Home Dunia Pemikiran Analisa Skenario ‘Islam Politik’ Dalam Menghadapi Kebengisan Kaum Anti-Islamis (2)
Skenario ‘Islam Politik’ Dalam Menghadapi Kebengisan Kaum Anti-Islamis (2)

Skenario ‘Islam Politik’ Dalam Menghadapi Kebengisan Kaum Anti-Islamis (2)

51
0

PENAPEMBAHARU.COM — Hari ini Islam Politik tengah menghadapi beberapa strategi dan tantangan. Dalam sekala pemikiran ia sedang perangi, dalam sekala praktis ia sedang di berangus. Hingga dibuatlah opini kegagalan Islam Politik dalam membawa masyarakat Islam kepada kemajuan peradabannya. Gerakan islam Politik yang akan dijadikan sampel adalah kejatuhan Ikhwnul Muslimin di Timur Tengah selain di Maghrib dan Tunis, juga kehancuran IS di semua wilayah di Timur Tengah.

Islam Politik yang santun dan damai ala Indonesia pun akan terkena imbasnya. Akan terjadi kriminalisasi ulama, intimidasi para aktivis Islam, kecurigaan yang berlebihan terhadap gerakan-gerakan  Islam, hingga pada pembubaran dan penangkapan tokoh-tokoh pergerakan Islam.

Kaum anti islamis di Indonesia akan melakukan segala upaya untuk memberantas Islam Politik; baik peikiran maupun tokoh-tokohnya, meski hrus menciptkan kerusuhan tau kekacauan, atau mengorbankan nyawa-nyawa orang tak berdosa. Kalau di Dunia Arab Islam Politik yang baru lahir di arena kenegaraan bisa dibunuh dan dimatikan, maka Islam Politik di Indonesia yang masih dalam kandungan lebih bisa untuk diaborsi dan disingkirkan.

Era ini bagi mereka adalah era post Islam Politik. Gagasan islmiah yang mereka rujuk adalah pemikiran para orientalis kontemporer yang anti Islam Politik, semisal Dr. Olivier Roy dan Dr. Gilles Kiebel.

Olivier Roy adalah peneliti pertama yang melontarkan gagasan “Post Islam Politik”, ia berpendapat bahwa agenda politik Islam sudah tidak mungkin lagi diwujudkan di dunia nyata, kecuali diterapkan hanya pada sekala individu  saja, tidak pada sekala kelembagaan, bahkan ia mengatakan bahwa logika yang dibangun oleh Islam Politik sendiri—ketika ingin menjadikan semua orang baik—menunjukan tidak akan terwujudnya suatu negara, karena suatu negara/lembaga sudah tidak dibutuhkan lagi kalau semua manusia menjadi orang baik.

Kemudian muncul setelahnya Dr. Gilles Kiebel seorang peneliti Prancis yang konsern dalam studi Politik Timur Tengah , ia juga menilai bahwa Islam Politik — suatu komunitas yang merangkul semua elemen masyarakat yang beragam, membawa idiologi yang sama — hampir saja punah.

Maka dihadapan isu ini, seorang cendikiwan Arab Masfar mengkaji ada dua sekeneraio yang bisa ditempuh oleh Islam Politik;

Pertama, sebagaimana dilontarkan Muhammad Abu Ruman kemudian ditekankan oleh Ibrahim Al Gharobiyah, pakar Gerkan Islam, mereka mengatakan bahwa peta dan strategi baru Islam Politik harus beralih dari konsernnya terhadap jamaah kepada masyarakat, beralih dari agenda yang bersifat pergerakan-piramid kepada linear-kerjasama, yang akan menjamin mereka untuk mempengaruhi masyarakat melalui lembaga negara untuk menghadapi pemerintah serta semua perusahaan yang dimilikinya.

Sebagaimana Islam Politik dalam kondisi seperti sekarang ini harus mampu merubah tampilan politiknya dan tidak kaku dengan identitas keislamannya, seperti yang diterapan PKK di Turki atau Nahdah di Tunisia.

Kedua, sebagaimana dilontarkan oleh pakar Islam Politik, Husam Tamam, yaitu setrategi ‘tiarap’ hingga hilang dan berhentinya upaya perlawanan dari pemegang kekuasaan, militer dan negara diktator. Setelah itu, Islam Politik muncul kembali dengan sifat perlawanannya terhadap pemerintahan represif dan pemimpin diktator, hal ini karena pemeritah yang ada dinilai gagal dalam mengatasi kemiskinan, krisis ekonomi dan kesenjangan social, yang membuat masyarakat semakin kecewa dan tercekik dengan realitas yang ada.

Dalam kontek Indonesia yang berdemokrasi, dimana Islam Politik masih bisa menikmati kebebasan gerak dan berpendapat, tentu strategi idelnya adalah #2019GantiPresiden secara konstusional atau dengan bahasa halusnya adalah mengganti rezim yang memusuhi Islam Politik ini, maka skenario pertama di atas lebih cocok untuk diterapkan.

Namun demikian, gerakan Islam Politik di Indonesia tidak boleh mengabaikan sikap kehati-hatian, karena penulis melihat tekanan kau anti Islamis—baik rezim ataupun para intel dan intelektual yang menguatkannya–  terhadap Islam Politik akan lebih kuat dibanding masa-masa sebelumnya. Karena kaum anti islamis sudah menyadari bagaimana bahaya kekuatan Islam Politik yang jika dibiarkan akan mengambil alih kedudukan dan kepentingan mereka. Mereka tidak ingin ada isu yang lebih besar lagi yang diciptakan Islam Politik setelah isu #2019GantiPresiden.

Di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa realitas hari ini yang seakan menghimpit dan mencekik Islam Politik bukan lah akhir dari segalanya, Islam Politik akan terus eksis, baik dengan cara ‘tiarap’ untuk kemudian bangkit setelah kegagalan yang dialami rezim-rezim diktator, atau menunggu masa depan yang lebih terbuka dan toleran terhadap agenda dan gerakannya. Dan itu semua tunduk pada hukum perubahan dan gerakan sejarah.

Wallahu ‘alam Bisshowwab.

Referensi;

  1. Masfar bin Ali Al Qohthoni, Shodaamul Qiyam, Syabakah Al Arabiyyah lil Abhats wan Nasyr, Bairut, 2015.
  1. Hisam Tamam, Tahawwulat Al Ikhwan Al Muslimin, Maktabah Madbuli, Kairo.
  1. Olivier Roy, Tajrubatu Al Islam As Siyasi, Daar Saqiyah, Bairut.
  1. Gilles Kiebel, Jihad; Intisyaru Al Islam As Siyasi wa Inhisaarihi, Daar Al Alam Ats Tsalits, Cairo 2005.
  1. Muhammad Abu Ruman; Al Ishlah As Siyasi fi Al Fikri Al Islami; Al Muqorobat, Al Quwa, A Aulawiyat, Al Stratejiat, Syabakah Arabiyah li Abhats wan Nasyr, Bairut 2010.

51

Nur Farid Lahir di Tasikmalaya 23 September 1985. Riwayat Pendidikan: Pon Pes Muhammadiyah Al Furqon Tasikmalaya 2005. SI Akidah Filsafat, Fak. Usuluddin Univ. Al Azhar New Damietta, Egypt 2009. Diplom Program Master di American Open University Cairo, Egypt 2016. Hingga sekarang sedang menulis Thesis Master di Universitas Al Gazera, Sudan. Aktivitas yang pernah diikuti: Kajian Pemikiran Al Hikmah-PCIM Mesir (2014), Akademi Gerakan Pembaharuan Islam Yaqdzotul Fikri, El Maadi, Mesir (2014). Musim Tsaqofi IIIT (Internasional Institute Of Islamic Thought) Cabang Mesir 2015-2016. Koordinator program 'Kuliah Pemikiran Islam' 2017, kerjasama IIIT, Muhammadiyah dan Syathibi Center.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *