Home Dunia Ide Diary Azhary: Menyurati Generasi
Diary Azhary: Menyurati Generasi

Diary Azhary: Menyurati Generasi

55
0

Dear Diary ..

Hampir sejam penuh kuberdiri, mencoba menyihir pemirsa dengan kata- kata, memikat audiensi dengan retorika, meliuk- liukan tangan seraya berkata estetika, “hard work pays off”, terbayar sudah persiapan dua hari dua malam. Namun cerita tentang dauroh pemikiran yang kuisi hari itu, belum selesai sampai di situ, tibalah sesi tanya jawab, dan salah seorang audiensi kemudian mengangkat tangan seraya berkata, “bagaimana regenerasi yang baik?”, pertanyaan tersebut telah kujawab, namun hanya sekedar ala kadar, dari pertanyaan inilah coba kurangkai jawaban, “mengapa Regenerasi itu penting? Dan bagaimana regenerasi yang baik?”

Syaikh Abdul Fattah Muru, salah seorang pendiri Harakah An- Nahda di Tunisia, ditanya tentang sosok Malik bin Naby, kemudian ia menjawab, “ia adalah seorang pembesar, memiliki pandangan yang jauh tentang masa depan, namun sayang, ia kurang dikenal oleh orang- orang, bahkan oleh orang Aljazair sendiri. Hal yang sama kita temukan dalam pribadi seperti  Imam At- Thabary, seorang ulama besar, bahkan mungkin ilmunya apabila dibandingkan dengan ulama sezamannya akan selangkah berada di depan. Namun mengapa mereka kurang dikenal? Karena sedikitnya murid yang mereka miliki, pemikirannya tidak terkonsep oleh sebuah organisasi”. Begitu jawab Syaikh Muru.

Dari perkataan Syaikh Abdul Fattah kita dapat mencerna satu yang penting, yang mesti terus ada, sosok pemikir yang bergerak dalam sebuah harokah. Kenapa menjadi pemikir saja tak cukup? Karena pemikiran adalah satu yang terpisah dari pemikir sendiri, dan apabila pemikiran tersebut telah terpisah dari pemikirnya saat ajal tiba, perlu terdapat di sana proses regenerasi, agar pemikiran tersebut tetap hidup di kentara zaman, dengan adanya harokah, jadilah pemikiran itu terwadah dan terus dikembangkan, dan perlu diketahui bahwa pemikir yang baik adalah ia yang pemikirannya melewati rentang waktu zaman, tetap dikaji bahkan diterapkan walaupun nyawa sudah melayang pergi.

Ini semua tentang warisan, peninggalan, manifesto, semua yang terkenang dan memiliki nilai yang terus diperjuangkan untuk tetap hidup, itulah regenerasi. Pertanyaan yang sering mengganggu tidurku adalah rasa penasaran tentang cara hidup para pahlawan utamanya para pemikir terkenal, “apa yang membuat mereka terkenang?”, kini kiranya dapat kutemukan satu dari sekian hipotesanya, “menyurati generasi”, itulah yang mereka lakukan.

Hassan Al- Banna mungkin meninggal di usia muda, Sayyid Qutb bahkan meninggal belum sempat menikah, Imam Sibawaih guru segala guru ilmu Nahwu juga meninggal di usia muda dan belum menikah, namun mereka banyak menyurati generasi di zamannya dengan pemikiran yang mereka miliki. Itulah yang membuat Ikhwanul Muslimin ciptaan Hassan Al- Banna tetap mengakar di penjuru negeri, itulah yang membuat mursyid kedua jamaah tersebut,  Hassan Hudhaibi percaya diri berkata pada Naseer presiden Mesir, yang bertanya padanya, kenapa Ikhwanul Muslimin tetap ada padahal ia sebagai pemimpin jamaah tersebut telah ditangkap, jawabannya sangat menggugah, “yang anda tangkap adalah pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir, bukan pemimpin Ikhwanul Muslimin dunia, itu sebabnya jamaah ini akan tetap ada”.

Begitu pula dengan Sayyid Qutb, siapa yang tidak mengenal tokoh yang satu ini, semua yang bergelut di dunia pemikiran pasti mengenal ideolog ini, terlepas itu pro dan kontra, sebut saja diskursus antara “Al Qoul Al Mubin” (Syekh Jamaluddin Sayyid Rifa’i) dengan “Al Haqqul Mubin” (Syekh Usamah Al Azhari) yang masih hangat, kajian tentangnya yang terus menerus diadakan membuktikan bahwa sebagai seorang pemikir, ia berhasil menyurati generasi di zamannya dan setelahnya, pemikirannya tetap hidup walaupun zaman berganti dan nyawanya telah terbang tinggi dari tiang gantung rezim tirani.

Imam Sibawaih, tidak perlu dipersoalkan lagi keberhasilannya mematri surat pemikirannya untuk generasi. Berapa banyak tesis dan disertasi jurusan bahasa Arab, yang menukil dari bukunya, yang saking mudanya ia meninggal belum sempat ia menamai bukunya, oleh sebab itu bukunya hanya dinamai dengan namanya Al- Sibawaih, buku rujukan tata bahasa Arab. Bahkan salah seorang Dosen di kelas pernah mengatakan satu prakata yang membuatku kagum, hari itu disela pelajaran Nahwu tentang ciri- ciri Ism, ia menyela dengan mengatakan, “orang ini (Imam Sibawaih), saking kagumnya saya terhadapnya,  seharian saja saya bercerita tentang sosoknya tidak akan selesai menceritakan tentang kehebatan dan kealimannya,”. Mereka semua adalah para penyurat yang sukses mengantarkan suratnya kepada para generasi pembaca zaman.

Berbicara tentang regenerasi pemikiran, itu semua mungkin mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan, bahwa menyurati generasi adalah karena motif duniawi. Para pemikir, ulama dan pahlawan kita hanya ingin namanya harum dikenang oleh dunia, benarkah demikian? Tidak, justru motif mereka adalah motif ukhrawi, dunialah yang kemudian memuliakan mereka mengikuti. Karena sejatinya hal tersebut sudah sejak lama Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam praktekkan, menyurati generasi adalah Sunnah Rosulullah, simak pidatonya di Haji Wada’:

“Wahai manusia!, Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa”.

“Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!”

“Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!”

itulah bahasa regenerasi Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam, “ya Allah saksikanlah”, yang merupakan motif ukhrowi, “sampaikan pada mereka yang tidak hadir”, prakata tersebut semakin mempertegas motifnya, bahwa Rosulullah memang serius berbicara tentang proses regenerasi ini.

Sekarang kita sampai pada sebuah pertanyaan, “bagaimana regenerasi yang baik?”, mudah saja jawabannya, memahami dengan baik motif proses menyurati surat tersebut, baik pengirim surat dan pembaca surat, itulah jawabannya. Setiap kita yang merupakan seorang pemikir yang mematri pemikiran, atau yang ditanami pemikiran, harus sadar sesadar- sadarnya, bahwa proses regenerasi ini adalah sebuah bentuk amal jariyyah, kebaikan sepanjang zaman yang terus mengalir dan merupakan Sunnah Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam. Bagi yang mematri pemikiran ini adalah kewajiban menyampaikan, bagi yang ditanami pemikiran, ini adalah surat perjuangan yang harus diteruskan.

“Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya”, (HR. Muslim no. 1017), begitu kata Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam. Regenerasi pemikiran ini selama baik substansinya, selamanya akan menjadi pahala mengalir, bagi pemilik surat, ataupun yang menerima surat apabila lanjut menyurati ke generasinya.

Allahu a’lam bis showab..

 

55

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *