Home Dunia Buku Menjadikan Anak Cinta Membaca Sejak Usia Dini
Menjadikan Anak Cinta Membaca Sejak Usia Dini

Menjadikan Anak Cinta Membaca Sejak Usia Dini

56
0

Oleh : Endang Royanti

Suatu kali seorang ibu merapikan tempat tidur anak gadisnya yang  berusia 10 tahun, ia tertegun karena tidak menyangka kalau di sekililing kasurnya bertumpuk hampir ratusan buku cerita. Ketika mau tidur malam, setelah menggosok gigi dan saling minta maaf sebagaimana kebiasaannya menjelang tidur, gadis kecil tersebut membaca buku cerita pengantar tidur.  Diam-diam sang ibu baru menyadari bahwa kebiasaannya membacakan cerita, saat ia belum pandai membaca di waktu kecil, dilanjutkan dengan membacanya sendiri ketika ia sudah pandai membaca.

Membaca adalah jendela ilmu. Asupan gizi intelektual adalah membaca, bahkan  ayat yang paling pertama kali turun adalah ayat tentang perintah membaca,  surat al- Alaq ayat 1-5 :

‏اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ‏الْأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ {4}

 عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ {5

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dari ayat di atas Allah memerintahkan kita membaca, hal ini pertanda betapa pentingnya aktivitas tersebut.

Beda antara orang yang gemar membaca dengan orang yang tidak gemar membaca terletak pada wawasannya. Orang yang gemar membaca berwawasan luas. Ia selalu penasaran dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yang tidak gemar membaca maka wawasannya sempit, kurang rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan.

Usia dini merupakan usia paling efektif untuk menanamkan kecintaan pada membaca. Apabila anak melihat model dari orang di sekitarnya yang gemar membaca, serta fasilitas buku yang mudah terjangkau, maka anak akan terkondisi dengan kegemarannya membaca buku, namun apabila orang di sekitanya yang dijadikan model adalah orang-orang yang gemar menonton maka yang terkondisi adalah kegemaran nonton.

Cinta membaca berbeda dengan pandai membaca. Apabila yang ditanamkan pada anak adalah dril agar anak cepat pandai membaca, maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu  ketika anak sudah memasuki usia harus pandai membaca maka anak kurang suka membaca.  Hal senada disampaikan zulhaqi dalam https://edukasi.kompas.com bahwa pada anak usia dini tidak ada perbedaan anak yang bisa membaca usia 4 tahun dengan anak yang baru bisa membaca usia 6 tahun. Hal ini tidak lantas membuat anak yang bisa membaca usia 4 tahun lebih hebat dari anak yang bisa membaca usia 6 tahun atau bahkan 7 tahun sekalipun.

Bagaimana caranya agar anak mencintai membaca, berikut adalah beberapa kiat yang perlu menjadi perhatian. Diawali dengan usia pranatal, seorang ibu hendaknya selalu membacakan al Qur’an, karena bayi dalam kandungan sudah diberikan indra pendengaran, penglihatan maupun hati sebagaimana Firman Allah:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا‏ مَّا تَشْكُرُونَ

‏‏”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (as- Sajdah: 9)

Usia 1-3 tahun anak sangat senang apabila dibacakan buku cerita. Bahkan pada usia 3 tahun  sudah dapat membaca buku cerita bergambar dengan lancar walaupun buku terbalik. Hal ini dilakukan karena anak merasa senang melihat gambar, sehingga fantasi anak berkembang dan uniknya, anak langsung bisa menvisualisasikan gambar dalam bentuk cerita. Anak merasa nyaman dengan buku. Buku adalah sahabat setia si kecil.

Menjadikan buku sebagai sahabat anak adalah budaya yang perlu dikembangkan. Pustaka keluarga yang mudah dijangkau oleh anak-anak adalah tempat yang indah bagi keluarga walaupun sederhana. Buku adalah gudangnya Ilmu dan membaca adalah kuncinya pengetahuan. Namun hal yang sering diabaikan adalah keberadaan kotak ajaib di rumah. Tidak adanya aturan kapan televisi perlu dihidupkan dan kapan dimatikan. Hal inilah yang mengubah kecintaan anak pada membaca menjadi kecintaannya pada menonton.

Kisah menarik yang penulis temui adalah adanya keluarga yang mempunyai kesepakatan tidak mempunyai televisi, bila anak mau menonton maka sudah ada pilihan film sehat yang bisa ditonton lewat laptop dengan durasi waktu yang ditentukan. Dalam keluarga tersebut juga ada jadwal nonton bareng, biasanya film yang ditayangkan adalah cerita novel sudah dibacanya. Dari pantauan penulis anak-anaknya sangat gemar membaca, yang lebih unik rata-rata anak-anaknya bisa membaca ketika usia SD. Disamping gemar membaca mereka juga mempunyai daya juang tinggi untuk mendapatkan ilmu. Hal ini dapat dilihat dari anak pertamanya yang berjuang keras mengikuti bimbel di luar provinsi dengan menginap di masjid sampai akhirnya diterima di perguruan tinggi favorit pilihannya.

Menjadikan anak cinta membaca harus dipersiapkan oleh para orang tua dan pendidik. Anak adalah kertas putih yang siap ditulis apa saja oleh orang tua atau pendidik. Oleh karena itu penting kiranya sebagai orang tua mempunyai bekal yang cukup untuk menggiring anak mencintai membaca dengan contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya dan fasilitas yang dipersiapkan.

Tentang Penulis:

Endang Royanti, lahir di Slawi Kab.Tegal 25 Oktober 1972, mengajar di TK Alwafa’a Ombilin, Rambatan Kabupaten Tanah Datar. Pernah meraih juara ketiga guru prestasi tingkat Nasional tahun 2010. Mendapat tugas tambahan sebagai Instruktur Nasional diklat peningkatan kompetensi guru TK, juga sebagai tim Pendidikan Keluarga pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar. Aktif dalam kegiatan organisasi, saat ini sedang memegang amanah menjadi Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Tanah Datar dan ketua komisi perempuan Anak dan Keluarga MUI Tanah Datar.

56

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *