpin kita yang telah kehilangan kemanusiaannya.

Wallahu ‘Alam Bisshowwab.

19

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Hingga sekarang sedang menempuh Program Master di American Open University Cairo, Egypt. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *