Home Dunia Pemikiran Sudah Sampai Mana Laju Peradaban kita?
Sudah Sampai Mana Laju Peradaban kita?

Sudah Sampai Mana Laju Peradaban kita?

59
0

“Namun ide kebangkitan itu hanya akan menjadi asap yang meninggalkan api, dan bara yang tidak menghasilkan dinamika”, begitu kata Ustadz Nurfarid dalam bukunya “Proyek Kebangkitan Kita”. Setiap narasi kebangkitan harus disertakan dengannya penerapan dalam dunia realitas, jika tidak, maka ia hanya akan menjadi kesiaan, terus menjadi teori di buku- buku yang menghiasi rak, di situlah kita temukan bagaimana suatu pemikiran dapat dikatakan membusuk membangkai kemudian hilang dari radar peradaban, alih- alih ia dapat menjadi motor penggerak sejarah, ia malah menjadi penyakit yang mematikan masyarakat. 

Sudah di mana kita berada dan akan ke mana kita? Pertanyaan seperti itu penting kita tanyakan sebagai penghuni peradaban besar yang pernah memimpin dunia lebih dari 10 abad lamanya, pentingnya ia, sebagaimana ketika kita ingin berergian dengan kereta, kita harus punya pengetahuaan sudah di stasiun mana kita sampai, untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Ada dua kelompok yang dalam narasi kebangkitan kita selalu menjadi momok penjagal, ekstrim tradisional dan ekstrim sekuler, keduanya adalah kelompok pembaharuan, namun keduanya gagal paham memahami realitas, yang satu ingin kita tetap pada warisan masa lalu tanpa boleh ada inovasi, yang lain terlalu memaksakan kehendak, ingin membawa kita sepenuhnya melepas warisan masa lalu, kemudian berubah total. Pada akhirnya keduanya bukan malah menjadi sintesa yang menciptakan dinamika, keduanya malah terus menjadi tesa yang menyibukkan arah baru kebangkitan peradaban kita.

Perangkat pasti untuk mengidentifikasi keberadaan kita tidak lain adalah Filsafat Sejarah. Teori yang paling terkenal dalam konsep tersebut adalah teori gelombang sejarahnya Heigel, bahwasanya setiap pergerakan sejarah selalu berhubungan dengan alur tesa dan antitesa. Namun bagaimanapun juga walaupun para Filosof mengaitkan pemikirannya ke Heigel, tafsiran mereka menciptakan ragam karena terpengaruh oleh latar belakang. Terutama dalam menentukan aktor dan motif, Maka dari itu kita temukan tafsiran Karl Marx yang menciptakan narasi revolusi Bolshevik di Rusia, tafsiran William James yang memajukan kapitalisme, begitu pula tafsiran Filosof muslim sendiri, Ibnu Khaldun dan Malik bin Nabi yang lebih berpandangan bahwa agama adalah motif penggerak sejarah, jauh dari itu Malik bin Naby malah mengultimatum teori- teori pendahulunya dengan menciptakan sintesa lewat teori 3 Unsur peradabannya, dunia pemikiran, dunia tokoh, dan dunia materi.

Melalui teori gelombang sejarah itulah kita dapat menemukan corak periodesisasi sejarah, yang paling tidak menjadi gambaran umum tentang keberadaan kita sekarang. Malik bin Naby membagi gelombang sejarah kita ke dalam 3 periode: pertama: Fase Spiritualisme, dari 1 H sampai 43 H peristiwa Shiffin, kedua: Fase Rasionalisme, dari 43 H sampai abad 8 H runtuhnya dinasti Muwahhidin, ketiga: Fase Insting, dari abad 8 H sampai abad 13 runtuhnya Turki Utsmani. Adapun Hasan Hanafi hampir sama pendapatnya, namun ia mewarnakan periodesisasi kita dengan membandingkannya dengan laju peradaban Barat. Dari semua periode tersebut kita dapat mengatakan bahwa kita sedang di awal masa baru kita, gelombang keempat sejarah Islam.

Alih- alih kita hanya mengetahui keberadaan kita, penting juga bagi kita mengidentifikasi pertanyaan, “sejak kapan kita mundur?”, untuk memproyeksikan peradaban kita ke depan, sehingga tidak terjerumus ke dalam masalah yang sama. Paling tidak ada 2 jawaban atas pertanyaan ini, pendapat Malik bin Naby bahwa kemunduran peradaban kita dimulai dari keruntuhan Muwahhidin pada Abad 13 M sampai abad 20 M runtuhnya Turki Utsmani, dan pendapat Muhammad Imaroh yang jauh lebih dahulu dari pada Malik bin Naby, yaitu sejak masa Al- Mu’tashim di masa Abbasiyyah, ketika ia merekrut tentara Mamalik Turki untuk melindunginya dari kaum pemberontak, hal tersebut dapat kita temukan dalam penuturannya, “…Insiden terbunuhnya kholifah Al Mutawakil oleh para petinggi prajurit Mamalik merupakan titik permulaan berpindahnya perjalanan peradaban kita. Maka masa kejayaan peradaban kita—setelah melalui fase-fase yang panjang, dan gejolak yang terus menerus, yang diiringi dengan berbagai macam gerakan kebangkitan dan perlawanan, sebagaimana halnya jatuh bangun yang dialami sebuah peradaban—seketika itu memasuki masa kemunduran dan keruntuhannya…”. Dari teori Malik bin Naby dan Muhammad Imaroh paling tidak kita dapat menemukan kesimpulan bahwa teori mereka saling menguatkan, Adapun sejarah mencatat bahwa masa kemunduran itu sendiri terjadi dari abad ke 11 M hingga runtuhnya Turki Utsmani yaitu abad ke 20 M.

Dari pengetahuan tentang keberadaan kita, dan pertanyaan sejak kapan kita  mundur, akhirnya kita dapat menemukan realitas masalah kita, bahwa sejatinya kita sedang berada di kondisi tarik menarik antara mulai bangkit sedang masih tertawan oleh masa lalu yang kelam, dan juga penantian kejatuhan Barat, di posisi itulah lebih tepatnya kita sekarang. Realitas kita sebagai gelombang pasca kudeta Istanbul, perumpamaannya seperti Manchester City sekarang di Liga Champion, yang memiliki segudang bintang dan pelatih kompeten, namun masih saja terbayang masa kelam, sehingga canggung mengangkat trofi di kompetisi tersebut.

Dan apabila kita mengerucutkan masalahnya lebih sederhana lagi, maka akan kita temukan bahwasanya hakikat masalah masa kita adalah perang ideologi. Pasca kudeta Istanbul dan Perang Shiffin muncul kelompok- kelompok yang lahir sebagai reaksi tesa, dua yang sama, namanya Khawarij. Kelompok inilah yang sampai sekarang mengeruhkan narasi kebangkitan kita dengan dialektika fana. Hal yang sama, yang menyibukkan kita, adalah dualisme antara kaum Islamis dan Sekuler, antara pengusung Syariat dan pengusung pemasungan teologi. Dari mulai debat antara Syaikh Khidri Hushein dan Abdul Raziq, dan di tanah air kita ada perlawanan kaum Islamis yang Kontra penghapusan 7 kata di piagam Jakarta, baik lewat jalur intelektual seperti Natsir dan lewat militer seperti Kartosuwiryo. Itulah warisan gelombang sejarah kita di masa lalu masih kental mengendap di awal gelombang sejarah kita.

Dari realitas kita yang terjepit oleh dilema, paling tidak yang pasti kita ketahui adalah bahwa peradaban kita sedang berada di pusar krisis, dan siklus sejarah biasanya selalu mengajarkan kita, bahwa krisis selalu memaksa penghuni peradaban untuk berinovasi, dengan inovasi terciptalah kebangkitan hingga kembali ke titik stagnan, begitulah sunnatullah memeta peradaban manusia.

“Sesunggungnya krisis itu melahirkan obsesi, dan suatu perkara itu tidak akan meluang kecuali setelah menyempit, sebagaimana keutamaan fajar tidak akan nampak kecuali setelah gelap gulita. Fajar Timur hampir saja terbit. Setiap perkara telah menjadi hitam memekat, dan tidaklah setelah kesempitan ini melainkan kelapangan. Ini adalah sunnah Allah dalam ciptan-Nya.” (Jamaluddin Al- Afghani- Imam Pembaharuan)

Allahu a’lam bis showab

Referensi:

*Bin Nabi, Malik. Milad Mujatama’, Damaskus, Daar al Fikri, 2006.

*Nurfarid. Proyek Kebangkitan Kita, Tasikmalaya, Penapembaharu, 2014.

59

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *