Home Dunia Ide Politik dan Nafas Peradaban Kita
Politik dan Nafas Peradaban Kita

Politik dan Nafas Peradaban Kita

39
0

Peradaban Islam kala itu belum terlalu tua, ia baru memasuki umurnya yang ke 8 Abad, namun nafasnya sudah tampak sesak, seakan ia akan sekarat dan menjemput takdir kematiannya.

Ia bukan miskin’ dunia ide’ yang menjadi ruh dari setiap peradaban, bahkan ia menjadi kiblat ilmu-ilmu di dunia, siapapun yang ingin menguasai segala macam ilmu maka syaratnya harus bisa B. Arab, maktabah2 terlengkap ada di dalamnya, universitas dan lembaga kajian keilmuan adalah darah dagingnya… namu kondisi politik yang cheos di dalam peradaban ini tidak bisa memberikan suplai kekuatan bagi dunia ide untuk memainkan perannya.

Ia juga bukan miskin ‘dunia tokoh’, bahkan para filosof dan ilmuan ternama di dunia lahir dari rahim peradaban ini. Tidak ada daun telinga yang tidak pernah mendengar sang filosof Ibnu Rusydi yang dengan nalarnya mampu menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan Eropa. Tidak ada hati yang tidak mengakui kehebatan sang ilmuan Ibnu Kholdun yang dengan keilmuannya mampu menyingkap kaidah2 dasar dalam kahidupan social manusia. Namun kehebatan Ibnu Rusydi dan Ibnu Kholdun tidak mampu memperpanjang nafas dari peradaban ini, bahkan mereka berdua hanya menjadi berlian terakhir yang dimiliki peradaban ini…bukan karena apa2, tapi lagi2 karena situasi politik yang sudah tidak bersahabat dengan kehebatan kedua tokoh ini.

Seperti itulah sejarah mengajarkan kita, bahwa sekaya apapun ‘dunia ide’ kita, sehebat apapun ‘dunia tokoh’ kita, semuanya tidak akan memberikan fungsinya seandainya tidak didukung oleh kekuatan politik yang menjadi tulang punggung dari laju peradaban kita.

Realitas Indonesia pun mengajarkan kita hal yang sama, kita umat Islam Indonesia adalah mayoritas terbesar di dunia, kita dianugrahi aset alam yang melimpah, kita mewarisi nilai-nilai kemanusian tingkat tinggi yang sekarang telah mengering di negeri-negeri berperadaban besar, kita juga tidak kalah prestasi dan inovasi dengan negara-negara maju yang menjadi simbol peradaban modern, maka seharusnya kita menjadi sebuah peradaban besar yang melebihi kebesaran peradaban-peradaban yang ada..namun apa yang salah dengan kita?

Semua kelebihan yang kita miliki menjadi tidak berarti karena kendali politik kita di tangan orang-orang yang tidak berpihak kepada kita, hingga kita dibawa ke arah yang bukan dari tujuan kita, kunci-kunci kebijakan negeri kita berada dalam genggaman orang-orang yang berpoleskan janji dan berkedokkan dusta, makanya wajar kalau ada anggaran-anggaran yang bocor dan aset-aset bangsa yang kecelong, kursi-kursi kepemimpinan negeri kita banyak diduduki oleh orang-orang yang tidak mengerti tentang kita, makanya kita seringkali dianggap sebagai ‘gelandangan’ yang hak-haknya tidak pernah diperhatikan.

Wala haula wala kuwwata illa billah.

Kalau politik kita dikuasai oleh orang-orang seperti mereka, maka negeri kita di masa mudanya ini, akan seperti peradaban Islam di masa Ibnu Rusydi dan Ibnu Kholdun, yang kaya ide, melimpah aset, namun nafasnya terengah-engah, sesak, dan kehilangan daya, sedangkan jalan sejarah peradaban masih terbentang panjang di depan mata.

39

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Diplom Program Master di American Open University Cairo, Egypt 2016. Hingga sekarang sedang menulis Thesis Master di Universitas Al Gazera, Sudan. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016. Koordinator program 'Kuliah Pemikiran Islam' 2017, kerjasama IIIT, Muhammadiyah dan Syathibi Center.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *