Home Berita Persatuan Ulama Islam Dunia Mendesak Riyadh Agar Membebaskan Ulama yang Ditahan
Persatuan Ulama Islam Dunia Mendesak Riyadh Agar Membebaskan Ulama yang Ditahan

Persatuan Ulama Islam Dunia Mendesak Riyadh Agar Membebaskan Ulama yang Ditahan

51
0

DOHA, Qatar- PENAPEMBAHARU.COM-Persatuan ulama dunia pada selasa kemarin mengkritisi laporan penangkapan terhadap Da’I dan Ulama di Saudi Arabia.

Termasuk yang ditangkap adalah Salman Al-Auda, Da’i terkemuka yang juga adalah anggota persatuan ulama dunia.

Pada hari senin, aktifis melaporkan di sosial media bahwa pemerintah Saudi telah menahan lebih dari 20 Da’i dan Ulama dengan alasan yang tak diketahui.

Selain Auda, dilaporkan bahwa penangkapan juga menyasar pada Da’i terkemukan Aidh Al-Qarni dan Ali Al-Omari.

Pada hari minggu, Khaalid bin Fahd Al-Auda mengungkapkan di Twitter-nya bahwa pemerintah Saudi telah menangkap saudaranya Salman Al-Auda, ia tidak menyebutkan dengan pasti di mana lokasi penangkapannya dan alasan kenapa saudaranya tersebut ditangkap.

Saudi Arabia belum sama sekali mengeluarkan pernyataan tentang penangkapan.

Dari pernyataan yang diisukan senin kemarin, persatuan ulama’ dunia yang berbasis di Doha berasumsi bahwa penagkapan tersebut berhubungan dengan krisis diplomasi yang masih berlangsung, –yang sekarang telah masuk bulan keempat—di mana Qatar berkonfrontasi dengan 4 negara Arab yang dipimpin oleh Saudi Arabia.

Gulf Cooperation Council (GCC) menyatakan, bahwa Auda tidak melakukan apa-apa bahkan ia mengajak kepada persatuan antara negara-negara yang bersahabat tersebut.

Sekretaris jendral persatuan ulama dunia, Ali Qaradaghi berkata bahwa Auda dikenal dengan usaha-usaha dakwahnya dan terkenal dengan kemoderatannya.

Ia juga menggaris bawahi bahwa Auda, di tweet terakhirnya, mengajak negara- negara teluk ”untuk datang bersama demi rakyatnya”

Persatuan ulama dunia juga mengajak Raja Salman utnuk mengirimkan rilis Da’i dan Ulama, yang seharusnya tidak digunakan sebagai pion dalam krisis politik.

Di awal Juni, Saudi, UAE, Mesir, dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatic dan perekonomian dengan Qatar, dengan dalih dukungan terhadap terorisme di wilayah tersebut.

Keempat negara tersebut pun melakukan embargo terhadap Qatar, dengan mengajukan beberapa daftar persyaratan pencabutannya, di antaranya adalah dengan membekukan media mainstream setempat, Al Jazeera, jika tidak, maka sanksi (embargo) akan berlanjut.

Sementara itu, Doha, sejauh ini menolak untuk menuruti, dan menangkal dengan penuh berkeberatan tuduhan- tuduhan penyokongan terhadap terorisme dan penggambaran terhadap usaha-usaha untuk melanggar hukum Internasional.

*Michael Hernandez contributed to this report from Washington, via Anadolu Agency

 

51

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *