Home Dunia Pemikiran Analisa Menghadapi Tribulasi dalam Dakwah (1)
Menghadapi Tribulasi dalam Dakwah (1)

Menghadapi Tribulasi dalam Dakwah (1)

25
0

“Bahwasannya agama (Islam) ini adalah suatu methode-ilahy bagi kehidupan manusia. Dia dapat dicapai dalam kehidupan manusia dengan usaha manusia sendiri dan dalam batas kemampuan manusia” -Sayyid Qutb dalam buku “Inilah Islam”-

Keraguan bagi mereka yang dihadapkan dengan dakwah agama ini adalah persoalan hidayah. Namun hal lain yang menghalanginya adalah gangguan, penyiksaan dan penindasan yang dialami oleh para Nabi dan para dai saat berdakwah di jalan Allah. Begitulah naluri manusia, saat dirinya harus ditemukan dengan marabahaya cenderung menghindar atau melawan lalu membuangnya. Tidakah kita bertanya tentang dari mana penindasa itu tiba? Mungkinkah kesalahan dalam perjalanan dai harus dibayar mahal dengan gangguan dan penyiksaan?

Khilaf bagi manusia tidak bisa dihindarkan. Sebab itu tribulasi dalam dakwah tidaklah tepat dikatakan sebagai hukuman. Karena jika tribulasi dakwah itu hukuman, selamanya Rasulullah tidak akan pernah melanjutkan dakwah Islam. Teguran dari Allah sekecil apapun Rasulullah langsung menghindarinya, lebih-lebih jika bentuk kekerasan dan gangguan itu lebih nyata, tidak mungkin Rasulullah melanjutkannya. Namun bukanlah dakwah sebuah pekerjaan besar jika tidak diisi dengan seni ujian yang indah.

Ujian itu hadir karena keteguhan, semangat dan keistiqomahan mereka dalam berdakwah. Cobaan bagaikan sebuah reward yang menunjukan bahwa dirinya telah benar dalam menempuh jalan dakwah. Tribulasi dalam dakwah Islam bukan hukuman, tapi kebanggaan bagi mereka yang menyatakan bahwa dirinyalah bagian dari penegak agama Allah. Gangguan dari musuh Allah adalah bukti keberadaannya telah kenyamanan mereka ketika Islam menyebar ke dalam hati manusia. Patutnya kita merasa ganjil ketika musuh nyaman dan santai melihat rutinitas yang kita anggap benar, karena artinya kita sedang berada dalam perangkapnya. Sebagaimana Allah berfirman :

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)”. (Q.S Al-Qalam: 9)

Selamanya musuh Allah tidak akan membiarkan dakwah ini berjalan mulus begitu saja. Sepanjang perjalanannya, tidak pernah dakwah sampai kepada tujuan dengan mudah. Ratusan judul buku selalu mengisahkan cerita klasik yang terus berkembang persoalannya. Hingga detik ini sekalipun, cerita itu tidak akan terhenti. Episode dakwah tidak berakhir melainkan kiamat yang memisahkan. Semua muslim berhak mendapatkan kebaikan dibalik keberkahan dakwah.

Mereka (musuh Allah) tidak akan berhenti berdusta, menista dan mengolok demi meragukan hati para dai. Semakin keras mereka menekan, semakin deras butiran kebaikan bertebar. Tinggal keikhlasan dan keteguhan yang akan memungutnya menjadi bekal untuk akhirat kelak. Begitulah tribulasi dakwah sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam. Bahwa selama berada di jalan dakwah sekalipun tertatih dan berdarah, kita tetap dalam kebenaran. Tetaplah berada dalam jalan kebaikan ini meski hanya menjadi kerikil dalam gerbong panjang nan besar ini.

Wallahu a’lam bisshowab.

25

Azhar Fakhru Rijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : FLP Jakarta Kammi Djuanda Garuda Keadilan Tasikmalaya

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *