Home Dunia Pemikiran Agama dan Negara, Adakah Bertentangan dalam Islam?
Agama dan Negara, Adakah Bertentangan dalam Islam?

Agama dan Negara, Adakah Bertentangan dalam Islam?

21
0

Dewasa ini, banyak dari kita yang terjangkit virus pemikiran, yang disebabkan oleh Ghozwul Fikri (perang pemikiran), pasti kita sering mendengar pernyataan berikut, “Eropa mencapai puncak kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuaan, setelah abad pertengahan- ketika mereka memisahkan agama dari negara, dan menjauhkannya dari sendi- sendi peraturan dan politik, begitupula kita yang di Arab sekarang,  dan umumnya di negeri Islam secara keseluruhan, tidak mungkin kita dapat mencapai kejayaan, kecuali dengan melakukan apa yang Eropa lakukan, yaitu memisahkan agama dan negara!”

Klaim memisahkan agama dan negara bermula dari ungkapan yang terpampang di Injil Matta, “tunaikan apa yang untuk Kaisar, kepada Kaisar, dan yang untuk Tuhan kepada Tuhan”. Makna ungkapan tersebut, bahwa risalah Al- Masih menyatakan gambaran- gambaran sebagai berikut:

  1. Bahwasanya risalah tersebut lebih berkutat pada perbaikan akhlaq, dan keagungan jiwa.
  2. Bahwasanya risalah tersebut tidaklah ikut serta masuk ke dalam urusan kenegaraan, dan tidak memerhatikan perkara hukum dan permasalahan sekitar.
  3. Bahwasanya risalah tesebut muncul sebagai pelengkap syariat Musa Alaihissalam.
  4. Bahwasanya tidak ada sistemik kependetaan yang menjadikan para pemeluk agama memiliki perangkat untuk mewadahi nurani orang-orang dan keyakinannya.

Padahal, Masihiyyah sekitaran abad ketiga awal masehi, menyeru pengikutnya untuk mengamalkan amalan- amalan Al- Masih, yang tergambar dalam penyifatan kasih sayang, cinta dan rahmat. Ia juga memasukkan Paganis, dan Yahudi, dalam ruang cara dakwah yang tenteram.

Oleh sebab itu, Masihi sikapnya sebenarnya tidaklah menentang adanya negara, dan para pemuka agama pada saat itu tidaklah anarkis seperti setelahnya, mengekang kebebasan beserta pemikirnya, bahkan mereka berdiri menyokong negara, sistemnya dan tujuan- tujuannya. Begitulah asal mula ide sekulerisme. Yang apabila Islam terapkan latar belakang historisnya saja berbeda, begitu pula pembawaanya secara keseluruhan sebagai sistem berkehidupan, Lantas bagaimana Islam memandang perilaku sekulerisme?

Islam yang menggaungkan sistem komprehensif kemanusiaan tentu menjadi antitesa sekulerisme, dari mulai urusan binatang saja Islam telah banyak berkoar menyeluk beluk, apalagi bernegara, tentu Islam berbicara tentang negara, lantas bagaimana Islam mengintegrasi agama dan negara?

Islam merupakan agama karena berdiri atas beberapa dasar berikut:

  1. Berdiri atas akidah ketuhanan, yang membebaskan akal dari mitos, dan mengajak pada ketauhidan mutlak kepada Allah Ta’ala yang tiada bagi-Nya sekutu.
  2. Berdiri atas ibadah yang mutlak, yang meninggikan kualitas jiwa, merenda akhlaq, dan memperbaiki amalan.
  3. Dan berdiri atas prinsip akhlaq yang kokoh, yang menumbuhkan kepribadiaan setiap insan, dan mengangkatnya pada tingkatan keutamaan tertinggi, kemuliaan dan kesempurnaan

Adapun Islam merupakan sistem bernegara atas dasar hal- hal berikut:

  1. Ketua, Amir atau Khalifah, masyarakat memilih mereka sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

 “ sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka” (As- Syura’: 38)

  1. Adanya konstitusi madani, politik dan ekonomi. Islam menaruh kaidah- kaidahnya dan prisnipnya yang umum, dan kemudian memberikan wewenang untuk para Mujtahid di setiap zaman, untuk merumuskannya demi maslahat umat. Yang di mana konstitusi tersebut juga menyinggung tentang hukum sebab- akibat kejahatan baik itu bentuknya Hudud ataupun Ta’zirot.
  1. Adanya kemiliteran, yang mengusir para musuh, menjaga negara, dan membela sekuat tenaga tanah air Islam, dan menegakkan kalimat Allah, dan Syiarnya:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” (Al- Anfal: 60)

  1. Dalam pendidikan, baik itu ilmu syar’i ataupun alam, selama untuk kemaslahatan agama, bagsa dan dunia, maka dari itu Islam mewadahi pendidikan sebagai instrumen bernegara:

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Thaha: 114)

  1. Menjaga kemaslahatan umum, dan itu tergambar dalam Al- Amru bil ma’ruf wan nahyu anil munkar, dan mengimplementasikan pasal- pasal Islami, dan mewujudkan kemaslahatan bersama, dan mencegah keburukan dan kejahatan dari masyarakat seluruhnya.

Dan masih banyak lagi kaitan antara Islam dan sila bernegara, yang jelas, sekulerisme pada akhirnya memunggungi fitrah kemanusiaan itu sendiri, ia bukanlah lambang kebebasan, apalagi kemajuaan, keruntuhan negara dengan sistem tersebut tinggalah menghitung detik, dan Islam akan kembali jaya seperi sedia kala.

Allahu a’lam bis showab  

*Sumber: Nasih Ulwan, Abdullah. 2013. Islam Syari’atuz Zaman wal Makan. Cairo: Darussalam.

 

21

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Lahir di Sungai Penuh 26 Mei 1998. Kuliah: Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Usuluddin. Riwayat Organisasi dan Aktivitas: Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *