Home Dunia Ide Sekapur Sirih Pentingnya Aktifitas Pemikiran dalam Pandangan Dr. Salim Awaa
Sekapur Sirih Pentingnya Aktifitas Pemikiran dalam Pandangan Dr. Salim Awaa

Sekapur Sirih Pentingnya Aktifitas Pemikiran dalam Pandangan Dr. Salim Awaa

37
0

“Umat tidak akan bangkit kecuali dengan pemikiran”, begitu kata Muhammad Salim Awaa di sebuah kuliah umum yang diadakan oleh Arab Network and Research and Publishing. Ia merupakan salah seorang pemikir Islam kelas dunia, satu dari sekian intelektual yang faham sejarah geliat pemikiran yang melingkupi Islam sejak lama, hal tersebut terbukti dengan lahirnya karyanya yang berjudul, Madaris al- Fikriyyah minal Khowarij ila Ikhwanul Muslimin, madrasah- madrasah pemikiran dari Khowarij sampai Ikhwanul Muslimin, buku tersebut menjadi pemapar sanad pemahaman historis terhadap eksistensi sekolah- sekolah pemikiran Islam yang benar- banar ada, bahkan menjadi kiblatnya.

Melihat dekade- dekade ke belakang, masalah yang dihadapi setiap bangsa relatif sama, yaitu menciptakan sumber daya manusia yang ideal, sebagaimana yang setiap pemikir di dunia sepakati, bahwa kemajuan manusia ditopang oleh dua hal, kemajuan ruhani dan materi. Kita melihat dua kutub besar wadah pemikiran manusia, Timur dan Barat. Timur dulu pernah memiliki kedua hal itu, materi dan ruhani saat Islam menjadi motor pencapaiannya, namun tak lama berselang Barat merampas hal itu, masalahnya tepat saat itu, Barat sedang berada di puncak kemuakannya terhadap filsafat Kristen yang memonopoli kebenaran, diambilah materi Islam dengan menyingkirkan aspek ruhani, jadilah Barat, Barat yang sekarang.

Melihat fenomena yang demikian tentu membuat pikiran kita terbuka, tentang perkataan Malik bin Naby, bahwa dunia pemikiran adalah satu hal yang lebih penting dari pada kedua alam lainnya, dunia materi dan tokoh. Pemikiran menjadi jembatan tranformasi cara hidup manusia, itulah yang terjadi antara kutub pemikiran tersebut, Timur dan Barat.  Inilah yang coba dikampanyekan oleh Dr. Muhammad Salim Awaa, pemahaman bahwa pemikiranlah yang sesungguhnya menjadi warisan manusia saat meninggal bukan yang lainnya.

Di antara tokoh- tokoh yang menjadi sampel kampanyenya tersebut adalah Hallaj, seorang Sufi kenamaan di zaman Salaf, sebagaimana kita mengenal Socrates yang dihukum mati oleh pemerintah Athena, begitu pula dengan Hallaj yang ulama mazhab membenarkan penumpahan darahnya. Hallaj adalah seorang Sufi ekstrim yang terkenal dengan perkataan kontroversinya, “anal haq”, yang menjadi perwujudan bahwa ia telah menyatu dengan Tuhan. Sebagaimana Socrates yang filsafatnya terus hidup, begitu pula dengan Hallaj, yang kata DR. Awaa bahkan telah menjamur yayasan- yayasan yang menisbatkan diri kepada pemikirannya hingga hari ini.

Mungkin sampel di atas terlalu lampau untuk dipercontohkan. Dr. Awaa juga mencontohkan dua orang yang lebih kontemporer, Hassan Al- Banna dan Sayyid Qutb. “saya menantang siapa saja di dunia ini, yang mengenal Islam, tanpa mengenal Hassan Al- Banna”, kata Dr. Awaa di salah satu kuliah umumnya disela tawa kecil, di lain kesempatan beliau juga menggambarkan bagaimana madrasah pemikiran Hassan Al- Banna, Ikhwanul Muslimin melewati batas territorial dunia, ketika salah seorang sejarawan Harakah Islamiyyah berkata pada beliau, “tidaklah di 130 negara di dunia ini, melainkan di sana ada orang- orang Ikhwanul Muslimin, partai Ikhwanul Muslimin dan lembaga kemanusiaan Ikhwanul Muslimin”.

Cerita lainnya adalah tentang Sayyid Qutb. Yang Dr. Awaa ceritakan sebagai perwujudan bagaimana pemikiran dapat meresap dalam diri khalayak. Dahulu saat Ma’alim fit Thoriq baru mulai dilarang dibaca di Mesir, Dr. Awaa muda saat itu membeli Salinan buku tersebut, kemudian ia taruh salinan itu di rumah pamannya, berselang beberapa hari Salinan tersebut hilang, ternyata Salinan itu diambil dan disembunyikan oleh pamannya, bertanya- bertanya kenapa Salinan tersebut hilang, pamannya berkata pada beliau, “kamu punya rasa penasaran, tapi jangan sampai tanda tanya ini membuat ibu bapakmu, saya dan adikmu keluar dari rumah ini kemudian tidak kembali”. Begitu cerita beliau menggambarkan bagaimana sebuah pemikiran bisa menjadi momok menakutkan namun tetap hidup walau ditinggal pemiliknya.

Dari pemaparan beliau kita dapat mengambil initisari, bahwa pemikiran merupakan satu komponen yang penting bagi umat manusia, dinamika bantah membantah, bela membela sebuah pemikiran haruslah menjadi tren zaman yang terus digaungkan, dengan itulah umat manusia dapat terus menemukan inovasi. Sebagaimana pemikiran adalah satu komponen yang tetap hidup di kentara zaman walaupun dibendung sedemikian rupa, diberangus geliatnya. Pemikir selamanya tidak pernah mengenal kata mati.

Allahu a’lam bis showab..

37

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *