Home Dunia Ide Menjerat Manuver Politik Trump Pasca Resolusi PBB
Menjerat Manuver Politik Trump Pasca Resolusi PBB

Menjerat Manuver Politik Trump Pasca Resolusi PBB

93
0

Oleh: Nurfarid

(Pengkaji Pemikiran Islam)

PENAPEMBAHARU.COM — Suasana menegangkan meliputi Sidang Umum PBB yang digelar untuk menetapkan resolusi menentang keputusan Amerika soal Al Quds,  karena ulah Amerika yang angkuh dan arogan dimana sebelumnya ia telah membatalkan –melalui hak vetonya–rancangan resolusi di DK yang telah disetujui oleh 14 negara dari 15 negara anggota, kemudian dalam Sidang Umum kemarin  Negara adi daya ini dengan angkuhnya mengancam akan mendata setiap negara yang memilih resolusi untuk kemudian menghentikan bantuannya.

Sangat menegangkan, karena apabila suara pendukung resolusi dibawah 2/3 dari jumlah anggota, maka akan semakin memberikan legitimasi kepada Trump untuk merealisasikan keputusannya. Para pengamat telah menangkap beberapa sinyal yang menunjukkan kekalahan resolusi, terutama setelah Nicky Hailey, Duta Besar AS untuk PBB, melontarkan ancamannya. Hal ini karena banyak dari negara-negara Islam yang masih bergantung kepada bantuan Amerika, diperkuat lagi dengan tidak hadirnya beberapa negara Islam dalam KTT Darurat OKI di Istambul.

Namun setelah melalui prosesi yang menegangkan, para delegasi negara-negara di dunia lebih siap menerima segala konsekwensi yang diancamkan Amerika dan memilih berdiri di samping Palestina, Hak Asasi Manusia, sejarah dan perdamaian dunia.

Kita telah menyaksikan bagaimana Amerika Serikat gagal mengancam masyarakat dunia. 128 negara secara terang-terangan menentang keputusan Trump ketika mereka memilih resolusi pada Sidang Umum PBB kemarin, yang meminta Washington untuk menarik keputusannya mengakui Al Quds sebagai ibu kota Israel.

Jeratan Selanjutnya Pasca Kemenangan Resolusi

Kita tentunya patut berbangga dengan kemenangan resolusi ini, setidaknya kita telah menjerat salah satu langkah Amerika untuk mewujudkan keputusannya. Sebagaimana kemenangan ini juga merupakan capaian besar bagi kita untuk menjaga Al Quds dan sejarahnya, serta memperjuangkan kepentingan Palestina.

Namun harus kita ketahui bahwa kemenangan atas resolusi PBB ini– menurut pakar hukum internasional Dr. Abdul Karim Shabeir– tidak mewajibkan Amerika Serikat untuk mundur dari keputusannya, karena resolusi yang dikelurkan Majlis Umum PBB bersifat tidak mengikat, tidak juga menjatuhkan sanksi kepada mereka yang melanggar keputusannya, berbeda dengan resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB, yang bersifat wajib dan mengikat semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan pelanggarnya dikenai sanksi hingga sampai sanksi intervensi militer .

Karena tidak bersifat mengikat, maka resolusi PBB ini hanya akan menjadi rekomendasi, dan kalau setatusnya hanya bersifat rekomendasi maka ia tidak akan memberi pengaruh apapun bagi negara arogan dan angkuh seperti Amerika, apalagi Amerika sendiri memiliki rasa percaya diri tingat tinggi bahwa mayoritas negara-negara di dunia masih bergantung kepadanya, baik secara politik, keamanan dan ekonomi, terutama Dunia Islam. Maka Trump akan terus bermanuver dan memainkan langkahnya untuk mewujudkan keputusannya.

Oleh karena itu pasca resolusi PBB yang mendapat dukungan internasional dalam melawan arogansi Israel dan Amerika Serikat, pemerintah Palestina dengan di dukung negara-negara Islam, harus segera menghadap ke Pengadilan Internasional (Badan Peradilan Utama Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berbasis di Markas Perdamaian di Den Haag, Belanda) untuk mengambil keputusan hukum yang lebih mengikat Amerika Serikat, yang memaksa mereka mundur dari keputusannya yang tidak adil, yang telah menargetkan sejarah dan hak rakyat Palestina, serta melanggar resolusi dan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bahkan Resolusi PBB akan lebih mengikat lagi ketika keputusan tersebut dibuat dalam bentuk undang-undang, dan dimasukkan ke dalam hukum negara yang memiliki pengaruh internasional.

Denga demikian resolusi PBB terkait keputusan Trump tidak haya sebatas rekomendasi yang tertulis di atas kertas, resolusi tersbut akan menjadi resolusi internasional yang akan menjerat kuat manuver politik Trump dan mengikat erat langkah-langkah Amerika untuk mewujudkan keputusannya, bahkan meningkatkan isolasi Israel dan Amerika Serikat di dunia, baik pada tingkat politik maupun diplomatik, terutama ketika undang-undang dan perjanjian internasional disepakati berdasarkan moralitas, kemanusiaan dan rasa saling menghormati.

Mari Belajar Pada Jeratan-Jeratan Lebah !

Perjuangan rakyat palestina di lapangan, dan pemerintahnya di medan deplomatik tidak akan cukup untuk melawan kedzoliman Amerika dan Israel, maka menjadi tanggungjawab Dunia Islam untuk terus mendampingi perjuangan mereka, mengawal resolusi PBB untuk membatalkan keputusan sepihak Amerika.

Memang banyak dari negara-negara Islam yang masih menggantungkan keamanan dan ekonominya ke Amerika,  dan tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan Negara-negara Islam sangat jauh bila dibandingkan dengan kekuatan Amerika. Namun mari kita belajar bagaimana makhluk kecil seperti semut mampu mengalahkan makhluk besar seperti gajah. Mari kita mengambil hikmah bagaimana jeratan-jeratan laba-laba yang rapuh mampu mengusir para pemburu Nabi Muhammad dan melindungi Sang Pembawa Agama ini dari makar jahat kaum Quraisy. Oleh karena itu bukan hal kebetulan apabila Allah mengabadikan jeratan-jeratan lemah laba-laba di dalam Alquran.

Meski kekuatan kita lebih lemah dari pada kekuatan Amerika, namun kita masih bisa untuk menjerat langkah-langkah yang ditempuh Amerika dalam mewujudkan keputusannya, meski jeratan-jeratan kita sangat lemah dan rapuh layaknya jeratan laba-laba, bukan hal yang mustahil jeratan-jeratan itu akan mampu mencekal langkah mereka dan melindungi Al Quds dan Palestina dari cengkraman tangan jahat mereka.

Diantara jeratan-jeratan yang bisa dilakukaan oleh umat Islam adalah;

  1. Melangsungkan aksi protes hingga Trump membatalkan keputusannya. Dalam setiap pekan, umat Islam harus membesarkan dan meluaskan aksi protes ini hingga menjadi mukjizat sejarah di dunia yang mampu mengguncangkan Gedung Putih. Saya percaya bahwa Indonesia memiliki keahlian dalam hal ini, sebagaimana memiliki mujahid 212 yang pernah mengguncangkan istana. Oleh karena itu, aksi kita jangan terhenti di 1712, namun harus menggelar aksi susulan yang lebih besar dan ‘menggelegar’.
  1. Kalau Amerika masih tetap arogan, dan terus meneruskan niat bususknya, maka negara-negara Islam harus kompak untuk memutuskan hubungan diplomatiknya, menarik kedutaanya dari Amerika, sebagaimana memulangkan duta mereka ke negerinya.
  1. Membaikot setiap produk Amerika. Jeratan ini kalau dilihat secara personal memang nampak sangat lemah dan rapuh, namun kalau dilakukan secara berjamaah, dan dengan komitmen yang tinggi, maka akan mampu menjerat ekonomi Amerika, hingga terjeratlah langkah politik mereka.

Dalam Sidang Umum PBB kemarin Amerika berupaya untuk menunjukkan kekuatannya kepada dunia, namun keputusan akhir sidang telah mempertontonkan bagaimana kelemahannya. Dengan ancaman yang dilontarkannya– meminjam istilah Hasan Nafiah, guru besar politik Universitas Cairo–Amerika telah melakukan ‘pemerasan politik’, dan mencederai demokrasi yang selama ini ia promosikan, yang karenanya ia menumbangkan Sadam, dan mengintervensi setiap negara yang dinilainya tidak sesuai dengan nilai demokrasi yang sudang menjai spirit zaman.

Maka pasca resolusi PBB terkait Al Quds, Amerika akan semakin terasing di mata dunia, pengaruhnya akan semakin melemah, keputusannya akan semakin rapuh, lobi politiknya akan semakin menumpul. Amerika telah gagal memainkan perannya, dan dalam waktu dekat ia akan mengalami prustasi yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Maka jangan perah mengatakan bahwa suara anda tidak akan ada pengaruhnya, jangan pernah katakan bahwa kebijakan Indonesia tidak akan memberikan perubahan apapun, namun berbuatlah semampu kita untuk melawan  kedzoliman dan menegakkan keadilan. Kalau tiga jeratan di atas bisa diterapkann secara kompak oleh umat Islam maka tidak hanya akan mencekal langkah Amerika, namun akan melumpuhkan gerak-gerik mereka.

Wallahu ‘Alam Bishowwab.

93

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *