Home Dunia Ide Hutang Riba, Membangun atau Meruntuhkan ?
Hutang Riba, Membangun atau Meruntuhkan ?

Hutang Riba, Membangun atau Meruntuhkan ?

50
0

Oleh: Muhammad Iqbal Muttaqin

(Mahasiswa STEI SEBI)

Utang adalah Kewajiban suatu badan usaha / perusahaan kepada pihak ketiga yang dibayar dengan cara menyerahkan aktiva atau jasa dalam jangka waktu tertentu sebagai akibat dari transaksi di masa lalu.

Riba dalam hutang juga disebut sebagai riba duyun. Jadi riba ini memanfaatkan tambahan terhadap hutang. Adapun riba duyun ini terjadi ketika ada transaksi utang piutang maupun transaksi non-tunai seperti kredit. Yang membedakan antara riba utang piutang dengan riba jual beli adalah akadnya. Untuk utang-piutang muncul karena terjadi akad meminjam sejumlah harta orang lain kemudian berjanji akan dikembalikan di lain hari, sedangkan utang dalam jual-beli terjadi karena ada harga yang belum sempat diserahkan ketika proses transaksi, baik hanya sebagian atau menyeluruh.

Dalam kehidupannya Rasulullah saw pernah berhutang kepada sahabatnya Jabir ibn Abdillah ra. Ketika Nabi telah mampu membayarnya, Rasulullah saw mendatangi Jabir dan membayarnya dengan cara melebihkan dari pokok hutangnya. Jabir berkata, “Ya Rasulullah, sudah aku ikhlaskan untuk Allah dan rasul-Nya.” Rasulullah menjawab, “Wahai sahabatku, Hutang itu adalah hak orang yang memberi hutang dan kewajiban bagi yang berhutang. Siapa yang tidak memenuhi hak orang lain padahal ia mampu untuk hal itu maka sama saja ia menyimpan bara api neraka di dalam perutnya.” (HR Bukhari & Muslim). Sungguh mulia akhlak Rasulullah Saw, Ia meminjam kepada sahabatnya dan ketika ia mampu, ia membayarnya dengan lebih walaupun tidak disyaratkan di depan ketika akad pinjam meminjam dilaksanakan.

Dalam suatu riwayat disebutkan, disaat wafat, Rasulullah saw masih memiliki hutang kepada seorang yahudi. Ketika berhutang, Rasulullah saw menjaminkan kepada orang yahudi tersebut baju besi perang nya. Ketika hendak ditebus oleh Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah saw, orang yahudi tersebut mengatakan, “Jaminannya melebihi nilai hutang nya. Engkau tidak perlu menebusnya.”

Pada awal kemerdekaan, sikap pemerintahan Soekarno Hatta terhadap utang luar negeri bisa dikatakan mendua. Di satu sisi, mereka menyadari bahwa utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan sangat dibutuhkan Negara baru yang baru merdeka ini, untuk memperbaiki taraf kesejahteraan rakyat, yang sudah sedemikian terpuruk karena kolonialisme. Di sisi lain, pemerintah Soekarno-Hatta bersikap waspada terhadap kemungkinan peggunaan utang luar negeri sebagai  sarana kembalinya kolonialisme, meski demikian transaksi utang luar negeri tetap terjadi pada awal kemerdekaan.

Utang pada masa pemerintahan Jokowi kurang lebih 2,5 tahun, jumlah utang pemerintah Indonesia berambah Rp. 1.062 triliyun. Rinciannya yaitu pada 2015 bertambah Rp 556,3 triliyun dan 2016 bertambah 320,3 triliyun, lalu pada 2017 dimungkinkan utang bertambah Rp 379,5 triliyun. Total hutang Indonesia kini sekitar Rp 3.864 triliyun. Hutang pada Pemerintahan 2,5 tahun jokowi setara dengan hutang 5 tahun pemerintahan mantan presiden SBY. Hal itu menggambarkan bahwa pada pemerintaha jokowi terjadi kenaikan hutang 2 kali lipat dari pemerintahan sebelumnya.

Hingga sekarang tercatat bahwa hutang Negara Republik Indonesia Sebesar US$ 4 Ribu Triliyun lebih. Itu disebabkan oleh adanya riba di dalamnya, yang seharusnya hutang Indonesia kecil, lama kelamaan makin bertambah besar, bunga sekecil apapun jika dilipat gandakan akan membesar juga, dan pada akhirnya kita hanya membayar bunganya saja, sementara hutang pokok dan bunga masih terus berjalan. Dan dapat di prediksi bahwa negara Indonesia akan mengalami kehancuran pada tahun 2030-2040 jika kondisinya terus memprihatinkan sepeti ini. Nilai rupiah terhadap kurs Dolar saat ini hampir mencapai Rp 13.750/US$. Hal itu menggambarkan betapa makin jatuhnya mata nilai rupiah terhadap mata uang asing. Hal itu dapat diakibatkan oleh beberapa hal. Salah satunya terlalu banyaknya uang yang di cetak oleh BI, bisa juga karena jumlah ekspor kita terlampau kecil dibandingkan jumlah impor.

Tugas kita selanjutnya sebagai generasi penerus bangsa adalah memperbaiki kondisi perekonomian di Negeri ini. Jangan sampai generasi kita terjebak lagi dalam praktik hutang Riba. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, barulah kita dapat menyadarkan orang-orang disekitar kita dan juga Negara tentang bahaya hutang riba. Kedepannya itu semua tergantung kita sebagai generasi penerus bangsa yang harus mempunyai inisiatif serta gagasan untuk Indonesia lebih baik kedepannya, agar dapat melunasi semua hutang-hutang Riba yang ada dan kembali bangkit untuk menjadi Negara Indonesia yang makmur dan sejahtera tanpa adanya hutang Riba. Wallahu’alam Bissawab

====================================

Profil Penulis:

iqbal

Nama lengkap : Muhammad Iqbal Muttaqin

Nama Pena : Iqbal

Tempat dan Tanggal Lahir : Pandeglang, 21 November 1997

Alamat Lengkap : Komp. Perumahan Cigadung Mandiri Blok S No 3 Rt/Rw 003/010 Kel. Cigadung Kec. Karang Tanjung Kab. Pandeglang

Nomor Telepon/HP : 089621165644

Pekerjaan : Mahasiswa STEI SEBI

Profil Singkat :

 Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Stei Sebi depok. Saya mulai menulis karena saya menyadari bahwa kita semua berhak ber karya, berhak mengeluarkan pemikiran kita terhadap apa yg sedang terjadi dimasa sekarang, dan saya juga membuat karya tulis termasuk salah satu kewajiban beasiswa, dimana setiap semesternya harus mempublikasikan miniman 2 karya tulis. Untuk saat ini saya sedang sibuk dalam kegiatan tahsin, tahfiz, mentoring, Sebi solidarity for palestine, dan juga mengajar di Sebi mengajar.

Alamat email valid : iqbalmuttaqin849@gmail.com

Alamat URL Facebook (optional): http://fb.com/Iqbal Muttaqin

Alamat URL Twitter (optional): http://twitter.com/@Iqbalmuttaqin4

 

50

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *