Home Dunia Kajian Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Pertama)
Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Pertama)

Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Pertama)

34
0

“Di keheningan malam, dan di kepulasan umat Islam dalam tidurnya yang panjang, berkumandanglah dari negara Afghan seruan memanggil kepada fajar baru, seruan memanggil: “mari menuju kemenangan!”, dan gaungnya menggema di setiap tempat. Itulah seruan Jamaluddin al- Afghani, Sang Pembangkit umat ini menuju kebangkitan baru, dan hari baru” (Filosof Kebangkitan Malik bin Nabi).

Salah satu yang dikritisi oleh Dr. Muhammad Imaroh dari intelektual muslim hari ini adalah, kesadaran tentang kebangkitan yang kurang dibanding generasi Hassan Al- Banna. Imam Hassan al- Banna mewajibkan kader- kadernya untuk membaca Risalah Tauhid, Al Islam wa an- Nashraniyyah bainal Ilmi wal Madaniyyah milik Muhammad Abduh, dan Thobai’ul Istibdad wa Rowa’iul Isti’bad karya Abdurrahman Al- Kawakibi. Semua itu dilakukan agar generasinya bersambung sanad kebangkitannya dengan generasi sebelumnya, agar pemahaman kader- kadernya bersambung dengan ideologi kebangkitan para Pembaharu; Jamaluddin al- Afghani, Muhammad Abduh dan pembaharu se-zamannya.

Maka dari itu, penting bagi kita mengenal gelombang kebangkitan kita dalam rel sejarahnya, sudah sampai mana kita dalam menyuarakan kebangkitan Islam? Siapa saja tokohnya yang mesti kita ketahui sebagai penyambung sanad pemahaman kita? mari kita sambut seruan Jamaluddin Afghani dari Afghan yang meneyeru pada kemenangan kita, “hayya alal falah..hayya alal falah!” dengan menyelami gelombang kebangkitan kita.

Gelombang pertama:

Pan Islamisme (1839— 1897) namanya, dari namanya saja kita dapat mengetahui bahwa tujuan gerakan yang diusung Jamaluddin al- Afghani ini bertujuan untuk menyatukan umat Islam sedunia, gerakan yang dimulai sejak awal abad ke -19 ini merupakan gerakan yang menjadi tameng sealigus senjata umat Islam memerangi imperialisme, tameng dari westernisasi dan senjata mengusir penjajah.

Selain Pan Islamisme yang dibawa oleh Afgani dan Muhammad Abduh, sebenarnya masih banyak lagi ideologi- ideologi kebangkitan yang dibawa oleh pembaharu se-zamannya, seperti Muhammad Iqbal dan Amir Khan di India, Muhammad Badis, Syaikh Basyir al Ibrahimy di Jazair, Amir Syakib Arselan di Lebanon, Khoiruddin Tunisy di daerah Maghrib. Namun kita cukupkan dengan menyebut Pan- Islamisme saja, yang banyak bergulat di Mesir karena salah satu tokohnya Abduh adalah yang kemudian menjadi inspirasi Hassan al- Banna di gelombang kedua.

Objek dari Pan- Islamisme adalah tokoh (nukhbah), maka dari itu, kita akan banyak menemukan bahwa Jamaluddin Afghani banyak melakukan upaya- upaya politis untuk menyadarkan para umaro’ pemimpin untuk memerangi penjajahan. Kemudian upaya tersebut juga dilanjutkan oleh Muhammad Abduh yang cendrung melakukan reformasi (Islahy) daripada Afghani yang manhajnya revolusi (tsaury), Muhammad Abduh banyak terjun di bidang pendidikan, utamanya adalah mendamaikan umat yang berdebat tentang aspek teologis yang menyibukkan umat di abad pertengahan, bukunya Risalah Tauhid adalah bukti dari upaya itu. Kita bisa katakan bahwa, Afghani adalah yang face to face dengan imperialisme, sedangkan Abduh adalah sosok yang lebih dialektis, membangun kekuatan umat dari dasar melawan imperialisme, namun manuver keduanya hanyalah terbatas pada tokoh- tokoh bukan umat seluruhnya.

Salah satu dari upaya keduanya adalah dengan menciptakan sarana perjuangan mereka, sarana itulah yang kemudian disebut urwatul wutsqo, ajang silaturahim untuk mematangkan fikroh, sekaligus media yang menjadi lisan pergerakan. Dari sinilah Abduh dan Afghani berkeliling melakukan konsolidasi dengan setiap elemen masyarakat Islam untuk menyatukan pandangan, yaitu menyongsong kebangkitan Islam.  Salah satu yang perlu dicatat adalah bahwa Kyai Ahmad Dahlan adalah salah satu yang aktif bergelut di Urwatul Wutsqo, yang menjadi dalil bahwa Muhammadiyyah adalah satu dari sekian jamaah yang memiliki sanad pembaharuan kebangkitan Islam dari Pan- Islamisme.

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa Haji Basuni Imron dari Sambas, Kalimantan, pernah melakukan dialog dengan Syaikh Rasyid Ridho, pewaris ideologi kebangkitan sesudah Muhammad Abduh. Rasyid Ridho’ yang menjadi pimpinan redaksi majalah al- Manar yang menggantikan Urwatul Wutsqo,  mendapat sebuah pertanyaan, “kenapa umat Islam mundur sedangkan yang lainnya maju?”. Lalu, Syaikh Rasyid Ridho’ menugaskan Amir Syakib Arselan untuk menjawab pertanyaan itu, yang kemudian malah terkumpul menjadi sebuah buku Limadza Ta’akhorol Muslmuna wa Taqaddama ghoiruhum, jawaban dari pertanyaan Basuni Imron menjadi sebuah buku fenomenal di sepanjang abad 20. Hal tersebut menjadi bukti, bahwa Nusantara tidak lepas dari ideologi kebangkitan yang diserukan para pembaharu.

Urwatul Wutsqo yang menjadi sarana dakwah para pembaharu masih terus hidup hingga abad 20, sebagaimana diceritakan Dr. Muahammad Imaroh dalam bukunya Masyru’ Hadhory fi fikri al- Imam as- Syahid Hassan Banna. Ayah al- Banna Syaikh Ahmad yang bekerja di tempat reparasi jam menceritakan bahwa majikannya aktif melakukan halaqoh- halaqoh Urwatul Wutsqo di rumahnya. Hal tersebut menjadi bukti bahwa selain bertemu langsung dengan pewaris ideologi kebangkitan, Syaih Rasyid Ridho, Hassan al- Banna memang banyak mewarisi pemikiran- pemikiran pembaharuan dari pendahulunya, yang kemudian ia formulasikan di gelombang kedua menjadi manhaj baru kebangkitan.

Gelombang pertama kebangkitan kita, dapat kita fokuskan pada satu intisarai, Takwinul Fikroh. Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho’ berfokus pada pembangunan kesadaran bersama, untuk terlepas dari kekang penyakit kemunduran di masa Utsmani, untuk kemudian bersatu kembali di bawah panji yang satu dengan mengesampingkan perbedaan- perbedaan, walaupun hanya berfokus pada bidang pendidikan dan politik yang disuarakan sendiri- sendiri baik oleh Afghani dan Abduh, pada gelombang kedua nanti Imam Hassan al- Banna menyatukan kebaikan- kebaikan pendahulunya, membentuk manhaj baru yang kita kenal sebagai manhaj Syumuli (universalisme).

Bersambung…

34

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *