Home Dunia Pemikiran Analisa Sebab- sebab Kegagalan Oposisi Turki Mengalahkan Erdogan
Sebab- sebab Kegagalan Oposisi Turki Mengalahkan Erdogan

Sebab- sebab Kegagalan Oposisi Turki Mengalahkan Erdogan

42
0

Partai Keadilan dan Pembangunan Turki kembali memerintah untuk periode baru. AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dan koalisinya Partai Gerakan Nasionalis, memenangi pemilu setelah meraup bersama-sama lebih dari setengah dari suara dalam pemilihan presiden dan parlemen yang diadakan pada 24 Juni 2018; yang berarti bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan dan partainya, Keadilan dan pembangunan akan memimpin Turki sampai peringatan seratus tahun pertama di mana akan diproklamasikan Republik Turki modern pada 2023.

hasil ini tentu bertentangan dengan sebagian besar jajak pendapat yang meramalkan kegagalan Erdogan untuk memenangkan pemilu, cukup pada putaran pertama, serta tidak memenangkan cukup kursi di parlemen untuk membentuk pemerintahan,

jajak pendapat tersebut juga melebih-lebihkan jumlah suara yang dapat diperoleh oleh partai “aye Barty,” yang memungkinkan pemilih- pemilih Kurdi untuk tidak memilih Erdogan, namun nyatanya tidak seperti yang diinginkan, Erdogan dan partainya kembali menang. Dari sinilah mungkin kita bertanya- tanya apa sebab kegagalan oposisi Turki, sebagaimana yang terpapar di Dohainstitute.com, salah satu lembaga kajian yang berpusat di Qatar, berikut adalah 5 sebab kegagalan oposisi Turki dalam memenangkan pemilu:

  1. Oposisi gagal membentuk program- program ekonomi dan politik yang memuaskan rakyat dan strategis menjadi tandingan program- program Partai Keadilan dan Pembangunan dan koalisinya.
  1. Oposisi tidak bisa meyakinkan tokoh- tokoh Turki dengan narasi politiknya untuk mengubah pandangan mereka dan menjamin perubahan- perubahan yang menjanjikan. Khususnya dalam masalah ekonomi yang belakangan ini tren bagusnya sedang anjlok.
  1. Oposisi tidak bisa menyatukan pandangannya, utamanya untuk mengusung satu calon dari oposisi secara keseluruhan. Hal tersebut tergambarkan dalam sosok Meral Aksener dari Aye Party yang bersikeras melakukan pencalonan dan menolak mengusung Abdullah Gul untuk melawan Erdogan. Tafsiran yang sama juga terdapat pada penolakan Partai Demokratik Rakyat (HDP) yang menjadi payung suara orang- orang Kurdi untuk menggagas kesatuan oposisi.
  1. Selain itu, sebab kegagalan oposisi juga tergambar dalam sikapnya yang cendrung lebih memusuhi Erdogan dari pada mengemukakan tandingan atas program- program partai dan koalisinya. Sibuk memusuhi dari pada memberi solusi.
  1. Kemunculan Muharrem Ince yang terbilang telat mewakili oposisi, dan ketidakmampuannya melanglang ke putaran berikutnya walaupun memiliki 30% suara. Selain karena sosoknya yang tidak terlalu dikenal oleh tokoh- tokoh Turki, gejolak di internal partainya yang meragukan pencalonannya; membuat kebanyakan suara yang diraihnya bukan malah hasil tangan kader partainya sendiri, melainkan oleh pendukung- pendukungnya yang non- partai. Oleh sebab itu, dalam kampanyenya ia malah lebih terlihat sering mengangkat partainya bukan malah partainya yang meninggikannya mendukung.

Kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki adalah model berhasil harokah Islamiyyah yang bermetafora menjadi gerakan politik. Boleh jadi kemenangan itu bukan hanya berarti kemenangan lokal umat Islam di Turki, buktinya adalah rakyat Palestina yang menggambar wajah Erdogan di perbatasan, konvoi kemenangan di Tunisia, Pejuang Suriah mengangkat bendera Turki, semuanya ikut bersuka cita atas kemenangan itu. Setelah Islam politik mulai bergeliat satu persatu menang, dari Malaysia, Turki, Tunisa dan Maroko, akankah Indonesia ikut terkena badai perubahan ini?

Allahu a’lam bis showab..

42

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *