Home Dunia Pemikiran Analisa Rohingnya: Bukti Kehinaan Umat Setelah Kemulyaannya
Rohingnya: Bukti Kehinaan Umat Setelah Kemulyaannya

Rohingnya: Bukti Kehinaan Umat Setelah Kemulyaannya

75
0

Oleh: Prof. Dr. Abu Ya’reb El Marzouki

(Filosof Islam asal Tunis)

Mungkin banyak orang heran dan mengira bahwa saya tidak merasakan kepedihan atas musibah yang diderita oleh saudara-saudara kita di Rohingnya karena saya tidak angkat bicara dalam masalah ini. Sebenarya saya hanya tidak berbicara tentang musibah mereka, tidak juga tentang kewarganegaraan mereka.

Suatu musibah atau apapun yang sejenisnya tidak akan pernah menimpa kaum muslimin seandainya kaum muslimin memiliki kemauan untuk memenuhi syarat-syarat ri’ayah (pemeliharaan) dan himayah (perlindungan) hingga menjadi berwibawa dan tidak dianiaya musuh.

Apa yang saya saksikan dari tragedi Rohingnya dan tragedi lainnya yang menimpa saudara-saudara kita yang tidak terhitung, merupakan kesimpulan dari muqodimah—yang menjadi kegalauan saya: “Tidak mempraktekkan surat Al Anfal ayat 60”.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.”

(Al Anfal: 60)

Semua proyek pemikiran dan keilmuan saya dari sejak 40 tahun  yang lalu adalah meneliti bagaimana agar kaum muslimin kembali kepada prinsip-prinsip asasi yang tercantum dalam ayat 60 surat Al Anfal, yang merupakan nilai-nilai yang dimiliki setiap bangsa adi daya: di dalamnya terdapap unsur-unsur dari nilai-nilail yang mulia yang ada pada bangsa-bagsa besar.

Setiap bangsa akan kehilangan kemulyaannya karena kehilangan kekuatannya secara umum, dan kekuatan militer secara khusus. Dalam ayat tersebut dimulai dengan kekuatan secara umum tanpa disifati dengan pengkhususan, kemudian dilanjutkan dengan kekuatan militer disimboli dengan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.

Hingga kemudian disebutkan musuh-musuh kaum muslimin baik yang maklum (diketahui) ataupun yang majhul (tidak diketahui) yang dengan kekuatan-kekuatan itu kaum muslimin akan membuat musuh-musuhnya takut hingga tidak disakiti/dimusuhi—musuh umat secara langsung ataupun musuh karena merupakan musuh Allah.

Maka permusuhan yang ada dan yang mungkin tidak menimbulkan terjadinya serangan untuk pencegahan ataupun serangan untuk perbaikan muncul dari 5 musuh:

  • 2 maklum (diketahui)
  • 2 majhul (tidak diketahui)
  • Prinsip yang menghimpun yang maklum dan yang majhul.

Musuh umat baik yang maklum maupun yang majhul, dan musuh Allah baik yang maklum ataupun yang majhul, dan prinsip yang merupakan sebab dari adanya permusuhan atau tidak, prinsip tersebut juga ada yang maklum dan majhul dalam satu waktu: yaitu hakikat baik atau buruknya manusia.

Permusuhan terhadap umat sebabnya bersifat duniwi yaitu rakus terhadap apa yang dimiliki dan takut atas apa yang ditentukan untuknya. Sedangkan permusuhan terhadap Allah sebabnya bersifat ukhrawi yaitu kedudukan manusia di sisi Allah sebagai suatu keyakinannya.

Sedangkan prinsip dalam semua permusuhan adalah perselisihan dalam refernsi (marjaiyah) yang berkaitan dengan kedudukan manusia di sisi Allah. Kita meyakini persaudaran sesama manusia ukhuwah basyariyah (Qs. An Nisa: 21) dan persamaan di antara sesama manusia (Qs. Al Hujurat: 13).

Oleh karena itu musuh kita membatasi permusuhannya hanya pada apa yang berkaitan dengan kepentingan dunia saja, sedangkan musuh Allah permusuhan mereka menjangkau konfrontasi referensi kehidupan, oleh karena itu di sini prinsip telah menghimpun yang maklum dan yang majhul.

Kondisi Rohingnya tidak lain hanya indikasi tertinggi dari ayat 60 surat Al Anfal. Ia merupakan bukti nyata atas kealfaan umat dalam melaksanakannya, dan bukti bahwa kaum muslimin tidak ada satupun yang segan ataupun takut terhadapnya.

Apa yang terjadi di Arakan sangat menyedihkan saya. Namun saya bukan termasuk orang yang menangis dan mengangkat kedua telapak tangan berdoa– Ini juga merupakan bukti dari hilangnya tanda-tanda kemulyaan, kehormatan dan kewibawaan.

Senjata saya satu-satunya adalah meneliti penyakitnya agar mampu mendiagnosanya dan menemukan obatnya sebisa mungkin, sebagai bentuk pencegahan sebelum sakit atau untuk pengobatan setelah sakit. Dan saya tidak pernah berhenti menelitinya dari sejak memulai perjalanan hidup pemikiran saya.

Mungkin tragedi ini membuat marah salah seorang pemimpin kaum muslimin seperti Erdogan yang saya tidak meragukan kejujurannya, akan tetapi hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, tidak ada satupun dari negara Islam sekarang yang mampu menerjemahkan kemarahannya pada pekerjaan.

Yang paling pertama bertanggungjawab atas kondisi kaum muslimin saat ini adalah bangsa Arab, akan tetapi bangsa Arab sekarang adalah masyarakat yang sagat jauh dari berpikir tentang kemulyaan Islam dan kekuatan kaum muslimin; pemimpin mereka dan oposisinya menjadi budak mahmiyat (negara-negara lindungan negara adi daya).

Negara mahmiyat secara ektrim telah membentuk penjajahan, akan tetapi para pemimpin dan tokoh-tokohnya didanai oleh darah rakyat, sedangkan musuh-musuh mengendalikan peperangan sesama negara Arab dari atas singgasananya–memerintahkan ini-itu.

(Diterjemahkan dari situs pribadi Abu Yareb El Marzouki)

 

75

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *