Home Dunia Ide Diary Azhary: Karena Cuaca
Diary Azhary: Karena Cuaca

Diary Azhary: Karena Cuaca

76
0

Dear Diary..

Melingkar seminggu sekali selalu melahirkan inspirasi tersendiri. Hujan, siapa bilang Mesir selamanya panas gersang, buktinya hari itu hujan, tanda bahwa musim dingin sedang melambai tangan menyarat perpisahan. “jarang- jarang ya hujan, ada apa dengan cuaca Mesir hari ini?”, kata seorang teman seusai pulang dari lingkaran. Sederhana sekali, bagi sebagian orang mungkin tanya itu hanya numpang lewat permisi, tidak denganku, ia adalah inspirasi. “ada apa dengan cuaca Mesir hari ini?”, kini kumengerti arti dari Tarbiyyah itu sendiri, amaliyyatut ta’allumil mustamir, proses belajar berkesinambungan, belajar..memahami ulang.. belajar.. memahami ulang sampai mengerti. Semakin berkesinambungan, aku semakin mengerti, bahwa tarbiyyah adalah inspirasi. “ada apa dengan cuaca Mesir hari ini?”, sepulang dari lingkaran, tentang cuaca.. kutemukan inspirasi..

Dear Diary..

A Millennial Job Interview, adalah salah satu video sarkastik yang kutemukan di kanal Youtube. Video yang cukup menohok menggambarkan bagaimana teknologi mengubah generasi muda, di sekian menit pertama terdapat dialog yang renyah, “apakah anda professional?”, tanya seorang bapak tua yang mewawancara seorang pemudi calon karyawannya, “Snapchat, Instagram, Pinterest, Vines, Twitter, dan yang satu lagi.. anda pasti tahulah..”, jelas pemudi itu dengan sumringah menyebut satu persatu media sosial yang ia punya, yang menurutnya dapat meyakinkan bahwa ia memang seorang professional dalam dunia teknologi, di akhir penjelasannya ia menyisakan prakata, “anda pasti tahulah..”, kemudian dijawab oleh bapak itu, “pasti anda akan nyebut Facebook?”, pemudi itu langsung tertawa cekikikan meremahkan mendegarnya, “(Facebook) itu untuk orang lanjut usia, seperti orangtuaku.. anda lucu..”. mendengar jawaban tersebut, bapak itu terlihat kebingungan, bahkan terlihat seperti menyimpul rasa malu.  “Haruskah aku malu, ketinggalan zaman?”, pertanyaan itulah yang muncul pertama kali selesai mendengar dialog tersebut, pertanyaan itu menghampiriku mencoba mengungkit fakta bahwa Facebook baru kumiliki tahun 2016 lalu.

Bagiku tidaklah begitu, memiliki Facebook di umur 17 tahun adalah karunia, sedikitpun tak ada sesal. Jika kamu bertanya mengapa? Akan kujawab dengan satu kata, cuaca. Memiliki sesuatu terkadang harus memikirkan kesiapan. sebelum 17 tahun, aku dihadapkan dengan sebuah pemandangan, di mana individu seumuranku terlihat kurang bijak mengelola dinding sosial medianya, itulah yang meyakinkanku bahwa di masa itu, cuaca belum terlihat cerah kupandangi untuk memiliki sosial media. Di akhir hari- hari SMA, nampaknya cuaca mulai terlihat cerah, apalagi dengan adanya ramalan cuaca beasiswa, waktunya terbang melayang menutupi jejak ketertinggalan, bukan hanya menutupi jejak, namun juga memetakan jejak baru penuh kesiapan. Bila kupahami lebih jauh lagi, bukankah itu juga terjadi pada Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya?, “Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 22), mereka diangkat mengemban risalah di cuaca yang tepat lagi siap. Karena ini semua tentang kebijakan yang tidak didapat oleh bocah ingusan yang berlarian saat cuaca hujan ..

Dear Diary..

Angin segar kemerdekaan akhirnya berhembus ke Indonesia, Ir. Soekarno yang menjadi tokoh utama, memprediksi akan memproklamirkannya pertengahan Agustus karena dirasa Jepang akan terpuruk di perang pasifik saat itu, namun ternyata dipercepat setelah didesak kaum muda, akhirnya kemerdekaan diproklamirkan juga. Lanjut ke Orde Baru yang naik menggantikan Orde Lama karena ikut percaturan Kapitalisme global. Reformasi yang dikomandoi mahasiswa lanjut meruntuhkan rezim otoritarian, Indonesia mahasiswanya punya wajah di lensa media dunia, gedung parlemen diduduki tanda kemenangan di genggaman tangan rakyat. Apakah kamu yang membaca rentetan peristiwa itu menganggap itu hanyalah tentang dinamika Indonesia semata? Tidak, lagi- lagi ini tentang cuaca, itu semua berhubungan dengan cuaca di luaran sana. Merdekanya Indonesia karena cuaca perang pasifik yang kunjung memojokan Jepang, naiknya orde baru karena cuaca ekonomi global yang mendesak Indonesia ikut percaturan kapitalisme global, Orde Baru runtuh bukan hanya karena people power semata, itu juga karena cuaca global di mana Soviet runtuh di awal 90-an, hingga cuaca tersebut berefek ke seluruh dunia, hingga sampai ke Indonesia.

Dear Diary..

Kini kumengerti mengapa Anis Matta berkata, “santai aja.. kita akan melakukan lompatan besar”. Itu semua karena euphoria ruangan tempatnya berpidato, yang optimis memajukannya sebagai bakal calon, namun luput dari kepala mereka pengetahuaan tentang cuaca, bagaimanapun untuk meloncat harus lihat kanan kiri, menganalisa kondisi zaman, dan seorang Anis Matta mengetahui itu, peta Indonesia untuk dapat melakukan loncatan besar, Anis Matta telah memiliki itu, namun cuaca sepertinya yang belum berpihak, ia yang sedang merekayasa cuaca, atau cuaca alami yang akan menghampiri, siapa yang tahu tentang itu? Yang jelas ketika cuacanya benar- benar terbit, saat itulah kemenangan seorang Anis Matta akan bersambut. Tentang cuaca, inspirasi dari seorang Anis Matta, teringat olehku memoar tentang ‘Musim Semi Arab’, peristiwa luar biasa di abad ini tentang sejarah, realitas dan mimpi bangsa yang berlumur darah..

Di musim semi itu, Dunia Arab hangat oleh nafas kebebasan yang selama ini dinyana. Di Tunisia rakyat hanya butuh seminggu untuk menggulingkan Ben Ali, 8 bulan setelahnya partai An- Nahdhah pimpinan Al- Ghonushy keluar sebagai pemenang pemilu. Di Maroko terjadi perubahan yang sangat mencolok, Raja Mahmud VI membuat aturan baru, bahwa Perdana Menteri diambil dari partai dengan suara terbanyak di parlemen, Hizbul Adalah wat Tanmiyyah keluar menjadi jawara suara. Di Libya pemimpin yang bercokol berpuluh tahun lamanya, Muammar Qaddafi meregang nyawa di tangan rakyatnya yang muak disuap penindasan. Rezim Yaman menyerahkan kekuasannya, kemudian dibentuklah pemerintahan rekonsiliasi nasional. Di Suriah Assad mengalami tekanan kuat dari Liga Arab  dan publik Internasional. Dan satu yang menjadi bintang kejora di semi itu. Negeri para Anbiya’ Mesir, terukir renteten peristiwa anak- anak negeri memeta sejarahnya dengan tabur cita..

“Demonstrasi terbesar di dunia”, begitu media luar banyak memberitakan Mesir. Hari- hari pasca Revolusi 25 Januari seperti mimpi yang nyata menjadi. Hari di mana orang- orang berbaju loreng membuka seragamnya berbaur dengan demonstran, hari di mana terjadi ledakan besar di tubuh Salafi mengkaji ulang larangan Pemilu, tokoh- tokohnya bahkan berkata, “kami merasa bersalah ketika kami membiarkan Ikhwan sendirian berada di medan Tahrir dalam peristiwa revolusi 25 Januari 2011”. Salafi menolak diadu domba, mu’tamar yang berisikan 19 ulama’ dari ormas Islam, yang 2 di antaranya adalah dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an Universitas Al- Azhar, Dr. Abdul Hayyi Farmawi dan Dr. Abdus Sattar Fathullah Said, mereka semua sepakat untuk menyatukan suara di Pemilu ke depan dan mengutamakan persatuan umat. Tak ayal yang terjadi adalah hal yang sulit dibayangkan sebelumnya, ulama- ulama Salafi selepas sholat shubuh di sela ta’limnya menyarankan untuk memilih calon legislatif dari partai Ikhwan “karena mereka lebih berpengalaman” dibanding memilih partai Salafi sendiri Hizbun Nur, begitu kata mereka. begitu pula kebalikannya, di Nasr City, Muhammad Yusuf Ibrahim dari Partai Salafi Hizbun Nur diusung untuk menjadi anggota dewan oleh Hizbul Adalah war Rafahiyyah milik Ikhwan. Peristiwa yang sulit dipercaya terjadi pra revolusi.  

Narasi toleransi itu berlanjut di hari- hari pasca revolusi. Konsistensi partai Ikhwan terpapar indah dengan mengusung jargon, “kami membawa kebaikan untuk Mesir”, Dr. Habib Rafiq salah seorang tokoh Kristen Ortodox Mesir dijadikan wakil ketua umum partai Hizbul Adalah war Rafahiyyah mendampingi Dr. Muhammad Mursi. Bahkan Ir. Sahahdi Shidqi, tokoh Koptik di Provinsi Minya diusung menjadi anggota parlemen oleh partai tersebut, “justru saya memilih sendiri Hizbul Adalah war Rafahiyyah, karena program- programnya yang baik dan moderat. Disebutkan dalam AD- ART partai bahwa syariat Islam menghargai hak non muslim dalam berkeyakinan, kebebasan menjalankan simbol- simbol agama dan hubungan personal dan keluarga”, begitu tuturnya yakin. Membaca yang demikian membuatku teringat peristiwa saat pasukan Ubaidah ibnul Jarrah sampai di lembah Jordan, kemudian berkata Nashrani setempat kepada bangsa Arab, “kalian lebih kami cintai dari pada Romawi walaupun mereka seagama dengan kami, kalian lebih setia dan lemah lembut kepada kami, pantang mendzolimi, dan paling baik memimpin kami, sedangkan mereka mengekang urusan kami dan menguasai rerumahan kami”.

“Koalisi bukan menghegemoni”, prinsip itulah yang membuat wajah Ikhwanul Muslimin mendadak mengkilat di lensa media Barat, adalah CBC News Kanada yang mengatakan, “Ikhwan adalah pilihan tepat demokrasi bagi dunia”, hal yang sama juga dituturkan wartawan koran New york Times, Nicholas Kristof, “Ikhwanul Muslimin di Mesir tidak sebagaimana yang diopinikan oleh Barat selama ini, salah besar kalau ada orang yang percaya bahwa organisasi Ikhwanul Muslimin mengkebiri peran perempuan di masyarakat, nayatanya 50% anggota organisasi ini adalah kaum perempuan”, ungkapnya mengungkap kebenaran. Rekonsiliasi yang terjadi di Mesir adalah percontohan nyata untuk dunia. Bahwa nayatanya kaum Islamis memang selangkah berada di depan kaum Liberal mengelola terma Demokrasi yang selama ini mereka agungkan. Itulah yang membuat Grand Syaikh Al- Azhar percaya diri megatakan, “sikap moderat Ikhwanul Muslimin menjadikan Mesir maju”, selain karena program Hizbul Adalah war Rafahiyyah yaitu Independensi Al- Azhar tanpa intervensi pemerintah seperti selama ini, tentu itu semua bersamaan dengan fakta sejarah bahwa Ikhwanul Muslimin memang tidak memiliki sejarah memecah-belah, dakwahnya selalu berbau integrasi, rekonsiliasi bukan menghegemoni.

“jika suatu hari suatu bangsa  menginginkan kehidupannya, maka harus segera disambut semampunya, karena malam pasti berlalu, dan sebagaimna belenggu pasti melebur hancur”, Syair As- Sya’bi itulah yang memancar semangat, membakar rakyat untuk turun ke jalan. Narapidana dilepas dari penjara dipesan untuk memecah belah barisan, membakar masjid dan gereja, Amerika menawarkan mega dana moneter untuk membeli Revolusi Mesir, semuanya tiada guna. Teriakkan tsauroh silmiyyah..silmiyyah yang lantang oleh demonstran membungkam niat para Narapidana memecah barisan, teriakan damai itu malah membuat mereka ikut bergabung bersama barisan. Grand Syaikh Al- Azhar menolak mentah- mentah suapan Amerika, bahkan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap cita- cita kebebasan bangsa. Cita- cita itulah yang mengeluarkan rakyat dari kursi hangatnya sambil meneguk teh, beranjak berbondong- bondong menuju TPS menunaikan hak pilihnya, setelah sekian lama Pemilu jalannya seperti drama Korea. 60% ikut serta menunaikan hak pilihnya, padahal sebelum revolusi paling tinggi hanya 15%, bahkan apabila diboikot Ikhwanul Muslimin suara yang terkumpul hanya mencapai 2%. Jika kamu bertanya apa yang memantik peristiwa ‘Musim Semi Arab’ terjadi, aku tetap mempertahankan status quo, cuaca itulah jawabannya. Perubahan besar yang berhembus dari Tunisia, Maroko, Libya, Mesir dan Saudi Arabia, semua terbit karena cuaca global, di mana kekuatan ekonomi Barat sedang berada di titik terlemahnya, Intelejen mereka tertekan sehingga mandul menjadi informan kontrol Barat terhadap dunia Arab.

Dear Diary..

“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman” (Ar- Rum: 2-4). Mengapa ayat yang demikian turun di Makkah saat umat masih kecil, belum tetap sebagai satuan negara? Jawabannya alternatifnya ada pada prakata Anis Matta, bahwa ayat itu turun sebagai ayat geopolitik pertama, bahwa kaum muslimin saat itu harus pintar membaca suasana, perang antara Romawi dan Persia, suatu saat Islam akan menjadi pemain utama di dunia, berhadapan dengan kedua peradaban besar itu cepat atau lambat. Ayat itu mengisyaratkan pada kaum muslimin keniscayaan membaca cuaca, pembacaan itulah yang menjelaskan di waktu yang sama kenapa mereka bisa menang di perang Badar, motivasi menyongsong masa depan peradaban, untuk membersamai Romawi dan Persia. Itulah buah pembacaan terhadap cuaca.

“langit terlalu tinggi dan kita terlalu rendah terbang, dan untuk bisa terbang kita harus memiliki sayap yang mumpuni digunakan terbang tinggi”, kata Anis Matta, pembacaan terhadap cuaca akan berkarat kala tidak diasah dengan pengetahuaan, itulah sayap untukku terbang, pengetahuaan. Tentang cuaca aku belajar satu hal makna tarbiyyah, fannu sinaatil ahdas, seni merekayasa peristiwa. Dengan belajar membaca cuaca, selanjutnya tujuanku  adalah menciptakan momentum, mengintervensi sejarah, meramu narasi, merekayasa cuaca dunia ..

 

76

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *