Home Dunia Ide Jangan Sibuk Memberi Klarifikasi
Jangan Sibuk Memberi Klarifikasi

Jangan Sibuk Memberi Klarifikasi

76
0

Oleh: Zulfi Akmal, MA.

Berbagai macam tuduhan dan fitnahan bagi pengemban dakwah Islam adalah suatu keniscayaan. Begitulah sunnatullah yang dilakoni oleh para nabi semenjak Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dan begitu juga yang akan dialami oleh seluruh penyeru kebenaran sampai dunia ini berakhir.

Karenanya, di dalam ayat-ayat yang menceritakan tuduhan-tuduhan keji dan fitnahan kepada Rasulullah, Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk membalas dan memberikan klarifikasi bahwa tuduhan itu tidak benar. Sebab, betapapun banyak klarifikasi yang dikeluarkan, penjelasan dan bantahan yang diumbar, toh mereka tidak akan pernah mengakuinya.

Mereka sebenarnya tahu persis bahwa tuduhan itu tidak benar, tapi yang mereka inginkan sebenarnya itu adalah supaya si penyeru kepada kebenaran mendapat stigma sesuai dengan apa yang mereka tuduhkan, sekalipun maksa banget. Agar mereka mendapatkan kesempatan untuk menghabisi, melibas, paling kurang menjadikannya jelek di mata manusia, akhirnya dikucilkan dan dinistakan.

Mereka sesungguhnya paham sekali bahwa Rasulullah bukanlah seorang tukang sihir, bukan tukang tenung, bukan dukun, bukan seorang penyair, bukan seorang pendongeng, bukan teroris, bukan orang gila dan juga bukan seorang pembohong. Cuma stigma itu perlu ditempelkan untuk membunuh karakter Rasulullah hingga manusia lari darinya, meniggalkan Rasulullah sendirian dan akhirnya mereka mendapatkan legitimasi untuk menghabisinya.

Allah berfirman untuk menghibur Nabi:

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (Al An’am: 33)

Mereka bukan mendustakan Nabi Muhammad, tapi mereka tidak mau terkungkung dan diatur oleh hukum-hukum Allah. Hakikat sesungguhnya mereka menentang Allah, bukan mendustakan Rasullah. Mereka kenal sekali siapa Nabi Muhammad semenjak kecil. Seorang mulia yang mereka sepakati sebagai orang yang “amin” (bisa dipercaya).

Untuk itu, tiada gunanya energy terkuras menjelaskan sesuatu yang sebenarnya terang menderang di hadapan mereka. Bila orang tidak menginginkan untuk melihat padahal matahari terbit dengan jelas dan mata mereka sehat wal afiat, apa yang bisa dilakukan selain berpaling dari orang seperti itu. Bukan matanya yang buta, tapi mata hatinya yang tertutup.

Makanya Allah mengarahkan Rasulullah kepada hal yang lebih bermanfaat. Allah juga tidak menunjukkan bagaimana caranya membukakan mata hati mereka supaya dapat hidayah. Itu adalah hak prerogatif Allah. Untuk menghadapi itu Allah mengarahkan Rasulullah untuk berserah diri kepada-Nya. Biarkan Allah yang menangani. Jalankan saja tugasmu sebagai penyampai dakwah dengan cara terbaik. Adapun hasilnya serahkan kepada Allah.

Sedangkan tuduhan dan kecaman kepadamu adalah ujian bagimu. Hadapi dengan sabar. Kamu mesti menanggung itu semua sekalipun terasa pahit. Tidak ada jalan untuk lari darinya, sampai Allah memberikan keputusan dengan memberikan kemenangan kepadamu atau mematikanmu.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (Al Hijr; 96-99)

Bertasbih, memperbanyak shalat dan beribadah kepada Allah sampai ajal menjeput. Itulah cara menghadapi fitnahan dan tuduhan. Bukan sibuk memberi klarifikasi.

Allah juga berfirman:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar; maka boleh jadi Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka atau pun Kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan”. (Ghafir: 77)

Kalaupun mereka terus nyinyir memberikan tuduhan dan tuntutan berbagaimacam hal, tidak perlu lebih dari memberikan jawab selain:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا

Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi pesuruh Allah?” (Al Isra’: 93)

Bahkan bukan sekadar tuduhan dan fitnahan yang harus diabaikan, makar sekalipun jangan membuatmu sedih dan sempit hati.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan”. (An Nahl: 128)

Ada puluhan ayat lagi yang senada dengan ini, yang memerintahkan Nabi untuk tidak menghabiskan waktu dan tenaga melayani orang yang nyinyir.

Selain itu, ayat-ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa ada di antara permasalahan hidup yang tidak bisa kita selesaikan bagaimanapun caranya. Tunggu saja dengan sabar, tawakkal dan do’a, sampai ia berlalu dengan sendirinya.

Tenangkanlah jiwamu wahai para da’i sejati, ini hanya perjalanan hidup sejenak. Sibukkan dirimu dengan tawakkal dan mengabdi kepada Allah, agar kakimu dikokohkan-Nya di atas jalan kebenaran sampai kalian kembali kepada-Nya untuk menerima balasan atas jerih payah kalian. Ikhlaskan niat, fokus kepada tugasmu. Jangan khawatirkan ocehan kiri kanan, tapi khawatirkanlah kakimu tergelincir hingga berpaling mengikuti hawa nafsu mereka.

76

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *