Home Dunia Pemikiran Diary Azhari: Makna Kemenangan Perancis di Piala Dunia
Diary Azhari: Makna Kemenangan Perancis di Piala Dunia

Diary Azhari: Makna Kemenangan Perancis di Piala Dunia

113
0

Tepat 20 tahun yang lalu di tahun 1998, terdapat 2 kelahiran penting: saya yang lahir ke dunia, dan Perancis yang lahir sebagai juara dunia. kini sejarah terulang, dua dekade bukan waktu yang lama untuk saya dan si dia (Perancis) belajar. Hari ini ia menikmati hasil belajarnya, menggondol piala di Russia. Begitupun saya, di dua dekade ini saya mulai belajar tentang satu hal penting yang mesti dilakukan seorang manusia, menggunakan akalnya untuk men-tadabburi setiap peristiwa, salah satunya adalah momen 4 tahun sekali ini, sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa dimaknai, kemenangan Perancis sangatlah berarti, mari kita tadabburi..

Di depan Eiffel, rakyat menyambut tim nasionalnya bak pahlawan, padahal kita tidak tahu apakah momen itu akan terulang kembali 4 tahun mendatang. Teringat senandung Viva la vida tentang revolusi Perancis di awal abad 18 M, tentang tukang sapu istana yang untuk sesaat memangku mahkota di kepalanya:

“kudengar bel Yerussalem berdentang

Koor kaveleri Romawi bernyanyi

Jadilah cerminku, pedangku dan tamengku

Misionaris di medan tak dikenal

Karena beberapa alasan tak bisa kujelaskan

Aku tahu Saint Peter takkan memanggil namaku

Tak pernah ada kata jujur

Tapi saat itulah kukuasai dunia”

Apakah mahkota Perancis dapat kembali diganyang 4 tahun mendatang? atau nasib Perancis akan sama dengan si tukang sapu kerajaan, yang menjadi raja untuk sesaat, kemudian mengatakan “but that was when I ruled the world”. Hanya pernah saja menguasai dunia, tidak tahu apakah di masa depan, masa lalu akan terulang.

“Gol pertama adalah kebahagiaan untuk Bosnia, gol kedua adalah tentang nasionalisme, gol ketiga adalah gol yang membungkam Islamphobia, gol keempat membuat gerah xenophobia”. Begitulah kiranya saya menangkap makna di balik gol- gol Perancis, berusaha untuk membaca pikiran di balik pikiran, meminjam istilah Anis Matta.

Gol pertama adalah gol bunuh diri Mandzukic, Bosnia berbahagia karena di peringatan tragedi kemanusiaan di sana, Kroasia sang pembantai harus memulai pertandingan dengan gol bunuh diri. Gol kedua adalah gol nasionalis Griezmann, bukti bahwa Perancis sebagai ideolog negara bangsa (national state) berhasil membuktikan bahwa nasionalisme berguna, terutama dalam hiburan seperti sepak bola. Gol ketiga adalah gol Pogba, seorang muslim yang membungkam Islamphobia di negeri tempat majalah Charlie Hebdo menghina Nabi, ia membuktikan bahwa mereka yang tidak menginginkan muslim di Perancis harus banyak berpikir ulang. Gol ketiga adalah gol Mbappe, gol yang mengungkap bahwa xenophobia seharusnya tidak punya tempat di Perancis, yang belakangan ini sentimental dengan isu- isu imigran.

Dari sepak bola kita bisa melihat hiburan sekaligus kondisi sosial. “70% skuad Perancis adalah imigran, 50% adalah muslim. Mereka telah memberi Perancis gelar juara untuk kali kedua, sekarang berilah mereka keadilan”, kata Khaled Beydoun di akun media sosialnya. Kesenjangan sosial itu benar- benar terjadi di Perancis, namun karena sepak bola adalah hiburan, mudah saja yang demikian tertutupi, bayangkan apabila FIFA tidak mempunyai rumusan tentang isu rasial, mungkin Macron, Putin, dan Kolinda tidak akan kita temukan di lapangan, mereka tak akan kuat melihat ungkapan- ungkapan kesenjangan.

Dari sepak bola kita bisa melihat watak Perancis dan kebanyakan negara Eropa, pragmatis. “anda boleh menjadi seorang muslim atau imigran di Perancis, asalkan dapat bermanfaat bagi Perancis”, kira- kira begitulah kita membahasakannya. Membaca yang demikian saya jadi teringat kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi di Misykat-nya, bahwa ciri- ciri mencolok dari seorang sekuleris adalah dualis, selalu memasang standar ganda, boleh jadi ciri itu memang benar- benar terbuktikan, karena Perancis adalah negara sekuler. Wajar saja Benzema mengatakan tentang hal ini dengan ungkapannya yang menyayat, “saya (dianggap) orang Perancis jika mencetak gol, jika tidak, saya oleh mereka (dianggap) orang Arab”. Pantas saja seremonialnya diguyur hujan, mungkin banyak orang- orang seperti Benzema yang masih memendam sedih.

Kemenangan Perancis apabila kita resapi dengan tenang, sebenarnya di dalamnya akan kita temukan makna positif dan negatif. Makna postifnya sebagaimana yang disampaikan Dr. Muhammad Imaroh di salah satu ceramahnya di Turki, bahwa dulu ketika Aljazair, Tunisia dan Maroko jatuh di tangan Perancis, orang- orang Kristen berbahagia dan bersorak sorai, “ini adalah kemenangan Kristen atas peradaban Islam”, kata mereka antusias.

Namun, setelah api perjuangan Islam dikobarkan oleh Syaikh Basyir al- Ibrahimi dan Ahmad Badis jadilah sekarang kebalikannya, “bahkan yang pergi ke masjid di Perancis sekarang jauh lebih banyak dari pada yang pergi ke gereja”, kata Dr. Imaroh. Kemenangan tim nasional Perancis adalah kemenangan dakwah  pemain- pemain muslim. Yang mereka sedang lakukan adalah revolusi senyap dan damai di jantung Eropa. Nilai positif yang sama, persis seperti yang dilakukan Emir Qatar, yang memberikan tempat duduknya kepada Brigitte Macron, istri presiden Perancis. Kemenangan Perancis adalah momentum dakwah.

Adapun makna negatif dari kemenangan Perancis dapat kita lacak dari buku Limadza Taakhorol Muslimuna wa Tawaddama Ghoiruhum karya Amir Syakib Arselan. Dalam bukunya tersebut, Amir Syakib menyinggung kondisi Tunisia, Aljazair dan Maroko pasca penjajahan Perancis yang menjadi negara boneka. Amir mengistilahkan kondisi tersebut dengan istilah ‘mati dua kali’. Mati pertama adalah keadaan di mana negara- negara tersebut walaupun telah bebas namun tetap dalam kendali Perancis karena telah terikat dengan budaya Barat. Mati kedua adalah saat negara- negara tersebut maju, otomatis kemajuannya menjadi sangat kooperatif dengan Perancis. Begitulah dilema pemain- pemain muslim dan imigran di tim nasional Perancis, alih- alih mereka memajukan dan membela tanah air mereka, mereka malah memajukan negara orang.

Itulah makna kemenangan Perancis di Piala dunia 2018 di Russia bagi saya. Mudah- mudahan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa hambanya ini telah menggunakan akalnya dengan adil, men-tadabburi setiap peristiwa agar bernilai pahala, Maha Benar Allah atas segala firman-Nya, “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan” ( Al-Hasyr : 2)

Allahu a’lam bis showab

*Kairo, Distric 8, 16 Juli 2018, Akhukum Fillah Faris Ibrahim

     

 

113

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *