Home Dunia Ide Mentalitas dan Konsekuensi Perjuangan
Mentalitas dan Konsekuensi Perjuangan

Mentalitas dan Konsekuensi Perjuangan

38
0

Hidup ini memang perjuangan, sepenuhnya perjalanan panjang. Bagi seorang muslim hidup di dunia adalah perjuangan sesungguhnya untuk menempuh kehidupan yang kekal di akhirat kelak. setiap orang akan memahami perjalanan hidupnya sebagai perjuangan ketika memiliki tujuan. Semakin besar tujuannya semakin besar daya perjuangan yang dibutuhkan, begitulah seterusnya. Artinya perjuangan adalah keniscayaan bagi orang-orang yang memiliki harapan di masa datang. Untuk melangkah saja kita perlu energi yang digerakan oleh keinginan melakukannya.

Jika analogi perjuangan bagi kita adalah dakwah, maka urutan daya perjuangan itu ibarat dalam hadits selemah-lemahnya iman. “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya. Sesungguhnya itulah selemah-lemah iman”.

Hadits ini memberikan makna yang luas bagi dakwah, dan kesempatan tak terbatas dalam konsekuensi perjuangan. Ketika berjuang adalah keharusan, maka hadits ini memberikan peluang bagi siapa saja yang terkurung oleh konsekuensi keharusan itu. Klasifikasi yang dipaparkan hadits ini menunjukan bahwa jalan perjuangan ialah milik semua orang tanpa batasan apapun. Setiap orang berhak berjuang dalam ruang dan waktu yang ia kuasai dan mampu. Setiap kita adalah perjuang, adapun pahlawan perlu naluri kepahlawanan yang menjadi khas sebab seseorang dilabeli pahlawan.

Jalan juang tak semanis yang diharapkan, juga tak sehoror yang dibayangkan. Dinamikanya terhampar sebagai hikmah dan pelajaran bagi mereka yang ingin belajar. Namun banyak orang tidak paham retorika perjuangannya, bahkan ia tidak paham apa yang diperjuangkannya. Sedangkan beberapa kondisi masih saja ada orang yang menyalahkan kegagalan. Padahal kegagalan dalam berjuang ialah dinamika, selain dari pada sukses. Nilai inilah yang harus dipahami siapapun kita, sebagai penonton maupun sebagai pejuang itu sendiri.

Realitas sebuah perjuangan seharusnya bukan lagi gejala optis untuk mental kita. Sebab obrolan perjuangan tidak stagnan dalam ruang nilai akhir sebagai capaian seseorang. Justru lebih kepada mentalitas manusia dalam berkomunikasi dengan rintangan dan halangan. Jika itu bentuk ujian, maka sejauh mana kekuatan mental kita berkomunikasi dengan Maha Pemberi Ujian. Mentalitas mengajarkan kepada kita bahwa hasil dalam perjuangan adalah konsekuensi, sedangkan proses yang dilalui seorang perjuang adalah segala-galanya.

Bisa saja mentalitas ini yang menentukan kemenangan seorang pejuang. Terkadang bahagia tidak identik dengan kemenangan. Mungkin saja terjadi karena kemenangan diraih dengan cara kotor atau lompatan yang sampai pada tujuan yang lain. Hal ini mungkin berlaku bagi kita yang lemah mental. Sampai akhirnya acapkali kita saksikan fenomena kegagalan yang berujung pada kebahagiaan, keceriaan dan rasa syukur.

Mengenai perjuangan, mentalitas dan konsekuensi erat kaitannya dengan daya perjuangan. Kenapa? Karena perjuangan bukan konsekuensi akhir dari sebuah perjuangan, sehingga setiap kegagalan tidak bisa disalahkan. Seperti gagalnya timnas U-19 melaju ke final AFF 2018 setelah kandas oleh Malaysia di semi-final. Mereka (timnas) atau Indra Sjafri tidak bisa dipojokan oleh sebuah kekalahan (konsekuensi akhir), sebab disana ada mentalitas dan daya perjuangan yang ditunjukan dan dilakukan oleh Garuda Muda Indonesia. Mereka melakukannya setelah meletakan harapan untuk menjadi juara.

Fenomena ini akan banyak kita temukan karena rendahnya mentalitas dan daya juang kita. Keduanya adalah virus. Hal ini berakibat pada respon negatif para penonton terhadap para pejuang. Dan yang  keluar dari mulutnya adalah kata-kata kotor, hatinya dipenuhi rasa kesal. Kita yang masih diliputi oleh virus tersebut akan sulit berada dalam dinamika perjuangan yang sulit. Kondisi ini menyulitkan kita beretorika mencari celah kemenangan yang sesungguhnya. Sedangkan pola terpenting dalam perjuangan adalah sejauh mana kita survive di dalamnya. Pelajaran yang dapat kita tangkap setelah memahami bahwa kalah dan menang, gagal dan sukses adalah konsekuensi perjuangan, sedangkan penilaian sesungguhnya berada dalam proses.

Ketika kita sulit menerima konsekuensi akhir dari perjuangan yang kita lihat, maka selamanya akan sulit berada dalam dinamika perjuangan yang kita hadapi.

Wallahua’lam bisshowab.

38

Azharrijal TTL : Tasikmalaya, 05 Agustus 1995 Riwayat Pendidikan : SMA/MA Al Furqan 2013. Kuliah Annuaimy-Jakarta 2016. Tahfidz Al-jandal 2016. AKtivitas Keilmuan : Ketua FLP Kuningan (2018/20), FLP Jakarta, Garuda Keadilan Tasikmalaya/Kuningan, PKSMuda Kuningan

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *