Home Dunia Ide Diary Azhary: 2 Dekade di Dunia
Diary Azhary: 2 Dekade di Dunia

Diary Azhary: 2 Dekade di Dunia

62
0

Horizon mendingin sore itu, dibalut lukisan langit kemuning, membuncah keheningan, tangis seorang insan memenuhi seisi ruangan. Aku seorang perdana, akulah yang melengkapi kebahagian mereka untuk pertama kalinya. Akulah buah dari pohon cinta, yang mereka nikmati berasa bangga. Akulah ia, abdi Tuhan yang lahir ke dunia untuk kembali suatu hari kepada- Nya.

Dua dekade yang lalu, seperti kemarin. Tahun itu begitu istimewa, Indonesia bersemi demokrasinya, perancis mengangkat trophy piala dunia berkat kepala Zidane, yang 8 tahun kemudian menjadi petaka kekalahan Perancis.  Foto- foto yang terselip di bibir figura, sedikit usang berdebu, seorang bayi mengkilap putih kulitnya, tembam pipinya, kini ia sedang menuliskan seuntai pelajaran hidupnya 2 dekade lamanya.

Serasa kemarin, saat paha anak itu merah delima oleh bentaran ayahnya, salah mengeja makhorijul huruf, itulah kesalahannya, anak itu tak karuan kebingungan, padahal sudah sepuluh kali ia mengulang ejaannya, namun tetap saja salah, pahanya semakin memerah, “masa anak ustadz, gak bisa ngaji”, kata ibunya menyinggung suaminya sambil menyetrika.

Di lain hari, ibunya yang mendiktekannya, beda dengan cara ayahnya, kini anak itu hanya perlu mendengar kemudian menghafal. Hari itu surat Al- Falaq, adzan Isya’ hampir berkumandang, “qul au’zhu birabbil falaq, min syarri ma kholaq”, dua ayat itu belum rampung juga dihafalnya, naik pitam dibuatnya akhirnya amarahnya membuncah, bukan malah melantukan ayat, air matalah yang malah berbicara, “eh.. pelan- pelanlah ngajarin anak tuh”, kini ayahnya yang balas menyinggung ibunya. Anak itu kini sedang senyum- senyum sendiri di meja belajarnya mengingat cerita itu, cerita tentang dinamika pendidikan orang tua.

Serasa kemarin, di usianya yang ke- 8, anak itu pura- pura tertidur sehabis pulang sekolah, untuk menyabotase kepergiannya jam 2 ke madrasah (sekolah agama). Tidur adalah alibi, anak itu berharap agar ibunya enggan membangunkannya, karena tega melihat air mukanya runyam kelelahan. Padahal bukan itu maksudnya tidur, tepatnya karena serial Naruto mulai disiarkan setiap jam 2, anak itu enggan melewatkan tontonan kesayangannya, “tadi aja kayak yang sakit tidur”, kata ibunya sambil menyimpul senyum menyindir, anak itu hanya senyum- senyum enggan menjawab, alisnya naik- naik mengisyaratkan kemenangan. Itulah di antara cerita hidup anak itu, yang ia namakan sebagai masa terpaksa.  

Seperti masih kemarin, saat bocah ingusan itu beranjak remaja. “Ke pesantren di Rangkas Bitung”, begitu jawabnya saat ditanya seorang guru tentang tempatnya melanjutkan, ringan saja jawabnya, karena pesantren terdengar luar biasa di telinga teman- teman seumurannya, ia hanya ingin terlihat hebat di hadapan guru dan teman- temannya, sekolahnya jauh dari rumah, bukan sebelah rumah seperti kebanyakan temannya.

Seminggu setelahnya, tepatnya hari Kamis, baju Pramuka yang dikenakannya kuyup oleh keringat, tak jua membuat ibunya ngomel seperti biasa, hari itu ada yang berbeda, rumah terasa hening, yang terdengar di rumah hanya dengung kipas dan siaran TV tanpa penonton. Usut punya usut ternyata masalahnya itu, namanya tidak tercantum sebagai siswa baru yang diterima di sekolah yang dielukannya. Pantas saja, ayahnya kusut menekuk muka, kecewa.

Namun bim salabim aba kadabra, ternyata sekolah tersebut memberikan kesempatan untuk tes ulang, akhirnya ia diterima, mengelus dada ia bahagia. Dari sanalah satu tangga baru kehidupan mulai ia jajaki, hidup dengan sebuah tujuan untuk pertama kali, membuat bangga orang tua.

Hari itu adalah hari perdananya di sebuah tempat yang bernama pesantren, lagaknya berasa kuat, namun akhirnya air tumpah dari kelopak matanya, menangis untuk sebuah perpisahan sementara untuk pertama kalinya, ia peluk erat ayahnya sesaat sebelum lambai tangannya pudar dari kejauhan, tangisnya sangatlah lumrah, namun kualitasnya jauh dari Hassan Al- Banna, yang menangisi keruntuhan khilafah islamiyyah di masa seusianya.

Hari berlari cepat seperti kilat, hari itu hari raya Idul Adha, ayahnya menelepon Nokia jadul milik ustadznya, yang katanya dapat mengisi pulsa dengan sendirinya apabila diapungakan ke udara. Ayahnya bertanya padanya tentang kepulangan, memang benar terdapat libur 3 hari lamanya, namun ia menolak, alasannya sangat bertolak dengan air matanya dulu, ia bisa makan sate sepuasnya. Ia kini mulai betah di sana, ia telah memasuki satu masa lagi episode hidupnya, masa terbiasa.

2 yang hilang darinya yang sampai kini ia sesali dari masa itu, membaca dan menulis. Pemuda itu kehilangan kebiasaan itu di masa remajanya. Adiknya yang banyak melahap karya Agatha Christie lebih idealis dibandingnya, cara berbicaranya lebih sistematis dan bernas. Adiknya lebih dahulu menemukan rahasia kehidupan yang saat itu belum dimilikinya, prinsip hidup, itulah ia.

Ia banyak merenung, banyak menjumpai gagasan, namun tak pernah satupun menjadi pokok bahasan, karena ia tidak mempunyai sarana untuk mengungkapkan, ia belum mengerti makna penting dari sebuah tulisan, sebagai sarana menyambung gagasan. Jadilah ia emas yang tak terlihat kilaunya, gagasannya meronta untuk dilontarkan, namun lidahnya kelu, tangannya tertahan malu. Itulah sesalnya.

Sampailah ia di ujung tertinggi dari hirarki pendidikannya, rambut- rambut halus melingkari wajah ovalnya, sebanyak rambut itu, sebanyak bekal pengetahuan yang ia bawa dari bumi pertiwi. Ia harus pergi jauh dari tempat kelahirannya, lebih jauh dari China, ia harus manyambangi negeri Kinanah di benua Afrika, Al- Azhar menjadi pemberhentiannya menimba dalamnya palung ilmu.

Bukan dengan siapa- siapa, ia hanya sendiri, seorang diri melintasi benua, tanpa seorangpun mengenalnya, tidak pula ia mengenal seorangpun. Sesampainya di sana, sadarlah ia bahwa keluarga baru sedang menunggunya, innamal mu’minuna ikhwah, keluarga iman, keluarga sepemikiran, keluarga dakwah, keluarga ‘lingkaran’, itulah keluarga barunya.

Kini di dua dekade umurnya, titik terang prinsip hidupnya mulai terbit, ia lebih mengenal dirinya dari sebelumnya, kelebihan maupun kekurangan. Membaca dan menulis bukan lagi menjadi alergi, kini menjadi kegilaan yang candu. Ia kini lebih mengenal dirinya, halaka mru’un la yadri qadra nafsihi, celakalah seseorang yang tak mengenal dirinya sendiri, mutiara hikmah itu, yang dulu ia hafal saat masih belia, lebih mengena dan meresap sekarang. Ia lebih suka melakukan yang ia suka, dan meninggalkan sesuatu yang ia tidak bisa.

Orientasai hidupnya tidak lagi terkungkung dalam teritori kecil pengap. Cita- cita hidupnya melanglang ke angkasa, bukan lagi hanya untuk orang tua ia terus hidup, agamanya yang kini disudutkan menjadi satu duduk perjuangan hidup yang ia tinggikan, kedamaiaan umat manusia adalah kejora jauh di ujung sana yang coba ia raih sekuat tenaga. Kini sampailah ia di salah satu simpang hidupnya, setelah masa terpaksa, kemudian terbiasa, menjadi masa dewasa, berbagi kesadaran. Tujuannya adalah banyak menyurati generasi, agar di kemudian hari dapat dikenang pergi.

62

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *