Home Berita Mustofa Nahra : “Pemuda Rohingnya Melawan, Resikonya Dicap Sebagai Teroris”
Mustofa Nahra : “Pemuda Rohingnya Melawan, Resikonya Dicap Sebagai Teroris”

Mustofa Nahra : “Pemuda Rohingnya Melawan, Resikonya Dicap Sebagai Teroris”

107
0

Militer lokal di Rakhine, Myanmar yang menyebut dirinya ARSA tengah menjadi sorotan media bahkan dunia. Munculnya ARSA menjadi cerita baru sengketa pergulatan antara warga Rohingnya dengan militer di Myanmar. Jika dialihkan ke bahasa, ARSA adalah Tentara Pembebasan Muslim Arakan. Banyak media menyebutkan, konon cerita ini berawal dari memuncaknya respon atas penindasan etnis minoritas muslim Rohingnya pada 2012. Lalu muncul gerakan Harakah al-Yaqin menjadi cikal bakal ARSA. Ada juga yang mengatakan ARSA baru lahir tahun 2016.

Terkait konflik ini menyinggung agama atau kepentingan negara dan militer, jelas pelanggaran HAM sedang  dialami oleh warga Rohingnya. Natalius Pigai, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengatakan kepada redaksi salah satu media “Apa yang salah dengan mereka sehingga ribuan etnik Rohingnya terusir dari negerinya?”. Indonesia sebagai sebuah negara merdeka yang menyatakan dalam UUD-nya bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan seharusnya bergerak dan tidak diam seribu bahasa. Sangat naif jika Indonesia hanya menonton berita kesedihan yang dialami warga Rohingnya.

Resiko yang dihadapi warga rohingnya menjadi sangat sulit. Setelah bertahun-tahun mereka coba menghindar dari kerusuhan dan perlawanan, akhirnya keadaan yang genting memaksa mereka keluar dari sarangnya dan melakukan perlawanan. Keadaan seperti ini seyogyanya bisa dirasakan oleh banyak pihak ketika mereka berada pada posisi Rohingnya. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia misalnya, rakyat coba bersabar, lakukan negosiasi dan diplomasi. Tapi ketika tunduk dan terus terjajah, maka pada saat itu rakyat melawan.

Pemerintahan Myanmar menyebut ratusan militan ARSA dengan senjata api, tongkat dan peledak rakitan melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pos-pos keamanan polisi di Rakhine bagian utara pada 25 Agustus lalu. Warga Rohingnya tidak bisa diam begitu saja, terlebih jika hanya menunggu bantuan negara-negara lain dan terus mengorbankan sanak keluarga, kerabat dan warga lainnya. Namun ARSA menegaskan diri sebagai pejuang kebebasan dan menyebut serangan itu sebagai ‘langkah sah’ untuk mengembalikan hak-hak Rohingya, yang tertindas dan tidak memiliki status kewarganegaraan di Myanmar.

Pemuda Rohingnya Melawan, Resiko Dicap Sebagai Teroris
ARSA dinyatakan Teroris oleh Pemerintah Myanmar

Sebuah perjuangan selalu dihadapkan dengan resiko, begitulah kiranya yang sekarang dialami ARSA. Langkah-langkah yang dilalui ternyata membuat Pemerintah Myanmar menetapkan ARSA sebagai kelompok teroris. Dengan begitu setiap tindakan pemberontakan Bengali dan ARSA akan dijerat dengan   Undang Undang Anti-Terorisme Myanmar. Percis dengan kicauan Mustofa Nahrawardaya melalui akun twitternya @NetizenTofa KALAU nunggu bantuan militer negara lain ya kayak PHP saja. Jadi, pemuda2 Rohingnya melawan. Resikonya, mereka akan dicap sbg: TERORIS.”

Wallahu A’lam bisshowab.

 

 

107

Azhar Fakhru Rijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : FLP Jakarta Kammi Djuanda Garuda Keadilan Tasikmalaya

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *