Home Dunia Ide Ujian Hidup; Tanda Kecintaan Allah Kepada Kita Atau Kesalahan Dalam Perencanaan?
Ujian Hidup; Tanda Kecintaan Allah Kepada Kita Atau Kesalahan Dalam Perencanaan?

Ujian Hidup; Tanda Kecintaan Allah Kepada Kita Atau Kesalahan Dalam Perencanaan?

23
0

PENAPEMBAHARU.COM — Dalam pandangan para dai dan pembaharu, ujian merupakan tanda kecintaan Allah SWT kepada mereka. Di antara bentuk ujian yang dialami oleh para dai dan pebaharu adalah penindasan, penjara dan penyiksaan oleh musuh-musuh dakwah. Bahkan lebih dari itu mereka meyakini bahwa ujian tersebut merupakan tanda bahwa mereka berada di jalan yang benar. Sebagaimana nampak dalam pernyataan para dai “ujian telah tertunda, saya takut kita berada di jalan yang tidak benar!”

Di sisi lain, ‘dunia politik’ tidak memahami pandangan seperti di atas, mereka melihat ujian dan cobaan sebagai tanda dari perencanaan yang buruk, lemah dalam visi ke depan dan tidak mampu membaca realitas dengan baik. Dunia politik tidak pernah memandang usaha dan pengorbanan sebagai suatu kemulyaan, akan tetapi lebih melihat kepada apa yang dihasilkan. Semakin baik outputnya, maka itulah yang dinamakan kesuksesan.

Dua pandangan (dakwah dan politik) di atas akan selalu kontradiktif kalau jalan dan arah keduanya tidak pernah bertemu. Namun pada hakikatnya, wilayah dakwah dan pembaharuan selalu melampaui wilayah pribadi, hingga menjangkau wilayah masyarakat, budaya, ekonomi dan politik.

Maka para dai dan pembahru mampu melampaui ranah politik dalam persepektif umum, dan beralih dari wilayah dakwah ke wilayah negara, dengan dibekali sebuah pemahaman bahwa apa yang mereka alami dari tekanan, penjara dan penyiksaan di tangan musuh-musuh mereka adalah salah satu ujian yang akan mengangkat derajat mereka di hadapan Allah SWT.

 

 عن النبي صلى الله عليه وسلم  أنه قال: ” إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن صبر فله الصبر، ومن جزع فله الجزع ” [ رواه أحمد بإسناد جيد، مسند أحمد ط الرسالة (39/ 35)]

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT ketika mencintai suatu kaum, maka Ia akan mengujinya. Barang siapa bersabar, maka bagunya kesabaran. dan barang siapa yang cemas, maka baginya kecemasan.”

***    *****    ***

Persinggungan antara dua pandangan di atas mendorong kita untuk mengetahui mana yang paling benar dan paling dihargai?

Salah satu efek yang dihasilkan dari pandangan dakwah terhadap ujian adalah bahwa penghukuman tidak boleh ditimpakan kepada orang yang mengalami ujiannya, bahkan dia sendiri tidak berhak untuk menilai pengalamannya yang mungkin dianggap salah, apapun keadaannya, ia tetap dalam kebaikan, dalam bahasa Alqurannya ia berada dalam salah satu dari dua kebaikan (Qs. Attaubah; 52). Maka bagi Sang Dai kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, dan mereka tidak mengharapkan apapun selain keridhoan Allah SWT.

Sang Dai pun berkata; “Apa yang ingin dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada di dalam dadaku, kalau aku pergi kemanapun ia tidak akan berpisah dariku. Sessungguhnya penahananku adalah khulwah, kematianku adalah syahadah dan pengasinganku adalah wisata.” (Al Wabil As Shoib min Al Kalim At Thoyyib; hal 48).

***   *****   ***

Salah satu cara untuk menengahi kedua pandangan yang kontradiktif di atas adalah dengan memahami bahwa ada dua jenis ujian yang kita alami dalam hidup ini.

Pertama, ujian  yang dialami seorang hamba sebagai bagian dari takdir yang telah ditentukan Allah SWT. Ketikak ita mengalami ujian jenis pertama ini,  kita harus memahaminya sebagaimana dalam pandangan para dai dan pembaharu, walaupun ujian yang kita alami ada dalam wilayah politik.

Kedua, ujian yang dialami seorang hamba karena kesalahan dalam strategi atau perencanaan yang menyimpang.

Sebagai contoh,

Berkoalisinya musuh-musuh Islam, dari kaum Quraisy, Bani Ghathafan, Bani Nadhir, dll, hingga mengepung Madinah dalam peristiwa Perang Ahzab tahun ke 5 H, adalah ujian yang bersifat taqdir, bukan terjadi karena kesalahan dalam strategi atau perencanaan dari penduduk Madinah. Oleh karena itu Allah SWT berfirman:

{إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا} [الأحزاب: 10، 11]

Artinya: (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpada dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.”

Akan tetapi kekalahan yang dialami oleh kaum muslimin dalam perang Uhud harus kita maknai sebagai ujian yang datang karena kesalahan dalam strategi, atau penyimpangan dari sebuah perencanaan, dimana ketika itu para pemanah yang ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menetap di bukit mereka tidak mengindahkannya, mereka pergi meninggalkan bukit menuju para sahabat yang sedang memdiskusikan ghonimah.

Oleh karenna itu Allah SWT berfirman, menegur kaum muslimin tentang kekalahan ini;

{ أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ } [آل عمران: 165]

Artinya; “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dengan memahami kedua jenis ujian ini, kita akan lebih bijak dalam menyikapi dan menilai setiap ujian atau cobaan hidup yang menimpa kita.

Banyak orang yang stres dan mencaci diri karena gagal meraih sesuatu dan menganggapnya bahwa kegagalan itu dikarenakan kesalahan dalam strateginya, padahal kegagalan yang dialaminya di luar dari perencanaannya.

Sebagaimana tidak sedikit orang yang hilang harapan, lemah azam, putus asa, karena menafsirkan setiap ujian yang menimpanya sebagai bagian dari takdir Allah SWT yang tidak dapat ditolak atau dirubah oleh usaha manusia.

Namun demikian, ketika kita memahami ujian jenis kedua di atas, tida serta merta bahwa ujian itu terjadi tidak seizin Allah SWT, atau diluar takdir dan ketentuan Allah SWT. Di sini kita hanya memahami bahwa dalam ujian jenis kedua, Allah SWT telah menitipkan syarat sebuah kemenangan dan kekalahan, kesuksesan dan kegagalan, kesediahan dan kebahagiaan…kepada hukum alam atau bahasa lainnya kepada strategi dan perencanaan.

Wallahu ‘Alam Bisshowwab.

By; Admin Pena

23

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *