Home Dunia Ide Pentingnya Retorika yang Baik dalam Berdakwah
Pentingnya Retorika yang Baik dalam Berdakwah

Pentingnya Retorika yang Baik dalam Berdakwah

110
0

Dakwah adalah tugas yang diemban oleh kita sebagai seorang muslim seuruhnya. Semuanya, Dokter, Guru, Penulis, Polisi, Tentara, Artis, Mahasiswa, semua status. Muda, tua, pemuda dan pemudi semuanya berkewajiban menyampaikan dakwah Islam. Meluruskan yang melenceng, memperbaiki yang rusak, membersihkan yang kotor, semuanya adalah tugas mulia kita sebagai seorang Da’i. bukan lagi saatnya kita berpikiran bahwa dakwah adalah tugas Ustadz, kyiai, Guru ngaji, Pengkhotbah. Tidak,  dakwah adalah profesi sebelum dan sesudah segala profesi. Sebelum kita menjadi seorang Dokter, ataupun setelah pensiun dari profesi tersebut, kita adalah Da’i, sebagaimana kita mengobati setiap orang saat ataupun ketika tidak sedang memakai jas putih kebanggaan kita. Dakwah tak pernah lekang oleh waktu, usia, ataupun status sosial, sebagaimana ia adalah kata kerja, maka ia tak mengenal kata henti, terus bekerja hingga ajal menyapa tiba..

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An- Nahl: 125)

Dalam berdakwah problematika adalah sunnatullah. Berangkat dari hal tersebutlah banyak dari kita yang mungkin mengalami kesulitan. Kesulitan yang amat familiar adalah bergelut dengan orang- orang yang kontra dengan dakwah kita, tak jarang kita temukan sebagian Da’i yang harus gugur menyerah berdakwah karena tak kuat membersamai musuh. Tak jarang pula kita menemukan Da’i yang malah membuat mad’u (yang didakwahi) merasa tak nyaman,  hingga pergi menjauh tak kuat menerima kerasnya nasehat. Di sinilah problematika dakwah kita temukan, terlalu lembut hingga menyerah, terlalu keras hingga ditinggalkan, sehingga kita terjebak dalam kata (Qodhi) yang menghukumi, bukan lagi sebagai seorang (Da’i) yang mengajak, membina, dan membenarkan.

Sepatutnya kita mengulang kembali memoar cerita teladan kita, Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam, beretorika dengan orang- orang yang didakwahinya. “sesungguhnya orang- orang Yahudi lewat di depan rumah Nabi shalallahu alaihi wa sallam”, begitu ummul mukminin Aisyah radiyallahu anha memulai ceritanya, “kemudian mereka (Yahudi) berkata, “assamu alaika” (kebinasaan atasmu), kemudian Rosulullah menjawab, “wa’alaikum” (atasmu juga)”, Aisyah yang tak tahan mendengar Rosulullah dihina dengan amat sangat, lanjut membalas bahkan lebih menggebu, “kebinasaan atas kalian, mudah- mudahan laknat dan murka Allah menimpa kalian”, mendengar Aisyah terlampau bersemangat, Rosulullah langsung menenangkan, “mahlan ya aisyah.. (pelan- pelan wahai Aisyah), berlakulah lembut, jauhilah berkeras- keras ria dan berlaku keji”, “apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka katakan?”, tanya Aisyah kesal, kemudian Rosulullah menjawab, “apakah kamu tidak mendengar apa yang kukatakan? Doa’ mereka tidaklah kabulkan, sedang do’aku dikabulkan, bukankah Allah telah berfirman, “ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Al- Baqoroh: 83)

Di lain waktu, kafir Quraisy berkumpul untuk berunding mengutus satu orang untuk dapat mendebat Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam, diutuslah Utbah bin Robi’ah yang digadang sebagai sosok yang paling pintar beretorika. Datanglah Utbah dihadapan Rosulullah, kemudian langsung ia lancarkan serangan:

 “kamu atau Abdullah (ayah Roslulullah) yang lebih baik?”, kata Utbah mencoba membuka topik debat, Rosulullah hanya diam menaruh hormat pada ayahnya Abdullah yang disebut oleh Utbah.

“kamu atau Abdul Muthalib (kakek Rosullah) yang lebih baik?”, sekali lagi Rosulullah hanya terdiam menaruh hormat kepada kakeknya yang disebut oleh Utbah.

“jika kamu menganggap bahwa mereka lebih baik dari dirimu, ketahuilah bahwa mereka telah menyembah Tuhan yang kamu acuhkan, jika kamu menganggap dirimu lebih baik daripada mereka maka berbicaralah, biar kami akan mendengar jawabannmu”, kata Utbah mengangkat suaranya.

Baru saja Rosulullah akan menjawab tiba- tiba Utbah menyela, “Demi Allah! aku tidak pernah melihat sosok yang paling jahat terhadap kaumnya selain dirimu!”

Mulailah Utbah menawarkan hal yang bukan- bukan kepada Rosulullah, “wahai Muhammad, jika yang kamu lakukan adalah karena harta, akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta, hingga kamu menjadi sosok terkaya di antara kaum Quraisy, jika yang kamu inginkan adalah kedudukan, akan kami jadikan dirimu pemimpin kami, jika yang kamu lakukan adalah karena wanita, maka pilihlah siapapun wanita Quraisy, akan kami nikahkan kamu dengan 10 wanita!”, Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam yang mendengar hal tersebut hanya terdiam penuh ketenangan dan adab sampai Utbah menyelasaikan cercaan panjangnya, kemudian Roslulullah dengan tenang berkata, “sudah selesaikah dirimu wahai Abul Walid?”, ditanya dengan penuh adab lantas Utbah sedikit canggung, dengan singkat ia menjawab, “sudah”..

“Maka dengarkanlah aku”, kata Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam memulai narasinya, “ Haa Miim, Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan” (Fushilat: 1-4), tak lama berselang mendengar Rosulullah membaca ayat- ayat itu Utbah langsung terduduk, badannya bergetar. Kemudian Rosulullah terus melanjutkan bacaannya, hingga sampai pada ayat azab, Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”, mendengar potongan ayat tentang adzab tersebut Utbah langsung meloncat, kemudian ia taruh tangannya di mulut Rosulullah untuk menghentikan bacaannya, namun Rosulullah terus melanjutkan bacaannya hingga sampai di ayat yang terdapat tanda sajdah di dalamnya, kemudian Rosulullah bersujud dan menoleh ke arah Utbah, “sudahkah kamu mendengar wahai Abul Walid?”, Utbah mengangguk mengiyakan kemudian beranjak pergi, kembali kepada kaumnya..

“Demi Allah dalam perkataannya terdapat kemanisan”, mendengar hal tersebut tentu kafir Quraisy bersorak tak setuju, “itu adalah syair wahai Abul Walid..syair”, kata mereka mencoba mengoreksi, “demi Allah tidak ada yang lebih mengetahui tentang syair- syair dibanding diriku, demi Allah yang dikatakan Muhammad bukanlah syair”. Bayangkan, Utbah walaupun pada akhirnya sukar memeluk Islam, akan tetapi dengan retorika dakwah Rosulullah, ia terenyuh untuk dapat objektif menilai. Itu sebabnya Retorika dakwah adalah bagian terpenting dalam membersamai musuh- musuh kita. Menjadi pendengar yang baik, berbicara dengan data, lembut dan mendalam menyampaikan seruan, tidak tergesa- gesa apalagi terbawa amarah, itulah yang kita pelajari dari retorika dakwah Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam.

“Kan itu Rosulullah, apalah kita yang hanya da’i biasa?”, mungkin terlintas dalam benak kita kesimpulan yang demikian. Mari kita meloncat lebih jauh ke masa kita, membaca bagaimana retorika sangat berpengaruh bagi dakwah. Adalah seorang pemuda muslim yang pergi ke Jerman untuk belajar, ia tinggal di sebuah apartemen, yang di depannya adalah seorang pemuda Jerman, mereka tidak memiliki hubungan apa- apa, hubungan mereka hanyalah sebatas tetangga.

Suatu hari pemuda Jerman yang menjadi tetangganya tersebut pergi untuk waktu yang cukup lama, dan sebagaimana biasanya karena ia berlangganan koran, lantas pengantar koran sebatas menaruh korannya di depan pintunya hingga bertumpuk banyak, melihat hal yang demikian, pemuda muslim itu langsung mengambil inisiatif untuk mengambil koran- koran tersebut merapihkannya kemudian meletakannya di sebuah rak khusus di kamarnya.

Setelah datang tetangganya tersebut, sekitar 2 atau 3 bulan, pemuda muslim tersebut lantas memberi salam selamat datang kepadanya kemudian menyerahkan koran yang selama ini ia taruh rapih di lemarinya, kemudia ia berkata, “saya khawatir anda sedang mengikuti sebuah berita, atau mengikuti sebuah perlombaan, oleh sebab itu saya mengumpulkan koran- koran ini, agar anda tidak melewatkan satupun kabar yang ada di sana”. Melihat yang demikian, tentu pemuda Jerman tersbut bukan main kagetnya, “apakah anda mengharap upah dari saya?”, tanya pemuda tersebut merasa tidak enak, “tidak.. tidak ..agama kamilah yang mengajarkan kami untuk berbuat baik kepada tetangga”. Begitulah kisah mereka bermula, kejadian tersebut membuat mereka semakin akrab, hingga pada akhirnya pemuda Jerman itu mantap memeluk Islam.

Dakwah adalah seni. Sebagaimana kita melukis di atas kanfas, semua kita, memiliki kecendrungan berbeda- beda memilih warna, namun tujuannya tetap sama, untuk menciptakan karya yang darinya orang- orang tertarik untuk memilikinya. Begitu pula dengan dakwah, pilihlah retorika terbaik yang sesuai dengan kecendrungan kita. Menulis, memimpin, berolahraga semuanya harus menjadi ladang bagi dakwah yang kita retorikakan. Berapa banyak musuh- musuh kita terhambat untuk mengenal Islam karena retorika kita sebagai muslim yang buruk kepada mereka, oleh sebab itu, mari kita mulai memperbaiki retorika, di mulai dari sekarang agar mereka datang menyambut seruan kita dengan lapang penuh kegembiraan..

“sebaik- baik Da’i adalah yang berdakwah dengan perbuatannya, sebelum dengan perkataannya” (Syaikh Abdurrahman Al- Arify)

Allahu a’lam bis showab..

Referensi: Arify, Abdurrahman. Istamti’ bi Hayatik, Riyadh, Muassasah Simaa lil Nasyri wat Tawzi’, 2008 M

 

110

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *