Home Dunia Ide Anarkis-Islam, Mungkinkah ? ; Sebuah Pemahaman Awal
Anarkis-Islam, Mungkinkah ? ; Sebuah Pemahaman Awal

Anarkis-Islam, Mungkinkah ? ; Sebuah Pemahaman Awal

25
0

Oleh: Muhammad Anas

(Mahasiswa Fak. Dirasat Islam, UIN Syarif Hidayatullah)

“ Kaos tak pernah mati. Bentuk primordial merupakan blok yang tak jelas, monster yang ditakuti, serta kaku dan spontanitas.”

Hakim Bey

Mengangkat tema-tema Anarkis-Islam, dengan tokohnya Hakim Bey, menjadi pembahasan menarik di saat negara, yang merupakan basis besar kehidupan masyarakat, sedang dirongrong kekuasaan oligarki dan penyimpangan sosial. Kemiskinan, kapitalisme, korupsi, merupakan keadaan aktual yang sedang berlangsung di hampir seluruh tatanan global.

Masyarakat muslim kini, sudah lama tertidur dari kenyataan sosial itu, dan tenggelam dalam praktik-praktik ibadah dan fanatisme golongan saja. Persoalan umat muslim seolah-olah hanya dalam peribadatan dan bid’ah yang padahal justru akan mengasingkannya dari kehendak untuk hidup bersama.

Kemiskinan di tubuh umat misalnya, adalah sebuah penyakit dari penyimpangan kebijakan-kebijakan otoritas pemerintahan yang ada. Alih-alih memecahkan kebuntuan ini, para ulama justru menganggap dan berkhotbah di mimbar-mimbar bahwa kemiskinan adalah sebuah mandat dari langit, tanpa memandang bahwa mereka hidup di tengah-tengah oligarki pemerintahan. Kemiskinan laksana sebuah wahyu yang musti diterima dan dijalankan dengan tunduk dan patuh.

Kekerasan dan diskriminasi kelas sosial menjadi begitu nyata dengan berbagai coraknya. Pembangunan apartemen dan hunian mewah dan mall-mall di tengah-tengah rumah kumuh, serta pengambil alihan hak fungsi lahan yang sebenarnya untuk publik, menampakkan bahwa kapitalisme tak mengenal derita kemanusiaan.

Kesejahteraan dan kesenangan hidup manusia yang telah Allah janjikan  kepada umat manusia menjadi lenyap ditelan kerakusan segelintir otoritas manusia itu sendiri yang haus akan kekuasaan. Padahal Allah telah menetapkan kesejahteraan hidup bagi umat manusia, sebagaimana janji Allah kepada Adam dan Hawa (maupun iblis) :

“ dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 36).

Dan di firman Allah yang lain :

“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 29).

Islam dan Anarkisme

Tema-tema besar yang diangkat oleh kaum anarkis adalah negara, pemerintahan, dan juga penindasan terhadap martabat manusia yang dilakukan oleh otoritas pemerintah. Mohamed Jean Veneuse dalam bukunya, Anarca-Islam (2009), mengatakan bahwa Anarkis-islam, secara pasti, berhubungan dengan anarkisme, islam, dan negara-kapitalis. Dan juga menurutnya, bahwa Anarkis-Islam merupakan sebuah komitmen terhadap anti-otoritarianisme dan anti-kapitalisme dalam perlawanannya terhadap negara-kapitalis.

Di dalam sejarah masyarakat islam sendiri, paham anarkisme sebenarnya sudah terlihat di kalangan kaum Khawarij. Di tangan kaum Khawarij, otoritas tertinggi adalah Allah, sehingga mereka mengatakan bahwa tidak ada hukum kecuali Allah, dan tidak ada pemerintahan kecuali untuk Allah. Kaum Khawarij berpendapat bahwa umat muslim, secara khusus, tidak butuh terhadap imam (pemimpin). Hal ini merupakan pengembangan mereka dari teori-teori mengenai kekuasaan (khilafah).

Bahkan gerakan-gerakan kezuhudan (asketisisme) awal dalam islam, yang merupakan etika  para kaum sufistik, adalah bentuk sikap anarkis halus yang ditujukan untuk menanggapi situasi sosial-politik di zaman itu, terutama yang terjadi pada dinasti Mu’awiyah. Sikap kesewenang-wenangan penguasa maupun pola hidup hedonis para raja  ditanggapi oleh sebagian sahabat Rasulullah SAW dengan kezuhudan. Abu Dzarrin, misalnya, ia mengkritisi pola hidup hedonis pemerintah dinasti Mu’awiyah dan menyerukan keadilan dalam islam secara sosialis.

Bagi mereka kezuhudan adalah semacam katarsis yang mampu mengobati dari tindak laku represif pemerintah. Oleh karenanya, islam dan anarkisme sebenarnya sudah berkelindan lama dan mengambil bentuknya sebagai sikap anti-pati terhadap pemerintahan yang menindas.

Tinjauan Islam Tentang Negara

Meskipun tidak ada teks al-Quran yang secara eksplisit untuk mendirikan sebuah negara, namun banyak ulama berspekulasi tentang teori-teori dalam bernegara. Sedangkan di dalam teks al-Quran maupun sunnah hanya menyebutkan konsep-konsep imamah dan ulil amri (pemerintahan) saja, tanpa memaparkan pemahaman dalam bernegara secara tegas.

Konsep imamah maupun ulil amri hanya membatasi dirinya ke dalam hubungannya dengan penegakkan syariat islam tanpa tujuan untuk membentuk sebuah negara. Sedangkan pemahaman tentang imamah (kepemimpinan) maupun ulil amri sendiri masih problematis. Ada yang menghukumi wajib secara syariat dan ada yang mewajibkan secara akal saja tidak secara syariat. Namun ada pula yang berpendapat bahwa imamah maupun ulil amri wajib menurut syariat dan juga akal. Hal ini menjadi problematis dalam kaitannya dengan negara yang ruang lingkupnya jauh lebih besar.

Hingga akhirnya banyak ulama yang berpendapat bahwa islam adalah agama sekaligus negara. Beberapa ulama yang memandang pendapat itu adalah al-Mawardi dan Ibnu Khaldun. Mereka berpendapat bahwa islam merupakan agama dan negara. Asumsi-asumsi yang mereka tawarkan merupakan sebuah penafsiran dari konsep-konsep khilafah (kepemimpinan) dalam islam.

Negara menurut mereka merupakan sebuah tindak lanjut dari khilafah yang entitasnya hanya terjadi setelah era kenabian. Khilafah diartikan oleh Ibnu Khaldun sebagai politik yang mendasarkan tujuannya untuk membangun kemaslahatan umat manusia yang didirikan diatas bangunan syariat (hukum) islam.

Arti semacam ini memunculkan paradigma bahwa islam adalah ad-din (agama) wa ad-daulah (negara) dan menganut semacam teokrasi yang melandaskan agama dan negara sebagai sesuatu yang inheren. Sedangkan al-Mawardi menyebutkan bahwa khilafah merupakan sebuah objek pembahasan tentang pergantian peran (khilafah) dari nabi Muhammad SAW, baik dalam urusan agama maupun dunia.

Pandangan-pandangan di atas banyak disandarkan pada peran nabi Muhammad SAW di kota Madinah. Posisi nabi Muhammad di kota Madinah banyak diasumsikan sebagai kepala negara sekaligus pemimpin agama. Namun hal ini disanggah oleh Ibnu Taimiyah bahwa peran nabi Muhammad SAW di kala itu adalah sebagai rasul yang bertugas menyampaikan ajaran islam bukan sebagai penguasa. Menurutnya, kalaupun ada pemerintahan, itu hanyalah sebuah alat untuk menyampaikan agama dan kekuasaan bukanlah agama itu sendiri.

Kiranya jelas, bahwa dalam pandangan-pandangan di atas tidak memberikan sebuah paradigma yang baku untuk membangun sebuah negara. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman negara dalam islam masih menjadi perdebatan dan sebuah problema. Oleh sebab itu anarkis-islam menjadi sebuah niscaya, mengingat bahwa konsep pembentukkan negara dalam islam masih ambivalen.

Islam dan Manusia

Bangsa Romawi dan Persia dalam sejarahnya memiliki riwayat yang kelam terhadap kemanusiaan. Kedua bangsa ini membuat aturan dan undang-undang yang menindas rakyatnya. Manusia terbagi menjadi dua kelas sosial : para aristokrat dan rakyat jelata. Kaum aristokrat dapat hidup dengan bahagia, sedangkan kaum marjinal terus diburu oleh aturan-aturan yang mereka buat.

Sebagai contoh, ketika kaum elite mencuri maka mereka dapat dengan mudah keluar dari segala aturan dan terbebas dari segala bentuk hukuman. Sedangkan jika pelakunya adalah rakyat jelata maka hukuman datang mengebiri hak-haknya dengan kelaliman dan kesewenang-wenangan.

Di tempat yang lain kondisinya tidak lebih baik. Keadaan bangsa Arab jahiliyah tidak jauh berbeda dengan kedua bangsa besar tersebut. Bagi masyarakat Arab jahiliyah suku dan klan nenek moyang adalah suatu kebanggaan. Mereka saling membanggakan dirinya dengan leluhurnya dan nenek moyangnya.

Hingga keadaan tersebut membawa masyarakat Arab jahiliyah menjadi terbagi-bagi kelas sosialnya. Bagi mereka nenek moyang dan sukku adalah penentu dari status sosial seseorang. Maka terbagi kelas sosial mereka menjadi dua golongan : (suku) yang luhur dan yang rendah.

Hirearki semacam ini mempengaruhi situasi sosial bangsa Arab jahiliyah kala itu menjadi sebuah kaos yang tak dapat dipadamkan. Saling mencaci maki dan merendahkan suku lain dan diselesaikan dengan pedang sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah hidup masyarakat Arab jahiliyah. Sistem-sistem kelas sosial menjadi tampak kentara sebelum islam datang. Oleh sebab itu islam muncul sebagai reaksi dari stratifikasi sosial semacam itu. Islam menganggap manusia setara dan tidak mengunggulkan salah satu suku dari suku lainnya. Hingga rasulullah SAW bersabda :

“ wahai manusia, sesungguhnya Tuhan-mu satu, dan nenek moyangmu (pula) satu. Kalian semua (kembali keturunannya) kepada Adam, sedangkan Adam (berasal) dari tanah. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang bertakwa di antara kalian. Orang Arab tidak lebih unggul keutamaannya atas orang ‘ajam (non-Arab) melainkan dengan ketakwaannya.”

Maka hal ini jelas bahwa islam mementingkan sebuah sikap egaliter tanpa kelas sosial, yang pada masa sebelum islam martabat manusia direndahkan karenanya. Dalam kaitannya dengan anarkisme bahwa sikap egalitarian menjadi begitu penting di tengah-tengah masyarakat yang terklasifikasikan kelas sosialnya. Contoh yang aktual adalah yang terjadi di Myanmar, di mana etnis Rohingya ditindas dengan sewenag-wenag.

Karenanya, tidak ada sebuah alasan untuk merendahkan martabat manusia secuilpun, sedangkan Allah teramat memuliakan derajat manusia di antara makhluk-makhluknya. Hal ini senada dengan firman Allah :

“ sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam (manusia), Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami anugerahkan kepada mereka keunggulan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ [17] : 70).

Dalam dunia tasawuf posisi manusia berada pada puncaknya. Menurut Ibnu ‘Arabi, manusia memiliki dua macam bentuk : bentuk alam dan bentuk Allah, hingga Allah memerintahkan segenap malaikat untuk sujud kepada Adam. Oleh sebab itu menurutnya, manusia dititahkan sebagai khalifah di atas muka bumi. Maka sangatlah tidak wajar jika martabat manusia direndahkan dan di dinjak-injak demi sebuah kekuasaan yang fana.

Karenanya Anarkis-Islam menawarkan sebuah pentas yang baru dalam kehidupan beragama maupun sosial manusia, agar kehidupan bersama dapat berlangsung dalam rasa keadilan. Seperti yang dikatakan Mohammed Jean Veneuse bahwa anarkisme sendiri memperkenalkan dirinya sebagai tradisi yang prularistik, karena mengikuti pada Anarkis-Islam yang merupakan interpretasi ulang islam terhadap anarkisme.

Sumber Bacaan :

  1. Anarca-Islam ; Mohamed Jean Veneuse (2009),
  2. Al-Mujtama’ al-Islami ; Syaikh Muhammad Muhammad al-Madani,
  3. Al-Khilafah al-Islamiyah fi Mandzhur al-Farq al-Kalamiyah ; Dr. Abdussalam Abduh,
  4. Al-Fajr al-Islam ; Ahmad Amin
  5. Fushus al-Hikam ; Ibnu ‘Arabi
  6. Pancasila, Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani ; A. Ubaedillah dan Abdul Razaq,
  7. Tasawuf islam, telaah historis dan perkembangannya ; Abu Wafa’ al-Ghamimi al-Taftazani, terjemah Subhan Anshori Lc.
  8. TAZ ; Hakim Bey.

 

=================================================

Biodata penulis :

anasNama : Muhammad Anas

TTL     : Pekalongan, 15 Agustus 1992

Alamat : kel, Cirendeu, RT 001/003, Ciputat Timur, Tangsel

Pekerjaan : Mahasiswa

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat facebook : @Anasmuhammad853

Alamat email : anasmuhammad1592@gmail.com

Profil Singkat :

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, fakultas Dirasat Islamiyah (studi keislaman). Saya suka menulis dan mendengarkan musik. Membaca buku dan kitab berbahasa Arab adalah sudah bagian dari kewajiban saya. Terkadang menulis puisi dan cerpen. Memiliki minat dalam kajian keislaman dan tasawuf.

 

25

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *