Home Dunia Kajian Alasan Prof. Dr. Muhammad Imarah Lebih Mengutamakan Hisab Dari Pada Rukyah
Alasan Prof. Dr. Muhammad Imarah Lebih Mengutamakan Hisab Dari Pada Rukyah

Alasan Prof. Dr. Muhammad Imarah Lebih Mengutamakan Hisab Dari Pada Rukyah

22
0
  1. Manusia Barat dengan akalnya telah mampu menginjakkan kakinya di atas permukaan bulan, mereka mengerjakan apa yang lebih penting dan lebih jauh. Sedangkan kita umat Islam, Wasiat Fuqoha masih menghalangi kita untuk menggunakan ilmu falak dalam penentuan waktu munculnya bulan (permulaan bulan Ramadhan).

Para fuqoha masih meyakini bahwa “pandangan mata” adalah satu-satunya sarana untuk rukyah, mereka menolak hisab ilmu falak untuk diperhitungkan sebagai rukyah bagi manusia.

Bahkan dari mereka ada yang berhujjah dengan hadits:

نحن أمة أمية , لا نكتب و لا نحسب

“Kami adalah bangsa yang buta huruf, tidak bisa menulis dan menghitung.” (HR. Bukhori, Muslim dan Nasaai)

Mereka menolak hisab ilmu falak karena ia adalah cabang dari membaca dan menulis, sedangkan Rasulullah SAW—dalam anggapan mereka—telah mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang buta huruf tidak menulis dan tidak pula berhitung!

Mereka tidak ingin mentaklif dirinya untuk mengkaji hadits di atas dengan mengaitkan kandungannya dengan apa yang ada di dalam Al Quran dan Sunnah. Sebagaimana tidak pernah mempertanyakan apakah hadits di atas–walaupun sahih—adalah deskripsi terhadap suatu realita masa lalu yang mana Rasulullah SAW dan para Sahabat sendiri sangat mendorong pada perubahan? Atau hadits tersebut adalah syariat yang menuntut kaum muslimin untuk komitmen dengan kebodohan dan menjauhi ilmu dan pengajaran?!

Dalam pandanga Dr. Muhammad Imarah, sebenarnya hadits di atas hanya menjelaskan tentang realitas bangsa Arab pada masa pengutusan Nabi Muhammad SAW. Dulu mayoritas mereka adalah ummi (buta huruf), oleh karena itu tidak salah kalau di dalam Al Quran mereka di sebut sebagai ummiyyin;

هو الذي بعث في الأميين رسولا

“Dialah Allah SWT yang telah mengutus Rasul SAW kepada kaum yang buta huruf (bangsa Arab)..” (Qs. Al Jumah; 2)

Yang meneliti bagaimana upaya yang dilakukan Rasul SAW dalam menghapus buta huruf di kalangan bangsa Arab– hingga kemudian mereka menjadi para ulama dunia, bahkan ilmu pengetahuan menjadi ilmu Arab–ia akan mengerti perbedaan antara “deskripsi suatu realitas” dengan “tasyri’” (hukum).

Dengan kata lain, Rasul SAW dalam hadits rukyah hanya sedang mendeskripsikan sebuah realitas, tidak sedang mensyariatkan untuk melestarikan ketidak mampuan menulis dan menghitung, karena Al Quran telah memulai dengan kewajiban untuk membaca “tulisan alam” dan “tulisan pena”:

اقرأ بسم ربك الذي خلق…(العلق: 1-5)

Karena Rasul SAW yang menilai realitas buta hurufnya bangsa Arab beliau sendiri yang telah merubah realitas ini, dari bangsa badui yang jahil dan buta huruf, menjadi bangsa yang membaca, hingga mereka menjadi ulama dan fuqoha– sebagai penerapan dari printah Allah di dalam Al Quran, bahwa tujuan dari dijadikannya bagi bulan itu manazil adalah untuk mengetahui bilangan tahun dan hisab;

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Yunus; 5)

Menurut Dr. Muhammad Imarah, dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa mendeskripsikan suatu realita tidak berarti mensyariatkan hukum dari realita ini, tidak juga menguatkannya, apalagi melestarikannya.

  1. Lebih dari itu, kita mengetahui bahwa Rasullah SAW telah mengajarkan kaum muslimin pada masanya bagaimana cara untuk menentukan awal dan akhir bulan puasa. Beliau SAW bersabda;

عن محمد ابن زياد قال : سمعت أبى هريرة يقول : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمى عليكم الشهر فعدوا ثلاثين يوما (رواه مسلم)

“Dari Muhammad bin Zaid beliau berkata ; Aku mendengar Abu Hurairah bersabda : Sabda Rasulullah SAW, Berpuasalah kamu karena melihat anak bulan, dan berbukalah kamu karena melihat bulan, maka jika bulan ditutup mendung, hitunglah genap 30 hari.” (HR. Muslim, (Shahih Muslim : 2 ; 763)

Dan kita juga mengetahui bahwa rukyah bukan hanya sebatas rukyah dengan mata, namun juga berarti ‘ilmu’ atau ‘pengetahuan’, dengan segala cara dan sarananya.

Dengan kata lain, rukyah sebagaimana penggunaannya dalam Al Quran, tidak hanya berarti “rukyah dengan mata”, akan tetapi juga berarti “ilmu”; bahkan ilmu adalah sarana yang paling kuat untuk penelitin, penyingkapan dan penejelasan bagi manusia.

Maka rukyah di dalam Al Quran ada dua makna;

Pertama, melihat dengan mata.

فلما جن عليه الليل رأى كوكبا ( الأنعام: 76

“Maka ketika malam telah menjadi gelap, ia melihat sebuah bintang..” (Qs. Al An’am: 76)

Kedua, ilmu, merenung, dan meneliti. Makna Ini yang paling banyak digunakan di dalam ayat Al Quran.

ما كذب الفؤاد ما رأى (النجم: 11)

“Hati tidak akan berdusta atas apa yang dilihatnya” (Qs. An Najm: 11)

  1. Ada beberapa catatan tentang akibat dari ketidakpastian dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan.

Bahwa penanggalan Hijriyah akan kehilangan “kekuatan penyatuannya”, kekuatan untuk menyatukan umat Islam agar memiliki penanggalan yang sama, dan yang menyatukan realitas sejarah kehidupan mereka baik masa lalu maupun masa depan, sementara itu penanggalan Masehi akan terus menjadi satu-satunya pengikat kehidupan mereka.

Dr. Yahya Gad –murid dari Dr. Muhammad Imarah—menuliskan bahwa sangat ironis kalau kita menyesatkan generasi penerus kita tentang penanggalan peristiwa-peristiwa sejarah. Kita menentukan penanggalan perjanjian dan pertemuan organisasi politik, social, ekonomi, pemikiran, dsb, harus dengan dua penanggalan, Masehi dan Hijriyah, dengan alasan karena awal dan akhir semua bulan pada tahun Masehi tidak ada perselisihannya.

Sebagai contoh, kita semua mengetahui bahwa perang Mesir melawan Zionis terjadi pada 6 Oktober 1973 M, begitu juga di semua negara di dunia. Akan tetapi negara-negara Arab berbeda dengan penggalan Hijriyahnya, Menurut Mesir peristiwa itu terjadi tapat pada tanggal 10 Ramadhan karena waktu itu Mesir menggunakan rukyah dalam menuntukan awal bulan Ramadhan, sedangkan bagi yang menggunakan hisab falak peristiwa itu terjadi pada 9 Ramadhan.

Bagi Dr. Muhammad Imarah sarana penentuan awal dan akhir bulan Ramadahan adalah wilayah ijtihad dan pembaharuan. Dan penggunaan metode hisab sebagai sarana untuk menentukan awal dan akhir bulan Hijriyah, sebagaimana menjadi suatu kemestian bagi penanggalan peristiwa-peristiwa sejarah umat Islam, ia juga–untuk kontek sekarang–menjadi suatu kemestian bagi penanggalan ibadah-ibadah tertentu dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang satu, dan memiliki pengggalan dan sejarah yang satu.

Wallahu’alam bissawwab.

Referensi:

  1. Prof. Dr. Muhammad Imarah, buku Al Islam wa Qadhaya Al Ashr, hal 68, 80, 81. Buku At Turats fi Dhoui Al Aql hal 142-144
  2. Dr. Yahya Ridha Gad, Al Masyru Al Fikri Li Dr. Muhammad Imarah, hal 462, Daar Mufaqirun, Kairo, 2018.

 

22

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Diplom Program Master di American Open University Cairo, Egypt 2016. Hingga sekarang sedang menulis Thesis Master di Universitas Al Gazera, Sudan. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016. Koordinator program 'Kuliah Pemikiran Islam' 2017, kerjasama IIIT, Muhammadiyah dan Syathibi Center.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *