Home Dunia Pemikiran Analisa Insiden al Raudhah, Mesir; Siapa Aktor dan Siapa yang Diuntungkan?
Insiden al Raudhah, Mesir; Siapa Aktor dan Siapa yang Diuntungkan?

Insiden al Raudhah, Mesir; Siapa Aktor dan Siapa yang Diuntungkan?

147
0

Belum pulih dari kesedihan akibat Insiden Wahah yang menewaskan lebih dari 50 orang pada bulan kemarin, di minggu terakhir bulan November ini Mesir kembali berkabung akibat serangan Masjid al Raudhoh yang menewaskan lebih dari 300 jamaah shalat jumat.

Namun berbeda dengan insiden Wahah yang sudah bisa ditebak siapa dalangnya, Insiden al Raudhah lebih komplek dan lebih rumit lagi penafsiranya. Atau paling tidak, peristiwa ini adalah bentuk serangan pertama kali untuk kontek Mesir yang menargetkan Masjid Agung dan jamaah yang cukup banyak.

Hingga hari ini media Mesir masih diramaikan perbincangan seputar siapa dalang dan actor di balik aksi teror ini serta apa motif dan pesan yang ingin disampaikannya.

Dari sejak empat tahun yang lalu, kondisi Sinai Utara memang sudah tidak terkendalikan, terutama setelah berbaiatnya Anshor Bait al Maqdis kepada ISIS. Serangan dadakan terhadap pihak keamanan sering kali terjadi, peledakkan yang menargetkan kantor unit kepolisian telah menjadi insiden rutinan. Bahkan sebagaian pengamat menilai bahwa kondisi Sinai Utara yang sebenarnya lebih kacau dari kondisi Suriah. Oleh karena itu, serbuan Militer Mesir terhadap kelompok militant di Sinai Utara sudah tidak bisa menggunakan jalur darat, dan selalu menggunakan jalur udara.

Siapakah Aktor di Balik Insiden al Raudhah?

Sehari setelah Insiden al Raudhah, situs berita al Masry al Youm melansir berita bahwa jamaah Anshor Bait al Maqdis bertaggungjawab atas peristiwa serangan al Raudhah, namun ketika itu kebenarannya sulit untuk dibuktikan karena hanya didasarkan pada pernyataan Anshor Bait al Maqdis melalui setatus facebook-nya yang mungkin saja itu account abal-abalan, apalagi berita yang diekspos oleh media ternama di Mesir itu tidak lebih dari dua paragrap saja.

Dan yang lebih aneh lagi, kantor media at Tahrir memberitakan pernyataan Kementrian Wakap Mesir bahwa pasca insiden al Raudhoh pemerintah harus membersihkan pemikiran Ikhwanul Muslimin dan setiap apa yang berhubungan dengan jamaah terlarang ini. Dengan kata lain, dalam pandangan Kementrian Wakap Mesir pemikiran IM memiliki peran dalam peristiwa yang tidak manusiawi ini.

Hingga dikalangan mahasiswa Indonesia di Mesir, muncul bebagai statemen ngawur orang-orang yang dengki terhadap IM–yang ingin memancing di air keruh– menyatakkan bahwa insiden al Raudhah adalah bentuk penerapan dari pemikiran Sayyid Qutb, yang menganggap masjid sebagai tempat ibadah jahiliyyah, padahal beliau terbebas dari pernyataan seperti itu.

Penulis sendiri hingga hari ini masih mengumpulkan berbagai pengamatan yang ada di media dan belum bisa menyimpulkan secara pasti siapa dalang dan actor yang sebenarnya. Namun setelah tiga hari dari insiden al Raudhah, mulai nampak beberapa indikasi dan informasi, serta dugaan kuat para pengamat yang ditujukan pada IS Sinai atau yang dikenal Ansor Bait Al Maqdis.

Beberapa temuan dilapangan menyatakan bahwa Masjid al Raudhah adalah masjid tarekat sufi, sebagaimana mayoritas masyarakat yang tinggal disekitarnya adalah masyarakat sufi. Samih Ied pakar dan pengamat gerakan-gerakan Islam mengatakan bahwa kelompok militan Sinai sempat mengajak agar masyarakat setempat bisa mendukung mereka,  namun masyarakat setempat menolak dan malah merapat ke pemerintah. Timothy Caldas, seorang analis dari Institut “Independen” untuk kajian Politik Kebijakan Timur Tengah yang berbasis di Washington juga mengeluarkan analisa yang sama dengan Samah Ied di atas.

Emadud Din seorang kolomnis Mesir dalam harian Shouruk menguatkan analisa ini bahwa setelah ISIS terpukul dan gagal di Irak dan Suriah, para milisi ISIS datang ke Sinai berupaya mewujudkan proyek mereka dengan mengadopsi cara-cara yang mereka gunakan di Irak dan Suriah, melakukan peledakkan di masjid-masjid.

Akan tetapi Samih sendiri mengakui bahwa hal itu sangat sulit untuk dibenarkan, karena realitas Mesir berbeda dengan realitas Irak dan Suriah. Di Mesir tidak ada perbedaan sekte Suni dan Syiah, hingga mereka menargetkan masjid dan jamaah shalatnya.

Alasan lain yang menguatkan dugaan ini adalah pernyataan yang disampaikan salah seorang intelegen Mesir—sebagaimana dilansir situs paltoday.ps –bahwa insiden al Raudhah ditujukan sebagai bentuk hukuman ISIS terhadap pihak keamanan yang telah menangkap 2 orang dari milisi bersenjata ISIS Sinai beberapa pekan lalu.

Analisa lainnya adalah insiden itu ditujukkan sebagai bentuk penolakkan kelompok Ansor atas Rekonsiliasi Palestina yang dimediasi Kairo, seiring banyak dari kelompok perlawanan yang menolak upaya perdamaian Hamas – Fatah ini dan menganggap sebagai permainan Amerika – Israel semata. Namun kedua analisa terakhir ini tidak sekuat analisa pertama, karena yang menjadi targetnya adalah masjid dan warga sipil.

Maka sangat jelas Insiden Raudhah memang benar-benar rumit, bahkan Samih Ied saat di wawancarai oleh chenel el Ghad mengatakan bahwa “hingga syetan pun tidak akan mampu menafsirkan serangan al Raudhah kemarin.”

Oleh karena itu kita tidak boleh menutup kemungkinan lain siapa actor dibalik penyerangan brutal ini. Apalagi insiden ini terjadi dihadapan beberapa proyek besar, seperti Shofqot Qorn (Mega Proyek Amerika Israel), Embargo Qatar, Rekonsiliasi Hamas Fatah, Misi Pemberantasan Terorisme yang diserukan Saudi CS, Pemilu Mesir, Emergency State di Mesir, dsb.

Proyek-proyek besar di atas telah menciptakan iklim politik Timur Tengah yang penuh dengan kabut dan badai, chaos dan huru-hara, khususnya wilayah Sinai yag menjadi target dari Shofqot Qorn. Wilayah ini akan menjadi tarik menarik berbagai kepentingan, antara Amerika, Israel, Mesir dan Kelompok Militan Sinai.

Yang Paling Diuntungkan

Terlepas siapa dalang dan actor di balik insiden al Raudoh, namun pihak yang paling diuntungkan dari peristiwa ini adalah ‘Sang Jendral’ (Sisi) sendiri yang akan maju kembali di pilpres Mesir awal tahun mendatang.

Posisi ‘Sang Jendral’ menjadi semakin kuat, baik di dalam maupun di luar negeri untuk meneruskan misinya ‘Memerangi Terorisme’, sebagaimana ‘Sang Jendral’ tidak perlu menciptakan peristiwa  lagi untuk memperpanjang Emergency State guna menekan kekuatan oposisi.

Oleh karena itu, ISIS atau Ansor Bait al Maqdis, kalaupun benar mereka dalang dan actor serangan al Raudhah, mereka tidak duntungkan sedikitpun.

Wallahu ‘Alam Bisshowwab

147

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Diplom Program Master di American Open University Cairo, Egypt 2016. Hingga sekarang sedang menulis Thesis Master di Universitas Al Gazera, Sudan. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016. Koordinator program 'Kuliah Pemikiran Islam' 2017, kerjasama IIIT, Muhammadiyah dan Syathibi Center.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *