Home Dunia Kajian Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Kedua)
Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Kedua)

Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Kedua)

24
0

Gelombang kedua:

Di gelombang ke- 2, Imam Hassan al- Banna melihat bahwa tidak adanya khilafah sebagai sentral kekuatan Islam dan masuknya westernisasi pasca runtuhnya Utsmani, telah menafikan keefektifan dakwah para Pembaharu sebelumnya, Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho’.

Maka ia memandang perlunya upaya baru yang dibangun dengan cara baru. Kebaikan- kebaikan pendahulunya coba diramu oleh Hassan Banna, lahirlah Neo- Pan Islamisme, penyempurna gerakan Salafi tekstual dengan penambahan rasionalisme, yang bergerak dengan gagasan Islam Universal (Syumuliyyatul Islam), hal tersebut dapat kita ketahui dari poin pertama di Ushulul Isyrin:

Islam adalah satu sistem yang menyeluruh yang meliputi semua aspek kehidupan. Ia adalah daulah dan tanah air ataupun negara dan umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan ataupun rahmat dan keadilan. Ia adalah peradaban dan undang-undang ataupun ilmu dan pengadilan. Ia juga adalah materi dan kekayaan alam ataupun kerja dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah ataupun ketentaraan dan fikrah. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang benar dan ibadah yang sahih, kesemuanya adalah sama pengiktibarannya di sisi kita”. (Risalah ta’lim, Rukun Al-fahm, Prinsip pertama, Hasan Al-Banna)

Maka bergeserlah objek dari gerakan kebangkitan kita, yang tadinya hanyalah berkutat pada tokoh, diplomasi- diplomasi kalangan elit di gelombang pertama, objeknya menjadi lebih luas yaitu umat, dari tokoh (nukhbah) ke masyarakat (umat).

Sarananya bukan hanya media, tapi harokah, gerakan- gerakan sosial politik, itulah yang kemudian di sebut Ikhwanul Muslimin, impiannya menyadarkan bahwa umat Islam adalah satu tidak tersekat- sekat oleh territorial negara bangsa, semua muslim bersaudara saling menopang satu sama lain.

Dengan dakwah Syumuliyyatul Islam (Islamic Universalism), bukan hanya Ikhwanul Muslimin yang menjadi inspirasi gerakan kebangkitan sedunia, namun nama Hassan al- Banna ikut masyhur di kalangan aktivis dunia, oleh sebab itu ia dinamai oleh salah seorang kadernya yang kemudian menjadi pimpinan jama’ah, Umar Tilmisani, dengan sebutan al- Mulham al- Mauhub (inspirator sepanjang zaman).

Salah satu tokoh Nusantara yang mengemukakan keteladanannya terhadap Hassan Banna adalah Muhammad Natsir, tatkala beliau ditanya oleh dewan redaksi majalah al- Wa’yu al- Islami di Kuwait, beliau mengatakan, “ulama’ luar yang sangat berpengaruh bagi saya adalah Syaikh Muhammad Amin al- Husaini, Imam Hassan al- Banna, dan Syaikh Hasan Hudhaibi, sedangkan ulama dalam negeri yang sangat berpengaruh adalah Syaikh Agus Salim dan Syaikh Ahmad Surkati”.

Ikhwanul Muslimin dan Hassan al- Banna yang menginspirasi juga diungkapkan oleh pemikir Islam kontemporer seperti Dr. Muhammad Salim Awaa yang mengatakan, “saya menantang siapa saja di dunia ini, yang mengenal Islam, tanpa mengenal Hassan Al- Banna”. Di lain kesempatan beliau juga menggambarkan bagaimana madrasah pemikiran Hassan Al- Banna, Ikhwanul Muslimin melewati batas territorial dunia, ketika salah seorang sejarawan Harakah Islamiyyah berkata pada beliau, “tidaklah di 130 negara di dunia ini, melainkan di sana ada orang- orang Ikhwanul Muslimin, partai Ikhwanul Muslimin dan lembaga kemanusiaan Ikhwanul Muslimin”.

Dari gelombang ke- 2 kebangkitan, kita dapat mengambil intisari sebagai ciri dari gelombang ini:

  1. Munculnya gerakan sosial- politik Islam, gagasan Islam Universal Hassan al- Banna mengoreksi gelombang pembaharuan sebelumnya yang hanya berfokus pada pembentukan pemahaman (takwinul fikroh) tentang ide kebangkitan. Di masanya, saat umat tidak ada lagi tempat bersandar, karena khalifah telah runtuh dan westernisasi telah masuk ke dalam ‘rumah’ umat, tidak cukup gagasan pembaharuan hanya berfokus pada penyadaran, tapi perlu adanya realisasi kesadaran tersebut, maka dibentuklah jamaah- jamaah, bukan hanya Ikhwanul Muslimin namun geliat tumbuh kembangnya jamaah tersebut menyebar ke seluruh dunia, seperti Muhammadiyyah di Nusantara dan Jamaah Islamiyyah di India- Pakistan. Focus gelombang ke- 2 adalah tandzimul fikroh (pengorganisasian gagasan) bukan lagi takwinul fikroh (pembentukan gagasan).
  1. Munculnya gagasan pemikiran peradaban, selain munculnya gerakan- gerakan sosial- politik, tokoh- tokoh pemikir yang berafiliasi maupun tidak berafiliasi muncul membantu gerakan- gerakan tersebut. Sebut saja Malik bin Nabi yang memiliki proyek menyeluruh tentang peradaban, Muhammad al- Ghozali, Thoriq Bisyri, Muhammad Imaroh, Yusuf Qordhowy dan pemikir- pemikir lainnya, yang pengamat berpandangan bahwa mereka adalah tokoh- tokoh dengan trend pemikiran peradaban.
  1. Trend gerakan Islam radikal, salah satu yang mewarnai jalannya gelombang ke- 2 ini yang terus berlanjut hingga ke gelombang kita hari ini. Utamanya hal tersebut muncul karena adanya perlakuan diskriminatif terhadap para kader kebangkitan yang berada di penjara, mereka yang coba melipur lara mencoba membaca buku- buku yang menghukumi kondisi mereka, buku- buku al- Maududi dengan konsep jahiliyyah dan hakimiyyah, membentuk pemahaman Sayyid Qutb yang lebih liar mengelaborasi konsep tersebut, maksudnya menyadarkan dan membendung akidah umat dari konsep Barat disalahpahami oleh beberapa oknum yang menjadikannya dalil melakukan kekerasan.

Faktor lainnya yang menumbuhkan benih radikalisme adalah kekecewaan kaum Islamis terhadap wordview Barat yang mendeskriditkan Islam. Konsep Humanisme yang digemborkan Barat tidaklah semanis yang dikatakan, umat Islam malah merasakan kebalikannya, peristiwa 9/11 yang dijadikan dalih mensetankan Islam disambut oleh para pejuang dengan membentuk gerakan- gerakan radikal melawan ketidakadilan.

Allahu a’lam bis showab

Bersambung….

24

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *