Home Dunia Kampus Diary Azhari; Kenapa Jurusan Akidah- Filsafat?
Diary Azhari; Kenapa Jurusan Akidah- Filsafat?

Diary Azhari; Kenapa Jurusan Akidah- Filsafat?

24
0

Akidah- filsafat, terlalu gamang untuk dihukumi jurusan yang satu ini tanpa dipahami substansinya. Akidah adalah keyakinan, filsafat maknanya lebih luas, salah satunya adalah hikmah. Islam punya tempat kok untuk keduanya, sebagaimana yang dikatakan Hassan al- Banna bahwa Islam itu, “akidatun wa wathonun”(1). Dan tentang hikmah, jauh-jauh hari Rosulullah menyeru kita untuk mencarinya, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.”(2).   Maka salah besar yang berpikiran bahwa Islam hanyalah keyakinan (aqidah), karena Islam juga memiliki kebijakan (falsafah).

Masalahnya adalah ketika disebutkan kata filsafat, yang tergambar oleh kita adalah kumpulan orang- orang dengan pikiran nyeleneh. Itu sama persis dengan orang- orang Barat yang ketika mendengar Islam maka bayangannya adalah ISIS, atau orang- orang kita di Indonesia yang melihat khilafah sebagai HTI. Padahal filsafat, Khilafah dan Islam semua maknanya bersih positif.

Itulah ciri khas orang Indonesia, malas baca. Lihat satu sampel orang filsafat nyeleneh, langsung hukumi filsafat itu sesat menyesatkan. Padahal kita tahu, bahwa Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, ar- Razi dan ribuan ilmuwan muslim kita adalah orang- orang yang berfilsafat. Selain mereka adalah adalah ahli fiqih, hakim, dokter, mereka juga adalah filosof. Bahkan jauh- jauh hari Hujjatul Islam Imam al- Ghazhaly telah mewanti, “siapa yang tidak mengetahui mantiq (salah satu cabang ilmu filsafat), ilmunya tidak dapat dipercaya”(3)

Selain itu orang- orang kita banyak yang alergi dengan kata filsafat, padahal ada kata yang lebih ramah yaitu (fikroh) pemikiran, yang menjadi asas berfilasafat. Al- Qur’an yang kita baca, hampir 300 ayatnya menyeru kita pada aktifitas berpikir, bertadabbur, bertafakkaur, bertafaqquh, itu semua adalah aktifitas pemikiran yang banyak dari kita tidak mengetahuinya, “perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi. Tidaklah bermanfaat tanda- tanda kekuasaan Allah dan Rosul- rosulnya yang memberi peringatan bagi orang- orang yang tidak beriman”(4), begitu kata Allah ta’ala.

Itulah yang membuat saya pribadi yakin mengambil jurusan yang satu ini. Bukan karena ikut- ikutan, apalagi ingin berbangga di hadapan teman- teman karena mengambil jurusan dengan mata kuliah terbanyak di ushuluddin. Saya punya tujuan dan saya punya cara, membentengi akidah umat adalah tujuan saya, dengan belajar filsafat adalah salah satu caranya mencapai tujuan itu. Lebih detailnya saya rincikan alasannya saya sebagai berikut:

  1. Aqidah- Filsafat, di al- Azhar dari nama jurusannya saja kita telah mengetahui, bahwa jurusan ini lebih menjadikan akidah sebagai dasar untuk memahami filsafat, akidah dulu baru filsafat, bukan sebaliknya. Dan hal terebut betul adanya, di tahun pertama yang kita pelajari adalah mata kuliah Tauhid terlebih dahulu belum ada filsafat.
  1. Al- Azhar selain menjadi kiblat bagi mazhab aqidah Asy’ariyyah (aqidah mayoritas umat Islam), sistem penddikannya terbilang komprehensif. Semua jurusan pasti terhubung dengan jurusan lain, utamanya adalah aqidah- filsafat yang mempunyai mata kuliah paling banyak di fakultas ushuluddin. Jadi jangan khawatir di jurusan ini kita hanya akan belajar akidah dan filsafat dari awal sampai akhir, tidak demikian. Kita juga akan belajar hadits, tafsir, bahasa dan lain- lain yang dapat memperkaya khazanah keilmuan kita.
  1. Jamaluddin al- Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho’, Hassan al- Banna, Sayyid Qutb, dan semua tokoh- tokoh pergerakan yang kita kenal bukan hanyalah seorang ulama’, apabila kita telisik dalam seluruh proyek kebangkitannya maka akan kita temukan bahwa pemikiran mereka tersusun layaknya filosof. Coba lihat ushulul isyrin Hassan al- Banna yang tertata konsepnya dari mulai masalah akidah, fiqih, ushulul fiqh, akhlaq dan konsep Islam lainnya.
  1. Banyak orang- orang pemikiran yang justru membentengi akidah dan pemikiran umat, bukan malah menggembosinya, kita saja yang tidak tahu. bahkan di al- Azhar sendiri yang menjadi Grand Syaikh sekarang adalah lulusan akidah filsafat, yang melanjutkan kuliah di Perancis, Syaikh Ahmad Thayyib. Di Indonesia kita mengenal sosok seperti Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Syamsuddin Arif, Adian Husaini, dan Akmal Sjafril. Malaysia malah lebih geliat lagi karena diisi oleh filosof terkenal sekelas Naquib al- Attas.
  1. Allah selalu menakdirkan saya untuk terjun di dunia pemikiran. Nama belakang saya adalah Ibrahim. Nabi Ibrahim kita kenal dengan ceritanya berpetualang berpikir mencari kebenaran. Selain itu, salah satu alasan pribadi yang saya rasa adalah kebenaran bahwa saya selalu dikumpulkan bersama orang- orang pemikiran, dari mulai Kyai saya yang merupakan akademisi perbandingan agama (comparative religion), kemudian Pembina (murobbi) saya di Mesir yang merupakan sarjana akidah filsafat (bisa tabayyun jadinya). Selain itu, membaca buku pemikiran yang sejak dulu memang merupakan hobi saya. Saat SMP dulu, buku Anis Matta yang berjudul gelombang ketiga Indonesia bulak balik saya baca saking senangnya.
  1. Ghozwul fikri bukan lagi masalah kesekian dari masalah umat, utamanya di negeri kita sekarang, ia adalah yang utama setelah masalah Palestina. Maka bagi saya menjadi seorang pemikir yang membentengi akidah umat adalah tuntutan zaman (wajibul waqt). Bayangkan di Indonesia saja telah menjamur tokoh tokoh kiri dengan afiliasinya seperti Jaringan Islam Liberal, apabila kita tidak mengimbanginya dengan memunculkan afiliasi tandingan dan mencetak sarjana-sarjana kompeten yang melawannya, lama kelamaan benteng akidah kita akan jebol terbaratkan.
  1. Yang juga menjadi alasan pribadi adalah kesadaran tentang kekurangan saya. Saya tidak terlalu bisa dinamis dengan masyarakat awam, utamanya di daerah saya, mungkin karena memang dulu kami datang sebagai pelancong, maka dari itu, bahasa daerah tidak terlalu saya kuasai, dan itu saya sadari akan menajdi kendala bagi dakwah. Oleh sebab itu, kaum terpelajar dan elit itulah mungkin medan dakwah saya, dan sarana untuk masuk ke medan itu tidak lain adalah dunia pemikiran.
  1. Saya katakan pada orang- orang yang meragukan saya dan kahwatiran mengambil jalan ini. Sebagimana anda khawatir pada saya karena cinta, begitu pula dengan saya, kenapa saya mengambil akidah- filsafat? karena saya khawatir dan cinta pada umat yang sekarang sedang terpuruk dalam kubang masalahnya.
  1. Dengan masuk akidah – filsafat maka saya akan banyak bergelut dengan mata kuliah mantiq (logika), dan itu adalah yang saya butuhkan. Sebagaimana kata Rocky Gerung bahwa orang- orang yang berbicara dengan metafora itu sudah jarang di negeri kita. Orang- orang seperti Anis Matta yang banyak berbicara dengan pengandai- andaian sudah jarang, maka masuk ke jurusan itu paling tidak menutup anggapan itu. Selain itu, hal tersebut juga saya sadari sebagai solusi masalah saya, bahwa dulu saya tidak terlalu bisa memeta cara berpikir dan bicara, namun setelah belajar mata kuliah ini (mantiq), kendala tersebut lambat laun mulai hilang. Bahkan hal tersebut mempertemukan saya dengan kebiasaan bagus, mengilmiahkan segala sesuatu.
  1. Di al- Azhar sendiri yang masuk jurusan ini terbilang jarang. Maka masuk ke jurusan ini bagi saya adalah fardhu kifayah. “Di sini saja sudah jarang, apalagi di Indonesia”, begitu pikir saya. Selain itu, di kampus- kampus di negeri kita masih terbilang jarang orang- orang yang kompeten mengajar di bidang ini, kalupun ada, kebanyakan adalah orang- orang dengan pikiran nyeleneh. Maka menjadi akademisi di bidang ini, sekali lagi bagi saya adalah tuntutan zaman (wajibul waqt).

 Itulah paling tidak dalil kenapa saya masuk ke jurusan akidah- filsafat, semuanya ada timbangannya, tidak begitu saja saya ambil. Bagi orang- orang tersayang yang masih khwatir dengan jalan yang saya pilih ini, kembali saya katakan, “anda menghawatirkan saya karena cinta, begitu pula dengan saya, saya pilih jalan ini murni karena kekhawatiran saya terhadap umat dan kasih sayang yang tulus terhadapnya, saya tidak rela melihat sebaik- baik umat yang malah sekarang terpuruk dalam masalah akut ”.

Allahu a’lam bis showab..

Referensi:

  1. Majmuaturrasail, bab rukun fahmu, ushul yang pertama.
  2. hadits riwayat Tirmidzi.
  3. Dhowabitul Fikri bab hukum mempelajari mantiq.

 

24

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *