Home Dunia Pemikiran Usulan Dr. Sanhuri Basya Tentang Reformasi Pendidikan di al- Azhar
Usulan Dr. Sanhuri Basya Tentang Reformasi Pendidikan di al- Azhar

Usulan Dr. Sanhuri Basya Tentang Reformasi Pendidikan di al- Azhar

27
0

“Imam mazhab kelima”, begitu kata ulama- ulama kita di Eropa menyetarakan sosoknya dengan Imam- imam mazhab fiqih; karena luasnya pengetahuannya. Namanya adalah Ahmad Sanhuri Basya’ seorang faqih sekaligus ahli hukum positif, dari tangannya fiqih dan hukum positif mendapat formulasi titik temu. Iraq, Mesir dan negara- negara Arab lainnya terbantu menyusun undang- undangnya karena kemampuannya meramu fiqih dan hukum konvensional.

“As- Syarqu bil Islam wal Islam bis syarq”, perkataan tersebut menggambarkan luasnya cakupan proyek kebangkitannya. Ketimuran, hukum, khilafah, kearaban bahkan pendidikan semuanya punya tempat di proyeknya. Hal tersebut juga terbukti dari tulisannya yang berjudul Islam dan negara, yang meyakinkan kita bahwa ia juga merupakan seorang pemikir Islam yang ikut serta terjun dalam medan perang pemikiran, utamanya membantah sekulerisme.

Sebagai putra Mesir, tentu yang tidak luput dari dinamika pemikirannya adalah perhatiannya terhadap masalah pendidikan di negaranya, Mesir. Al- Azhar sebagai wajah pendidikan Mesir tidak lepas dari perbaikan yang diusulkannya, yang menurutnya perlu adanya reformasi di setiap sisi.

Usulannya tentang perbaikan sistem belajar al- Azhar dapat kita temukan di catatan hariannya, pada 26 Agustus 1923 di Lyon, Perancis.  Yaitu sebagai berikut:

“dan Jami’ al- Azhar perlu melakukan banyak perbaikan”, begitu kata Sanhuri Basya memulai, kemudian ia masuk secara mendalam lagi menjabarkan perbaikan yang diinginkannya, “yaitu dengan membaginya ketiga bagian: yaitu bagian sekolah dasar (qism ibtida’i) yang tersebar di seluruh penjuru negeri, menengah yang meliputi sekolah menengah dan sekolah tinggi (qism tsanawi), yang di dalamnya terdapat 3 bagian: bagian agama (qismuddin), kesusastraan (qismul adab) dan hukum (qismul qonun)”

Kemudian setelah menyebutkan dua dari tiga bagian yang ia usulkan, ia melanjutkan dengan menyebut setiap pusat tempat pembelajarannya, “untuk yang bagian agama dan akidah tempat belajarnya terpusat di Azhar, adapun bagian kesusatraan bertempat di Darul Ulum, dan untuk bagian hukum belajarnya dipusatkan di Darul Qadho’”.

“yang hal tersebut harus dibantu dengan pengayaan pembelajaran aqidah sebagai dasar dan kemampuan berbahasa Arab juga bahasa asing, bahasa Persia dan Turki (yang baginya adalah bahasa wajib orang- orang Timur jika ingin bangkit), kemudian bahasa Perancis dan Inggris”, katanya merincikan usulan.

Adapun di bagian ketiga yaitu sekolah tinggi (qismul aly), Sanhuri Basya mulai menyebut apa- apa saja yang mesti dipelajari di bagian- bagian yang ada di qism tsanawi, “bagian agama dan aqidah yang berfokus pada pembelajaran sejarah agama yang berkitab suci utamanya adalah Kristen dan Yahudi, bagian kesusastraan yang mempelajari bahasa- bahasa Ibrani tanpa terkecuali dua yang asing (Inggris dan Perancis), dan bagian hukum dan fiqih yang mempelajari bahasa Perancis dan prinsip undang-undang latin dan Inggris”.

Kemudian di akhir usulannya beliau menegaskan, bahwa walaupun terdapat institusi-institusi baru dengan bermacam bagian pendidikan, ia tetap mengusulkan untuk tetap memakai nama al- Azhar sebagai payung pendidikan Mesir, yang menjadi universitas terbesar di dunia ketimuran. Ia juga menambahkan tentang ketertarikannya membuka Azhar sebagai kiblat pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia, dengan menerima pelajar- pelajar non-Mesir dan memberikan gelar di setiap tingakatan belajarnya, baik itu license, master dan doktor.

Dari usulan Ahmad Sanhuri Basya paling tidak kita dapat belajar tentang sistem pendidikan dengan formulasi baru, yaitu membangun lembaga pendidikan besar dengan mengesampingkan persaingan. Pendidikan sebuah negara dalam pandangannya lembaganya harus dapat saling topang menopang satu sama lain. Tidak ada lagi sebutan alumni Azhar (Azhari), Darul Ulum (Dar Ami) dan alumni Darul Qadha’, semuanya mengesampingkan gelar- gelar, bersatu membangun pendidikan negaranya.

Allahu a’lam bis showab..

Referensi: Masyru Khadhori al Islami karya Dr. Muhammad Imaroh hal 110- 111.

   

27

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *