Home Dunia Kajian Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Terakhir)
Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Terakhir)

Mengenal Gelombang Kebangkitan Kita (Bagian Terakhir)

31
0

Gelombang ketiga:

Dr. Muhammad Imaroh menandai gelombang ke-3 kebangkitan kita dengan munculnya gerakan- gerakan Islam radikal. Diskriminasi para Diktator yang menyakitkan, dan ketidakadilan Barat dalam menebar modernisme sepihak tanpa memperdulikan konsep masyarakat Islam yang eksklusif di satu sisi, membuat para pejuang angkat senjata melawan ketidakadilan dan kediktatoran.

Di masa- masa perang dingin, para pejuang dilatih untuk menjadi alat perang, di Afghanistan kaum muslimin diperalat oleh Amerika untuk mengusir Rusia, mereka dipuja sebagai pejuang. Namun masalahnya, apa yang terjadi setelahnya, yang tadinya disebut pejuang, Barat putar 180 derajat menjadi teroris, demi apa? industri militer, tidak ada perang, senjata tidak akan laku di pasaran, maka dibuatlah perang melawan terorisme demi leberlangsungan bisnis. Oleh sebab itu, tepat apabila Anis Matta mengatakan bahwa Terrorisme adalah residu perang dingin.

Sedangkan Nurfarid, Lc lebih menjadikan Arab Spring sebagai awal mula gelombang ketiga. Karena peristiwa tersebut diamini atau tidak, merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam, tak ayal senator Amerika John Sidney McCain takjub berkomentar saat ditanya tentang Arab Spring, “peristiwa revolusi 25 Januari di Mesir merupakan peristiwa terbesar yang dialami umat Islam pasca keruntuhan Turki Utsmani, dan akan menimbulkan konsekuensi yang serius bagi peta perpolitikan di kawasan”, begitu katanya.

“Demonstrasi terbesar di dunia”, begitu media luar banyak memberitakan Mesir. Hari- hari pasca Revolusi 25 Januari seperti mimpi yang nyata menjadi. Hari di mana orang- orang berbaju loreng membuka seragamnya berbaur dengan demonstran, hari di mana terjadi ledakan besar di tubuh Salafi mengkaji ulang larangan Pemilu, tokoh- tokohnya bahkan berkata, “kami merasa bersalah ketika kami membiarkan Ikhwan sendirian berada di medan Tahrir dalam peristiwa revolusi 25 Januari 2011”. 

Salafi menolak diadu domba, mu’tamar yang berisikan 19 ulama’ dari ormas Islam, yang 2 di antaranya adalah dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an Universitas Al- Azhar, Dr. Abdul Hayyi Farmawi dan Dr. Abdus Sattar Fathullah Said, mereka semua sepakat untuk menyatukan suara di pemilu ke depan dan mengutamakan persatuan umat. Tak ayal yang terjadi adalah hal yang sulit dibayangkan sebelumnya, ulama- ulama Salafi selepas sholat shubuh di sela ta’limnya menyarankan untuk memilih calon legislatif dari partai Ikhwan “karena mereka lebih berpengalaman” dibanding memilih partai Salafi sendiri Hizbun Nur, begitu kata mereka. begitu pula kebalikannya, di Nasr City, Muhammad Yusuf Ibrahim dari Partai Salafi Hizbun Nur diusung untuk menjadi anggota dewan oleh Hizbul Adalah war Rafahiyyah milik Ikhwan. Peristiwa yang sulit dipercaya terjadi pra revolusi.

“jika suatu hari suatu bangsa  menginginkan kehidupannya, maka harus segera disambut semampunya, karena malam pasti berlalu, dan sebagaimna belenggu pasti melebur hancur”, Syair As- Sya’bi itulah yang memancar semangat, membakar rakyat untuk turun ke jalan. Narapidana dilepas dari penjara dipesan untuk memecah belah barisan, membakar masjid dan gereja, Amerika menawarkan mega dana moneter untuk membeli Revolusi Mesir, semuanya tiada guna.

Teriakkan tsauroh silmiyyah..silmiyyah yang lantang oleh demonstran membungkam niat para Narapidana memecah barisan, teriakan damai itu malah membuat mereka ikut bergabung bersama barisan. Grand Syaikh Al- Azhar menolak mentah- mentah suapan Amerika, bahkan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap cita- cita kebebasan bangsa. Cita- cita itulah yang mengeluarkan rakyat dari kursi hangatnya sambil meneguk teh, beranjak berbondong- bondong menuju TPS menunaikan hak pilihnya, setelah sekian lama Pemilu jalannya seperti drama Korea.

60% ikut serta menunaikan hak pilihnya, padahal sebelum revolusi paling tinggi hanya 15%, bahkan apabila diboikot Ikhwanul Muslimin suara yang terkumpul hanya mencapai 2%.  Apa yang memantik peristiwa ‘Musim Semi Arab’ terjadi, cuaca itulah jawabannya. Perubahan besar yang berhembus dari Tunisia, Maroko, Libya, Mesir dan Saudi Arabia, semua terbit karena cuaca global, di mana kekuatan ekonomi Barat sedang berada di titik terlemahnya, Intelejen mereka tertekan sehingga mandul menjadi informan kontrol Barat terhadap dunia Arab.

Jika memang benar, gelombang ke-3 kita dimulai dari sejak Arab Spring, maka hari ini kita baru memasuki  tahun ke- 7 perhelatannya. Peristiwa yang perlu dicatat adalah munculnya kontra Arab Spring yang ditandai oleh kudeta berdarah atas Muhammad Mursi presiden Mesir 2013. Kemudian hal tersebut memanas dengan pemboikotan Qatar pada 2017 hingga sekarang dengan dalih perang terhadap terorisme. Lagi- lagi kita bisa membaca, bagaimana kaum- kaum yang mempertahankan status quo adalah mereka yang menjadi perpanjangan tangan Barat di wilayah demi mengukuhkan eksistensinya.

Yang perlu kita pelajari dari jalannya gelombang kita hari ini adalah permulaannya, revolusi. Revolusi yang merupakan titik temu antara legalitas yang dipaksakan oleh rezim dan perlawanan yang memuncak oleh masyarakat, haruslah disertakan dengannya kesadaran dan konsep, sebagaimana yang disampaikan oleh J. Revel bahwa revolusi tidak boleh terjadi begitu saja dan tergesa- gesa, itulah yang terjadi di Arab Spring.

Kondisi pra revolusi, saat revolusi dan pasca revolusi harus di-guide dengan konsep, di sinilah kita menemukan peran para filosof pemikir. Sebut saja revolusi Perancis yang hampir mirip dengan Arab Spring, kelebihannya diikat oleh pemikiran kebebasan Rousseau, namun terhempas saat perhatian terhadap status quo luput. Sama dengan yang terjadi di Mesir, kementrian pertahanan dan luar negeri dipegang status quo, tidak ada gagasan yang mengikat, terjadilah kudeta. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di restorasi Meiji dan revolusi Bolshevik, keduanya di-drive oleh pemikiran, Meiji dengan keterbebasan dari filsafat kasta konfusianisme, dan Bolehevik dengan ideologi komunisme Marx, keduanya tidak memberikan celah pada status quo setelah revolusi, berhasilah mereka.

Namun ala kulli hal kita bisa ber-istifadah dari jalannya gelombang ketiga kita hari ini. Kaum muslimin beramai- ramai menyadari pentingnya politik, utamanya lewat demokrasi yang telah diislamisasi; yang dengan semangat berpolitik tersebut umat semakin dewasa, karena diberi kesempatan untuk mengayomi masyarakat yang plural, dan yang terakhir kita semakin paham bahwa kebangkitan kita tidak boleh terjadi begitu saja, upaya- upaya pemikiran harus terus aktif menggiring, pemikir- pemikir harus diberi ruang menyampaikan ide- idenya, saat itulah kebangkitan kita akan bersambut.

Allahu a’lam bis showab..

*Referensi:

  1. Nurfarid. Proyek Kebangkitan Kita, Tasikmalaya, Pena Pembaharu, 2014.
  2. Imaroh, Muhammad. Jamaluddin al- Afghani baina Haqoiqut Tarikh wa Akazib Luis Awadh, Darus Salam, 2009.
  3. Imaroh, Muhammad. Manhajul Islah li Imam Muhammad Abduh, KairoDarus Salam, 2009.
  4. Imaroh, Muhammad. Risalatut Tauhid lil Imam Muhammad Abduh, Darus Syuruq, 1994.
  5. Restorasi Meiji, Wikipedia.com
  6. Aqil, Abdullah. Min A’lamid Dakwah wal Harokah al Islamiyyah al- Muashiroh, Darut Tauzi’ wan Nasyril Islamiyyah, Kuwait, 2002.
  7. Imaroh, Muhammad. Ma’alim Masyru’ al- Kahadhori fi fikri al- Imam as- Syahid Hassan al-Banna, Darus Salam, Kairo, 2oo9.

31

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *