Home Dunia Ide Kita Bagaikan Satu Tubuh
Kita Bagaikan Satu Tubuh

Kita Bagaikan Satu Tubuh

24
0

Kita umat Islam tidak boleh lupa akan suatu hakikat bahwa kita adalah umat yang memiliki keutamaan dari umat yang lainnya. Kita bukan hanya sekedar umat, akan tetapi lebih dari itu kita adalah satu tubuh, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

Dalam beberapa jam, baik di siang hari ataupun malam, kita semuanya—dengan beragam ras, bahasa, suku, umur—menuju ke hadhirat Allah dengan satu hati, satu bacaan, tersungkur bersujud menyium bumi, menginakan diri dihadapan Dzat Yang Maha Agung.

Dan dalam beberapa hari tertentu, sebagian dari kita yang diberikan kemampuan fisik dan harta, menyengaja pergi ke suatu lembah suci untuk menyambut seruan ilahi, menunaikan ibadah terbesar yang perintahkan-Nya. Dan bagi kita yang belum diberikan kesempatan untuk pergi langsung ke sana, Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak dzikir, saum, shadaqoh, kemudian berkurban di hari adha, agar hati kita terpaut dengan para tamu Allah di tanah suci, agar kita ikut serta menghambakan merasakan suasana ibadah haji, hingga syiar-syiar haji kita akhiri dengan melaksanakan shalat ‘ied bersama. Maka kita benar-benar teah menjadi satu tubuh, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda;

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, berkasihsayang, dan rasa simpati di antara mereka, bagaikan satu tubuh, yang apabila salah satu bagian saja mengalami sakit, maka bagian-bagian yang lainnya akan merasakan panas dan demam.” (Muttafaq Alaih).

Demikianlah bagaimana Rasulullah SAW menggambarkan kita umat Islam, dan selamanya kita harus seperti itu, satu tubuh, saling berkasih sayang, saling membantu, saling merasakan kepedihan, saling berbagi kesenangan. Kesibukan kita jangan sampai menjadikan kita lupa terhadap kewajiban kita akan saudara-saudara kita seiman. Keterbatasan harta kita tidak boleh menghalangi kita untuk membela hak-hak mereka. Karena rasa sakit yang dialami oleh sebagian umat Islam akan membuat lelah dan sakit sebagian yang lainnya, sebagaimana halnya suatu tubuh yang akan terasa lelah dan sakit ketika sebagian yang lainnya sakit.

Idul Adha tahun ini, di hari kemenangan dan persatuan ini, kita umat Islam dihadapkan pada satu peristiwa yang sangat menyedihkan. Saudara-saudara seiman kita di Rahinya kembai dibantai oleh manusia-manusia berhati srigala. Darah kaum muslimin kembali mengalir, jeritan dan tangisan orang-orang lemah kembali membuncah dan kehormatan umat Islam di dunia ternodai.

Ini adalah ujian keimanan kita, akankah hati kita terpanggi untuk membela mereka yang tertindas, atau tinggal diam cukup menyaksikan dan membaca bencan yang meninpa mereka.

Bagi umat milayar ini, bukanlah hal yang sulit untuk membantu saudara-saudara kita yang tertindas, bagi para pemimpin negara-negara Islam tinggal duduk dan berkumpul untuk mengeluarkan kebijakan nyata.

Bagi negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, bukanlah hal yang rumit untuk mengeluarkan keputusan menekan pemerintah Myanmar, mengusir dubes mereka dari tanah Indonesia, ataupun mengeluaran Myanmar dari keanggotaan ASEAN. Hanya saja ini masalah iman, masalah hati yang terketuk, dan jiwa yang tersentuh. Ketika iman sudah tiada, pembantaian sekeji apapun terjadi di depan kedua matanya, tidak akan mampu menggerakkan hatinya untuk merasa. Namun ketika iman itu mendominasi jiwa, sebagaimana imannya Al Faruq Umar, maka sehelai daun pun, yang mengotori jalan yang akan membuat orang tergelincir jatuh, maka tidak akan pernah membuat tidurnya nyenyak.

Wallahu’alam Bisshowwab.

24

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Hingga sekarang sedang menempuh Program Master di American Open University Cairo, Egypt. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *