Home Dunia Pemikiran Filosofi Kewajiban Bertanah Air
Kewajiban Bertanah Air

Kewajiban Bertanah Air

43
0

“Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, namun negeri sendiri tetap teringat jua” -Buya Hamka-

Cinta tanah air adalah cinta hakiki yang tulus lahir dari lubuk paling dalam. Sesekali perlulah kita katakan bahwa cina tanah air itu timbul dari keimanan yang sejati. Karena cinta itulah orang berani mengorbankan dirinya, nyawapun taruhannya. Ada saatnya mereka kucurkan darah untuk menebus tanah airnya. Mati menjadi jawaban bukti tanggungannya atas kecintaan terhadap tanah air.

Suku, ras yang berwarna, keyakinan yang beragam bisa luluh dengan kelembutan cinta. Lalu cinta menariknya kepada rekam jejak sejarah bahwa “kita hidup di tanah yang sama”. Membela tanah air layaknya pesan dari syurga untuk sebuah nyawa, yang hanya kepadaNya ia kembali. Keringat mengucur tidaklah meminta balas jasa. Tanah air pun tulus menerima bakti anak-anaknya dalam bentuk apapun.

Jendral Sudirman adalah seorang muslim taat dan beriman kuat. Karenanya ia merasa berkeajiban membela bangsa ini. Allah segalanya, setelahnya adalah tanah air. Kekuatan cinta itulah yang membuatnya mampu berjuang walau paru-paru tinggal sebelah. Seperti apa kata Buya Hamka, “di dalam mencintai tanah air, salahlah kalau orang meminta balas jasa. Sebab tanah air yang berjasa kepada kita, bukan kita yang berjasa kepadanya”.

Keimanan yang kuat dan kecintaan yang mendalam akan membuat kita terperangah melihat kenyataan hasil dari sebuah perjuangan terdahulu. Kita bertemu dengan orang yang tidak sebiji zarah pun dalam hatinya keinginan untuk membela tanah air. Kita bertemu dengan orang berpangkat, tapi merasa dirinya sudah berjasa dan perlu bangsa ini mengangkatnya. Padahal tidaklah dia besar kalau tanah air tidak membesarkannya.

Mungkin mereka khilaf, kesenangan yang sekejap, jiwa sengsara dan namanya lenyap berabad. Tubuh kita dipenuhi jasa tanah ini, jangan pula kau permalukan asal muasalnya dengan perilaku yang tak sudi orang-orang melihatnya. Yang diingat orang pada manusia hanyalah namanya. Seorang presiden yang hina akan diingat hina walau semasa hidup di istana.

Bangsa ini bersatu menyeru Tuhan, memohon agar tanah air ini kembali Berjaya. Bersama jutaan muslim lainnya menundukan hati dihadapan Sang Pemilik Hati. Sebagaimana Ibrahim a.s dengan keimanannya mendoakan tumpuan harapan untuk bangsa dan negaranya. “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS al-Baqarah [2]: 126)

Akhirnya, jangan sekali-sekali kalian menerima saat keimanan kita terdikotomikan dengan kecintaan kepada tanah air. Kita punya kekuatan bahwa “cinta tanah air sebagian daripada iman”. Kita disatukan dengan kesucian cinta dan dikuatkan dengan kesamaan misi, maka bertemulah kita dalam perpaduan yang Anis Matta menyebutnya dengan “Cinta Misi”.

Wallahu a’lam bisshowab.

43

Azhar Fakhru Rijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : FLP Jakarta Kammi Djuanda Garuda Keadilan Tasikmalaya

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *