Home Dunia Pemikiran Analisa Menelusuri Asal-Usul Kerajaan Turki Utsmani, Proses Muncul Hingga Berdirinya (1)
Menelusuri Asal-Usul Kerajaan Turki Utsmani, Proses Muncul Hingga Berdirinya (1)

Menelusuri Asal-Usul Kerajaan Turki Utsmani, Proses Muncul Hingga Berdirinya (1)

58
0

Oleh: Widhy Ridho W.

(Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir)

PENDAHULUAN

Ketika kita menilik berbagai kejadian di seperempat abad yang lalu dan apa yang menjadi peristiwa bersejarah kala itu, juga pada intoleransi yang dilakukan oleh negara-negara yang memusuhi Islam pada umumnya, serta yang terjadi pada Kerajaan Turki Utsmani pada khususnya. Juga pada perang pemikiran yang dihadapi oleh saudara-saudara muslim kita, yang memang tujuannya adalah untuk memutus harapan mereka dari cerahnya masa depan. Musuh-musuh Islam senantiasa berusaha menggambarkan sejarah Turki Utsmani dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan.[1]

Namun tak dapat dipungkiri, bahwa keruntuhan Turki Utsmani merupakan awal munculnya perang pemikiran yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam, sekaligus permulaan runtuhnya peradaban agung yang bereksistensi selama lebih dari enam abad. Kini pusat peradaban pun bergeser ke barat, di mana dulu Imperium yang cakupan wilayahnya terluas ini pernah menduduki posisi paling tinggi dalam panggung kontestasi peradaban dunia. Mirisnya, nyaris semua catatan sejarah itu lenyap ditelan oleh konspirasi barat yang ingin menghapus sejarah kegemilangan Islam di muka bumi.

Dalam pandangan teori gerak sejarah, kemunculan, kebangkitan, dan keruntuhan sebuah kekuasaan merupakan hal yang niscaya. Bisa juga disebut sebagai hukum alam (sunatullah). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, bahwa imperium memiliki usia seperti usia biologis manusia. Dia berproses mulai dari lahir, tumbuh kembang, mencapai masa keemasan, mengalami kerentaan, hingga kehancuran. Kerajaan Turki Utsmani tampaknya merupakan masa kerentaan imperium Islam. Tak hanya renta, Kerajaan Turki Utsmani juga digerogoti kelemahan yang disebabkan oleh kesombongan (pride), kemewahan (luxury), dan kerakusan (greed).[2] Padahal, menurut Ibnu Khaldun ketiganya merupakan dosa sejarah yang mampu meruntuhkan sebuah kedaulatan. Dengan kerentaan dan kelemahan itu, Turki Utsmani menjadi tidak berdaya dalam menghadapi semua serangan dan konspirasi untuk menjatuhkannya.[3]

Penting bagi kita –sebagai generasi muslim- untuk mengetahui secara rinci sejarah berdirinya Turki Utsmani agar tidak ikut termakan klaim dan distorsi sejarah yang telah dipropagandakan.

SEKILAS TENTANG TURKI UTSMANI

Turki Utsmani merupakan kerajaan besar yang memiliki wilayah sangat luas, dengan jumlah penduduk yang besar dan masa berkuasa yang amat lama. Wilayah kekuasaannya meliputi tiga benua sekaligus, yaitu Asia, Afrika, dan Eropa. Di samping itu, Turki Utsmani memiliki keunggulan dalam banyak hal, bahkan jika dibandingkan dengan Romawi atau Eropa sekalipun.[4] Sebagaimana yang diungkapkan oleh Paul F. Kennedy:

Imperium Utsmani, dia lebih dari sekedar mesin militer, dia menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya, dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dari imperium Romawi dan untuk jumlah penduduk yang lebih besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500 dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, terpelajar, dan perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kartografi, pengobatan, dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan.[5]

Kerajaan Turki Utsmani menjadikan agama Islam sebagai pedoman dalam berorientasi politik. Sampai-sampai dapat dikatakan bahwa sejarah keluarga Utsman –termasuk kelebihan dan kekurangannya- merupakan salah satu episode penting dalam sejarah umat Islam.[6]

Kerajaan Utsmani adalah negeri yang menganut sistem Khilafah Islamiyah. Karena adanya rasa nasionalisme, sampai pada permulaan abad yang lalu, negara ini memiliki ikatan erat dengan agama. Pada waktu itu pun bangsa Arab tidak melihat kerajaan Turki Utsmani sebagai negeri yang menjajah wilayah-wilayah mereka –seperti yang digambarkan oleh sebagian pengamat sejarah masa kini. Khususnya, karena semangat beragama Islam lebih besar dalam memberi pengaruh di dalam negara dibanding gairah kebangsaan yang ada.[7]

Dengan pandangan ini, orang-orang Turki sangat memuliakan bangsa Arab. Mereka menganggap bangsa Arab sebagai orang-orang yang diberi fadhilah dalam perjuangan menegakkan Islam di Eropa dan menyebarkannya di banyak negeri. Hingga pernikahan dan hiasan diadakan di berbagai ibu kota Islam tiap kali Utsmani memperoleh kemenangan. Ditambah lagi, umat Islam di penjuru negeri menganggap Sultan Utsmani sebagai khalifah Rasulullah Salallahu Alaihi wa Sallam.[8] Keadaan ini justru sangat berkebalikan dengan kenyataan sekarang; yang mana didapati sentimen antara bangsa Turki dan Arab. Arab menganggap Turki penajajah, dan Turki menganggap Arab pengkhianat. Itulah hasil adu domba.

 

____________________________________

[1] Ibrahim Bek Halim, Taariikh Ad-Daulah Al-Utsmaaniyah Al-‘Aliyyah (Cairo: El Mokhtar Est. For Publication And Distribution, 2013), hlm. 5.

[2] Toto Suharto, Epistemologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), hlm. 165.

[3] Deden A. Herdiansyah, Di Balik Runtuhnya Turki Utsmani (Yogyakarta: Pro-U Media, 2016), hlm. 17.

[4] Ibid., hlm. 19.

[5] Ali Muhammad As-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, terj. Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), hlm. 509.

[6] Abdul Mun’im Ibrahim Al-Jamii’iy. https://islamstory.com/ar/artical/الخلافة-العثمانية-حامية-الدين-والأمة

[7] Ibid

[8] Haula Al-Intiqool Al-Khilaafatu ilaa Al-Utsmaniyyiin, Lihat: Muhammad Aniis, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah wa As-Syarqi Al-Arobi, (1514-1914 M), hlm. 12.

58

Widhy Ridho Lahir di Kab. Semarang, 04 September 1998, Riwayat Pendidikan: Ma'had Nurul Islam Tengaran (2010-2016), hingga sekarang masih menempuh pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar, Fakultas Syariah wal Qonun, Jurusan Syariah Islamiyah. Riwayat Organisasi: Organisasi Pelajar Nurul Islam (2013-2015), Garuda Keadilan Salatiga (2013-2015), Remaja Masjid (2013-2016), Muslimide (Sekarang).

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *