Home Dunia Kajian Hasan Al Banna dan Para ‘Penista Agama’
Hasan Al Banna dan Para ‘Penista Agama’

Hasan Al Banna dan Para ‘Penista Agama’

17
0

Oleh; Taufik M Yusuf Njong

(Mahasiswa Internasional University of Africa, Sudan)

Pengetahuan, pengalaman, dan lingkungan punya pengaruh besar dalam membentuk ‘naluri’ seseorang. Di titik ini kemudian kita menemukan individu yang tenang, pemaaf, penuh hikmah, melihat jauh kedepan dan kepribadiannya tak mudah ‘meledak’ atau ‘goyah’ oleh peristiwa-peristiwa besar. Semua rangkuman ini menjadikannya sosok dialogis ketika berhadapan dengan orang yang kontra dan bahkan menentang pemikirannya. Ketenangannya kadang menumbuhkan sangsi dari sebagian orang; bahwa ia kurang sensitif terhadap isu-isu yang menyerang agama, simbol-simbol dan syiar-syiarnya.

***

(Hasan Al Banna Menyikapi Sayyid Qutb ‘Muda’)

7/10/1937 seorang sastrawan muda Mesir yang sosialis menulis sebuah maqalah di koran Al-Ahram. Ia ‘mengajak’ untuk ‘bertelanjang’ di pantai. Tulisan kontroversi dan bertentangan dengan akhlak keislaman ini membuat banyak aktivis islam yang cemburu dengan agamanya marah. Ustad Mahmud Abdul Halim kemudian menulis sebuah tulisan bantahan dan kemudian beliau menyodorkannya kepada Asy-Syahid Hasan Al-Banna sebelum dipublikasi. Apa tanggapan Al-Banna?

Diluar dugaan, Al-Banna menyarankan agar bantahan itu tidak dipublikasikan walaupun tulisan sastrawan tersebut jelas melukai perasaan masyarakat muslim dgn berbagai alasan diantaranya adalah:
– Penulis tersebut masih muda, bisa jadi ia menulis tanpa meyakini apa yang diulisnya, tapi hanya sekedar pengaruh lingkungan tempat ia hidup dan sekedar untuk menarik perhatian publik.
– Yang membaca makalah pemuda tersebut di koran Al-Ahram adalah masyarakat tertentu saja yang jumlah sedikit dan terbatas dibandingkan dengan rakyat Mesir secara umum. Jika dibantah, ini akan menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca tulisan ‘salah’ tersebut.
– Bantahan identik dengan tantangan, banyak orang yang enggan kembali kepada kebenaran bukan karena ia tak tau bahwa itu kebenaran tapi gengsi mempertahankan pendapatnya yang dibantah orang lain.

Hasan Al-Banna kemudian berfirasat dan berharap agar pemuda tersebut suatu hari nanti ‘tobat’ dan menjadi penolong dakwah islam.

13 tahun kemudian, pemuda tersebut kembali dari studinya di Amerika dan bergabung dengan Ikhwan bahkan menjadi salah satu ideolognya. Ia mengarang sebuah tafsir monumental; “Dalam Naungan Al-Quran”.

***

(Hasan Al Banna Menyikapi Penyimpangan Thaha Husein)

Tahun 1826 Dr. Thaha Husein (Menteri Pendidikan Mesir) menukis kitab ‘Fi Asy-Syi’r Al-Jahily’ yang kontroversial. Sekelompok ulama Al-Azhar ‘menuduh’ Thaha Husein telah melakukan penistaan terhadap agama islam dalam kitabnya. Merekapun memperkarakan Thaha Husein kepengadilan.
Kitab ‘Fi Asy-Syi’r Al-Jahily’ kemudian dibantah dengan keras oleh banyak ulama diantara adalah Syeikh Muhammad Khidhr Husein (Syeikhul Azhar) dengan kitabnya ‘Naqdh Asy-Syi’r Al-Jahily’, Syeikh Muhammad Al-Khadhary, Musthafa Sadiq Ar-Rafii dengan kitabnya ‘Tahta Raayah Al-Quran, Mahmud Muhammad Syakir dan lain-lain.

Diantara mereka semua yang membantah Thaha Husein, Hasan Al-Banna adalah yang paling ‘lembut’ bantahannya. Beliau sama sekali tidak melukai atau menyerang pribadi. Stelah ‘mendiskusikan’ Thaha Husein’ dengan argumennya Hasan Al-Banna berkata; Seandainya Thaha Husein menulis begini dan begini tentu lebih bagus.

Ketika Thaha Husein menggoncang Mesir dan dunia Islam dengan kitabnya ‘Mustaqbal Tsaqafah Fi Mishr’ dimana beliau mengajak umat Islam jika ingin maju untuk meneladani Barat baik dan buruknya, manis dan pahitnya para ulama Al-Azhar kembali membantah keras pemikiran Thaha Husein. Sayyid Qutb pun menulis kitab bantahannya ‘Naqd Kitab Mustabal Tsaqafah Fi Mishr’.

Sekali waktu, Universitas Kairo mengumumkan ceramah Hasan Al-Banna untuk membedah dan mendiskusikan pemikiran Thaha Husein dalam kitabnya ‘Mustaqbal Hadharah..’. Hasan Al-Bannapun mendiskusikan pemikiran Thaha Husein dengan cerdas, tak jarang beliau menunjukkan kontradiksi Thaha Husein dalam kitabnya di sebagian halaman dengan halaman yang lain. Beliau sama sekali tidak melukai atau menyerang pribadi Thaha Husein.

Setelah acara, Thaha Husein yang juga ikut mendengarkan ceramah secara sembunyi-sembunyi di balik tirai mendatangi Al-Banna dan berkata: “Ya Syeikh Hasan, seandainya para ulama Al-Azhar berinteraksi denganku (ketika membantah pendapatku) seperti interaksi anda, sungguh aku akan mengambil sikap yang lebih lunak terhadap mereka”.

Dua cerita di atas adalah contoh sikap ‘lunak’, bijak dan dialogis Hasan Al-Banna terhadap dua orang muslim yang dianggap menistakan agama dan Al-Quran. Salah satu dari mereka (Thaha Husein) bahkan sempat di vonis murtad oleh sebagian ulama.

Bagaimana dengan sikap beliau terhadap non muslim yang (tertuduh) menistakan agama?

***

(Hasan Al Banna dan Makram Ebeid)

Sebuah tulisan yang menistakan Islam dari seorang penulis yang dimuat di koran milik Makram Ebeid seorang kristen koptik dan tokoh politik partai Wafd memantik amarah sejumlah kalangan. Ustad Shalih Asymawi yang merupakan pimpinan redaksi majalah An-Nadhir (majalah Ikhwan) langsung menulis tulisan bantahan. Beliau mengkritik pedas penulis tersebut bahkan Makram Ebeid yang merupakan pemilik koran ‘diserang’ dengan kasar oleh Ust Shalih Asymawi.

Bantahan tersebut sampai ke Hasan Al-Banna dan beliau sama sekali tidak sepakat dengan gaya bahasa dan ungkapan kasar Shalih Asymawi. Al-Banna kemudian menulis tulisan lain mengkritik gaya bahasa dan ungkapan kasar Shalih Asymawi. Bahwa Ust Asymawi dengan tulisannya tersebut sama sekali tidak ‘melayani’ permasalahan yang sedang ia bela.
(majalah An-Nadhir edisi 12 tahun pertama/15/8/1938).

Ustad Asymawi yang tidak sepakat dengan Asy-Syahid Hasan Al-Banna kemudian menulis bantahan lain. Beliau merasa aneh dengan sikap Hasan Al-Banna terhadap Partai wafd, Makram Ebeid dan majalahnya.
Beliau mempertanyakan kenapa Al-Banna ‘mengalah’, bersikap diplomatis dan berinteraksi dengan ‘lembut’ terhadap Partai Wafd dan majalahnya, kenapa Al-banna tidak memusuhi Partai wafd padahal mereka (menurut Ust Asymawi) sangat memusuhi Ikhwan walaupun mereka menyembunyikan permusuhannya.

Imam hasan Al-Banna kemudian menanggapi tulisan Ust Shalih Asymawi dalam esisi ke 14 majalah An-Nadhir. Beliau menulis:
“Wahai akhi Shalih (Asymawi), menerka-nerka isi hati orang bukanlah akhlak kita. Cukuplah bagi kita amal-amal lahiriyah mereka. Kemudian engkau telah membantah penulis (yang menistakan islam) tersebut. Lalu kenapa kau juga menyerang Makram Ebeid? apa dosa Makram Ebeid dan majalahnya? Ia hanya sekedar mempublikasikan tulisan orang.
Engkau kemudian mencela sikapku yang tidak memusuhi mereka padahal mereka (menurutmu) sangat memusuhiku.
Aku berharap engkau bersikap bijak bahkan terhadap musuh-musuhmu yang menyembunyikan kebenciannya terhadapmu. Sama sekali tidak bijak jika engkau menampakkan permusuhanmu terhadao orang yang menyembunyikan permusuhannya kepadamu”.

Tahun 1949, ketika Hasan Al-Banna syahid dibunuh, Makram Ebeid adalah adalah satu-satunya pelayat selain keluarga yang melayat jenazah Asy-Syahid Hasan Al-Banna setelah beliau ‘bernegosiasi’ dengan polisi karena ketokohannya.

***

Sikap bijak Al-Banna terhadap orang yang berbeda dengannya sepert cerita-cerita diatas sangat banyak dan diteruskan oleh tokoh-tokoh Ikhwan setelahnya.

Ketika seorang penulis kristen koptik menyerang Islam dan mengatakan bahwa penakhlukkan Mesir oleh umat Islam adalah penakhlukkan zalim dan barbar, Mursyid IM ke 2 Ust Hasan Al-Hudhaibi menugaskan Syeikh Muhammad Al-Ghazali agar membantah tulisan tersebut dengan ilmiyah dan dengan syarat bahwa beliau (Al-Ghazali) tidak boleh menyakiti dan menyerang pribadi penulis serta tidak berkata kasar.

Di suriah, Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah juga sering mengingatkan kader Ikhwan untuk menjauhi kata-kata dan kalimat-kalimat, serta penamaan-penamaan buruk yang tak layak keluar dari lisan seorang da’i dalam menanggapi orang-orang yang menyerang Ikhwan.

***

Membela kebenaran haruslah dengan cara yang benar. Membantah sesuai ‘porsinya’.Jika seorang Da’i adalah seperti seorang dokter maka ia hanya perlu memberikan beberapa butir obat untuk si sakit, bukan sekarung. Jika dalam salah satu 20 ushul yg ditulisnya Hasan Al-Banna mengajak untuk bersikap lapang dada dalam masalah asma wa sifat yang menjadi ajang takfir kelompok-kelompok teologi Islam, apalah lagi terhada masalah-masalah politik yang ijtihadi.

Tulisan ini tidak mengajak anda untuk bersikap toleran tapi lugu, tapi sekedar ajakan bereaksi sesuai dengan kadar maslahat dan bahwa pendapat orang lain yang berbeda dengan dengan kita juga punya potensi benar.

Wallahu a’lam.

NB: sebagian besar tulisan ini diadaptasi dari tulisan Syeikh Essam Talima, ulama muda Al-Azhar dan sekretaris pribadi Syeikh Al-Qaradhawi. (lihat linknya di kolom komentar)

17

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *