Home Dunia Pemikiran Nasihat HAMKA dalam Menuntut Ilmu (2)
Nasihat HAMKA dalam Menuntut Ilmu (2)

Nasihat HAMKA dalam Menuntut Ilmu (2)

61
0

Menuntut ilmu dalam hidup ibarat kehidupan itu sendiri. Prosesnya tidak selesai dengan strata, kelas atau tingakatan. Perjalanannya akan disudahi bersamaan dengan berakhirnya hidup seseorang. Begitulah ilmu menjadi mulia bagi manusia dan memuliakan manusia. Kata Ali bin Abi Thalib, “Harta kita yang menjaganya, sedangkan ilmu menjaga kita”. DR Adian Husaini mengeluhkan ketika dia diminta CV dirinya, maka disitu terdapat SMA, Sarjana, Magister hingga Doktoral. Lantas, apakah menuntut ilmu berhenti sampai disana? Bagaimana dengan pendidikan yang tidak berijazah atau tidak terdaftar di Mendikbud dan Depag? Apa itu masih disebut pendidikan sebagai rangkaian menuntut ilmu?

Ilmu ditujukan untuk memberi wawasan dan membuka cakrawala manusia. Dari sana ilmu membentuk sebuah cara pandang, worldview inilah yang menentukan sikap dan akhlak manusia. Jika ilmu yang didapatkan dengan membaca, maka manusia itu bergantung apa yang ia baca. Kolerasi ilmu dan akhlak menjadi sangat relevan dan penting diterapkan. Karena ilmu tidak jatuh pada konsumsi otak saja, tapi perlu terapan yang membuktikan bahwa ilmu dipertanggungjawabkan dengan sikap. Surat Al-Hasyr ayat 2 mengingatkan dengan istilah “kaburo maqtan” bagi mereka yang bersuara dengan ilmunya tapi tidak melakukannya.

“Hendaklah dia mengusahakan dirinya supaya tingkah lakunya sepadan dengan derajat ilmunya. Hendaklah dia berusaha menuliskan ilmu-ilmu penting yang didapatnya. Karena kadang-kadang ilmu yang kita pandang kecil, karena diabaikan, ternyata ilmu kecil itu amat perlu untuk menambah barang besar yang kita selesaikan. Tidak sempurna barang besar karena tidak ditambah dengan yang kecil tadi”. (Prof. Dr. HAMKA, Lembaga Hidup, hlm. 285)

Semakin tinggi strata pendidikan, seharusnya semakin tinggi sikap dan perilaku. Kesempurnaan ilmu teruji ketika ilmu diterapkan dan melahirkan sikap adil, peduli, bijak. Jangan pernah anggap kecil suatu ilmu, apapun itu. Bisa jadi keberhasilan kita menuntut ilmu itu setelah yang kecil itu berpengaruh terhadap kehidupan kita. Namun bisa jadi ilmu itu sendiri yang mebuat hidup gagal sebab ia merusak akhlak kita. Maka sebaik-baik ilmu adalah yang memperbaiki akhlak kita.

Ilmu itu segala yang ada dihadapan kita, segala ciptaan-Nya, segala bentuk, gerak, kejadian yang kita alami. Jangan persempit ilmu dengan pendidikan formal yang berjenjang dan mahal. Sampai kita lupa dengan berharganya ilmu sekitar kita. Kadang kita diajarkan oleh kelucuan atau karya seni, bisa juga bentuk celotehan dan kalimat singkat. Padahal itu serpihan kecil yang terpisah-pisah untuk melengkapi bangunan ilmu. Setelah terlewati, barulah kita sadar ternyata serpihan itulah yang memperindah keilmuan kita.

“Ilmu berkecil-kecil kadang-kadang timbul dari kejenakaan orang lain, dari filsafat hidupnya. Atau dari perbuatan seorang ternama yang kelihatannya aneh tetapi mengandung kesenian, atau suatu kisah kecil yang penting artinya. Ulama-ulama dahulu kala tidaklah lalai mengumpulkan hal-hal yang demikian”. (Prof. Dr. HAMKA, Lembaga Hidup, hlm. 285)

Disanalah Buya Hamka lantas menulis dalam pesan selanjutnya tentang pentingnya latihan menulis bagi penuntut ilmu. Hingga susunan huruf mempercantik kata dan mengindahkan maknanya. Dan meninggalkannya adalah sebuah kerugian.

Wallahua’lam bisshowab.

61

Azharrijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : Ketua FLP Kuningan (2018/20), FLP Jakarta, Garuda Keadilan Tasikmalaya/Kuningan, PKSMuda Kuningan

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *