Home Dunia Ide Mengembalikan Nilai Juang yang Hilang
Mengembalikan Nilai Juang yang Hilang

Mengembalikan Nilai Juang yang Hilang

23
0

Tatkala dunia ini hampir terjerumus ke dalam jurang kehancuran, karena kebodohan dan kebiadaban. Tidak ada nilai, norma dan etika. Seluruh hidup manusia saat itu dipasrahkan kepada kebodohan kolektif. Lalu tampil Islam dengan konsep ke-Ilahian, persaudaraan dan kebenaran. Mengarahkan manusia kepada cahaya kebebasan meninggalkan kejahilan dan tahayul. Diletakan makna hidup selaras dengan fitrah manusia dimanapun mereka berada. Seketika musyrik berubah menjadi iman, dilancarkanlah ibadah dan muamalah. Ajarannya yang lengkap dan mudah mengatur hubungan sesama insan dan kepada Tuhan, melalui jalur horizontal dan vertikal.

Lalu, semarak orang Barat yang gelap menghadapi masa depannya dengan berguru dari orang Islam. jangan bayangkan kegelapan Barat itu dengan gedung-gedung tinggi yang lampunya tidak menyala. Mereka mungkin tidur beralaskan tikar, dengan perumahan yang kumuh, sekitarnya dikelilingi oleh hutan belantara. Pada masanya Cordova dan Baghdad menjadi pusat ilmu dan budaya. Ribuan buku menghiasi perpustakaanya, siapapun mereka bisa membaca, menganalisa, menyampaikan dan menerjemahkannya. Islam terbuka bagi siapapun mereka yang ingin memperbaiki taraf hidupnya. Hingga Barat menikmati buah dari perjuangan mereka dan kebaikan umat Islam hingga sekarang.

Politik, sosial, ekonomi, kemasyarakatan maupun ilmu pengetahuan yang mulai maju memang cenderung mengantarkan manusia rakus akan kemegahan, kemewahan dan kekuasaan. Akhirnya ambisi-ambisi besar itu dipandangnya secara subjektif menurut masing-masing kepala mereka, dan perpecahan tidak bisa lagi terhindarkan. Terbius oleh kelengahan hati dan diri, kekayaan dan kekuasaan tidak lagi diperhitungkan dengan matang. Hingga jurang keruntuhan sudah semakin mendekati. Benar kata Lord Acton, “authority tends to corrupt”.

Begitulah barangkali kesalahan dan kekalahan umat Islam. Segalanya kembali pada akidah, keyakinan dan keimanan yang mulai dan terus melemah sehingga kita seperti orang bodoh yang mudah dipengaruhi oleh godaan yang mengantar pada bencana. Pertahanan terkuat yang pernah Rasulullah ajarkan adalah fondasi akidah yang kuat. Ketika grafik keimanan menurun, maka jiwa pelopor peradaban akan tergerus oleh kontes kebiadaban. Bukan sesuatu yang ajaib jika Barat merebut kekuasaan dengan menghapus jejak Islam sebagai peradaban yang pernah megah pada masanya. Itu terjadi berkat jasa kita melemahkan akidah dan runtuhnya potensi ibadah dan muamalah.

Benar lah apa yang Rasulullah sabdakan,”Mereka diperebutkan ibarat makanan di atas pinggan”. Salah seorang sahabat bertanya, “apakah di kala itu karena kita sedikit?”. Tidak!! Malahan pada waktu itu jumlahmu besar, tetapi engkau ibarat buih yang mengalir. Dan pada waktu itu Allah mencabut persaan takaut dari hati musuh-musuhmu, sedangkan pada dirimu akan tertimpa wahn. Sahabat bertanya, “Apa wahn itu ya Rasulullah?” yakni cinta dunia dan takut mati”.

Sehingga boleh lah kita menyebut itu semua sebagai faktor utama dari nilai juang yang hilang. Kehilangan bukan berarti tidak pernah ada, ia adalah momen-momen yang pernah kita penuhi tapi kita melupakannya. Atau mungkin kekuasaan yang pernah digenggam, namun dicuri dalam kedudukan yang rentan. Maka wajarlah jika kita arahkan kehilangan itu kepada solusi membangkitkan kembali nilai juang yang pernah pendahulu kita pertontonkan. Kita susun kembali bangunan ketabahan, keuletan, ksatria yang ditegakan oleh generasi terdahulu. Tentunya fondasi terkuat untuk melawan penyakit yang Rasulullah menyebutnya dengan wahn.

Dalam takaran Indonesia, nilai juang memang tidak bisa kita sama ratakan, karena para pejuang dulu adalah kumpulan manusia majemuk. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Tapi ada yang bisa kita satukan dalam kemajemukan, yaitu bela negara dan tak takut mati. Pejuang memiliki visi yang sama, yaitu membebaskan bangsa dari kepungan  para kompeni. Dan praktiknya mereka berjuang tak kenal lelah, tak takut mati sekalipun harus beradu bambu dengan senapan api. Dengan ini Islam telah memberikan pondasi yang sejalan dengan proses kita berjuang. Bagi muslim menguatkan keimanan adalah cara kita mengembalikan nilai juang yang pernah ada.

Wallahu a’lam bisshowab.

23

Azharrijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : Ketua FLP Kuningan (2018/20), FLP Jakarta, Garuda Keadilan Tasikmalaya/Kuningan, PKSMuda Kuningan

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *