Home Dunia Kajian Palestina; dari Runtuhnya Turki Utsmani hingga Pertengahan Abad ke-20
Palestina; dari Runtuhnya Turki Utsmani hingga Pertengahan Abad ke-20

Palestina; dari Runtuhnya Turki Utsmani hingga Pertengahan Abad ke-20

36
0

Kajian Mingguan  PENAPEMBAHARU

Sabtu, 8 Dzul-Qa’dah 1439 H/21 Juli 2018 M

Oleh : Rizky Maulana

Pendahuluan

          Palestina adalah sebuah nama daerah yang berada di barat daya wilayah syam, negri yang terletak di benua Asia, tepatnya berada di kawasan timur tengah. Ia menjadi peran penting bagi peradaban karena memiliki nilai geografis yang berada di tengah-tengah peta dunia dan historis yang begitu banyak peradaban sejarah disini. Begitu pula dari segi politis, ia sangat mempengaruhi kondisi geo-politik yang terjadi di dunia selama sejak masa prasejarah hingga saat ini. Syaikh Ali Ahmad Muqbil berkata, “Barangsiapa yang menguasai Palestina, maka ia menguasai dunia”.  Terbukti dengan sejarah pada zaman nabi sulaiman, kala itu Bani Israel menguasia bumi ini, imperium Romawi dengan gagahnya berdiri di atas tanah suci ini mengalahkan kekuatan digdaya Persia, tak lupa masa kejayan islam saat Umar bin Khatthab mengambil kunci Al Aqsa, serta Sholahuddin Al Ayyubi membaskan palestina dan wilayah regional lainnya.

          Terdapat beberapa poin penting yang menjadikan permasalahan Palestina dari dahulu hingga kini menjadi perhatian ummat manusia, terkhususnya umat islam diseluruh dunia dan bangsa Arab. Pertama, kesucian dan keberkahan tanah Palestina yang termaktub dalam kitab suci umat islam dan nash-nash hukum kaum muslimin. kedua, perselisihan antar agama dalam merebutkan wilayah ini lewat klaim sejarah masing-masing. Ketiga, Bersatunya musuh-musuh islam membentuk gerakan Zionis untuk menghancurkan umat islam memcah belah antar sesame dan melemahkan dengan energy super besar.

          Dari poin-poin diatas yang menjadi titik pembahasan dalam tulisan yang akan saya bahas adalah poin nomor tiga, pergerakan untuk memecah belah islam dimulai sejak kurun waktu yang lama, dimulai dari abad 15  terjadi eksodus besar-besaran bangsa yahudi dari Andalusia ke wilayah kekhalifahan Ustmani untuk mendapatkan suaka politik atas pengusiran Ratu Issabella. Oleh karena itu, pembahasan tentang Palestina tidak akan ada habisnya selalu ada hal-hal besar menarik pandangan mata manusia ingin menengoknya dan mencari tau tentangnya.

SEJARAH TURKI USTMANI BERSAMA PALESTINA SEBELUM ABAD-20

          Masa Daulah Ustmaniyah [1299-1924]. Pendiri Daulah Ustmaniyah adalah ustman bin Ertughrul lahir pada tahun 1267 M, di tahun yang sama ibukota Daulah Abbasiyah Baghdad  saat itu luluh lantak akibat serangan hulaghu khan. Ayahnya, Ertughrul bin Sulaiman wafat pada tahun 1299, diapun menggantikan ayahnya sebagai pemimpin kabilah. Di tahun 1301 Ustman bin Ertughrul berhasil mengalahkan aliansi Kristen Byzantium dalam perang Bapheus di Bithya [Turki], berlanjut ke tahun 1306, Raja Philip IV menindas dan mengusir umat Yahudi dari Prancis dan menghabisi orde Knights Templar.

          Tahun 1453, Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh sultan Muhammad Al-fatih cucu dari pendiri Turki Ustmani. pada masa awal-awal pendirian Daulah Ustmaniyah gencar melakukan serangan ke arah barat, dari mulai konstantinopel sampai daerah pinggiran veinna [wein], Daulah ustmaniyah pula  mampu mengubah posisi yang awalnya islam bertahan di timur Turki menjadi gencar menyerang pada waktu itu, akan tetapi adanya kekhilafahan ustamni tujuannya untuk menjaga dan melindungi Dinding umat islam ; Syam [Palestina], Hijaz dan Mesir, dinding inilah yang berusaha ditaklukkan oleh musuh Ustmani akan tetapi mereka belum mampu sampai abad 19.

          Sementara itu kekuasan Islam berakhir di Andalusia pada tahun 1492, umat muslim dan yahudi dipaksa untuk masuk Kristen, hingga pada akhirnya mereka diusir dan pergi meninggalkan negeri Andalusia, Migrasi besar-besaran pun terjadi, Yahudi dari Andalusia diizinkan oleh Sultan Salim I untuk tinggal di manapun wilayah kekuasaannya, kecuali Palestina karena begitu sakralnya tempat ini dan  Sultan mengetahui sejarah jika Yahudi menetap disini.

Di tahun 1665 di masa pemerintahan Sulthan Muhammad IV muncul gerakan yang dilakukan oleh umat yahudi, mereka menuntut agar mereka dikembalikan ke tanah palestina, gerakan ini berhasil ditumpas. Mereka kemudian membentuk organisasi baru bernama  Donmeh pemimpinnya bernama Sabbatai Zevi, mereka adalah yahudi yang secara terang-terangan mengaku masuk islam, namun diam-diam masih menjalankan praktek ibadah yahudi. Yahudi Donmeh ini berhasil menduduki banyak posisi strategis di pemerintahan, dan kelak berperan besar dalam menghancurkan Daulah Ustmaniyah.

Revolusi prancis terjadi tahun 1789-1799, mengganti sistem kerajaan menjadi republik, diberlakukan undang-undang baru hal ini memberikan angin segar bagi yahudi, mereka mulai masuk di berbagai bagian penting di pemerintahan, politikus, ekonom, dan menguasai media masa. Pada tahun 1834, Inggris yang merupakan sekutu prancis menekan Daulah Ustmaniyyah agar bisa mendirikan konsulat mereka di Al-quds, Inggris juga menuntut Daulah Ustmaniyah untuk imigrasi yahudi ke tanah palestina, rencana busuk Yahudi makin mulus karena mereka sudah menguasai posisi-posisi strategis di eropa.

Di tahun 1881, Rusia saat itu terjadi gerakan anti-Yahudi yang begitu masif mereka dituduh sebagai otak dibalik pembunuhan Kaisar Alexander II, Yahudi dipersekusi, disiksa, bahkan diusir melalui paksaan untuk meninggalkan Rusia, di antara mereka mengungsi ke wilayah daulah ustmaniyah, Sulthan Abdul Hamid II kala itu memberi suaka untuk tinggal di wilayahnya kecuali saru tempat yaitu: Palestina. Namun daim-diam 55.000 di antara mereka berhasil menyusup ke Palestina, dibantu Inggris dan Prancis mereka mulai membuat strategi licik untuk menguasai palestina. Salah satu sponsor utama imigrasi masif ke Palestina adalah seorang milyuner dan bankir Yahudi asal Prancis, Edmond James de Rothschild, di Palestina dia mengglontorkan dana sebesar 14 juta Francs Prancis untuk membangun pemukiman Yahudi disana. Menurut pandangan Thoriq Bisyri ; Daulah Ustmaniyah patut diapresiasikan karena bisa menahan serangan politik yahudisasi tanah Palestina dari abad 14-19.

BERDIRINYA ZIONISME

          Kata “Zionisme” muncul pertama kali pada tahun 1885 di dalam buku yang ditulis oleh Nathan Birnbaum, pemikir Yahudi asal Austria, kata tersebut diambil dari “Zion”, nama lain kota Yerusalem yang tertulis didalam kitab Perjanjian Lama [Yesaya] 1:26]. Zionisme adalah gerakan yang bertujuan mendirikan tanah air Yahudi di atas tanah Palestina, tidak semua Yahudi menyutujui pemikiran zionisme ini, terutama Yahudi yang sudah sejak lama turun temurun tinggal di wilayah  ustmaniyah, hanya yahudi asal Eropa yang banyak menyetujui gagasan tersebut.

Kenapa Zionisme Ingin sekali membuat Negara di Palestina? Alasan mereka adalah Pertama, menurut klaim bangsa yahudi Al Quds adalah ibukota mereka, kata Rabi yang dikirim ke Palestina untuk memata-matai sebelum dijajah ; “Palestina adalah gadis paling cantik, tapi sayang ia salah mendapatkan jodoh [bangsa Palestina]. Kedua, kaum Yahudi mengklaim bahwa Musa menyuruh mereka untuk memasuki Palestina, bermakna palestina adalah hak sejarah dan agama bagi yahudi. Ketiga, Mereka bangsa Yahudi mencapai kejayaan di masa Nabi Sulaiman , di zamannya dibangun Haikal Sulaiman, yang kini diyakini berada di Masjid Al Aqso, oleh karena itu mereka sangat ambisius untuk merebut Palestina salah satunya membangun kembali Haikal Sulaiman.

Di tahun 1896, buku Der judenstat [Negara Yahudi] diterbitkan oleh Theodor Herzl, jurnalis Yahudi kelahiran Austro-Hungaria, di buku tersebut Herzl mencita-citakan sebuah Negara masa depan yang independen untuk bangsa Yahudi di abad ke 20. Di tahun 1897, Herzl melaksanakan kongres Zionis pertama di Basel, Swiss. Kongres tersebut mengadopsi rencana pendirian Negara Yahudi di atas tanah Palestina, mereka juga mempertimbangkan banyak opsi seperti Argentina, Uganda, Sinai, dan Qobros jika misalnya palestina tidak berhasil dikuasai, mereka sampai membuat banyak opsi karena melihat keteguhan dan ketulusan sang Sultan untuk menjaga dan mempertahankan Palestina.

Di tahun 1897 juga pecah perang antara Daulah Ustmaniyah dengan Kerajaan Yunani, akibat perang ini  Daulah Ustmaniyah mengalami krisis Ekonomi. Herzl tak tinggal diam, dikumpulkannya uang dari donatur Yahudi, lewat duta besar ustmaniyah di Wina ditawarkanlah bantuan besar-besaran oleh Yahudi, Namun dengan satu syarat: mengizinkan Yahudi bermigrasi ke Pelstina, Sultan Abdul Hamid dengan tegas menolak tawaran tersebut. Lewat diplomasi yang kuat dari Inggris Herzl bisa bertemu langsung dengan Khalifah untuk mengutarakan keinginan bangsanya, tentunya Sultan menolak mentah-mentah, Herzl pulang dengan tangan hampa, Herzl pun meninggal pada tahun 1904, tapi keinginannya untuk mendirikan Negara Yahudi di atas tanah palestina tak ikut mati terkubur bersama jasadnya.

LANGKAH-LANGKAH ZIONIS UNTUK MENDIRIKAN NEGARA ISRAEL

  1. RUNTUHNYA DAULAH USTMANIYAH

Di tahun 1901 Herzl bertemu Sultan Abdul Hamid II berdiplomasi mengutarakan keinginannya untuk mendirikan Negara Israel, tapi ditolak oleh Sultan. Setelah kejadian ini Sultan Abdul Hamid terus memodrenisasi Daulah, Sultan juga menjelaskan pentingnya Ukhuwah Islamiyah, Yahudi Zionis dan Donmeh geram atas capaian dan pendirian Sultan, mereka pun merancang konspirasi untuk melengserkannya, Zionis bekerjasama dengan turki muda diplopori oleh kaum Yahudi Donmeh yang berpikiran sekuler untuk memfitnah Sultan dengan cara menuduhnya membakar mushaf, serta memprovokasi rakyat untuk menjelek-jelekkan Sultan. Hingga pada akhirnya tepat tanggal 29 April 1909 sang Sultan dicopot dari pimpinan Daulah. Dalam memoarnya berkata, “pencopotanku disebabkan karena aku bersikeras melarang Yahudi, sementara Yahudi bersikeras mendirikan tanah air mereka di atas tanah suci [Palestina]

Setelah dicopot Sultan Abdul Hamid II, pemimpin setelahnya hanya boneka saja oleh Turki muda, semua tatanan Negara diurus oleh mereka, sementara itu berlangsung pula imgrasi Yahudi besar-besaran dari Eropa, mereka banyak yang membeli tanah di Palestina secara paksa. Hingga muncullah seorang tokoh sekuler Mustafa Kamal dia dibanggakan bak pahlawan, membatasi gerak Sultan Abdul Majid yang menjadi khalifah terakhir. Akhirnya dengan konspirasi Yahudi, Turki muda, dan Mustafa Kamal Daulah Ustmaniyah dihapus pada 3 Maret 1924.

  1. PERJANJIAN SYKES-PICOT

Di akhir abad ke-19 mulai muncul gerakan politik internasional yang dinamakan dengan “politik orang sakit”, kala itu Daulah Ustmaniyah melemah akibat beberapa faktor, sementara Negara-negara superior eropa mulai unjuk gigi seperti ; Prancis, Rusia, dan Inggris. Negara-negara ini bersikeras untuk mencari mangsa.

Usaha Rusia dimulai lewat wasiat betrus  tahun 1725 kepada prajurit dan rakyatnya “Turunlah kalian di air-air tenang” yang dimaksud air-air tenang adalah ; Iran, Wilayah Persia, dan Daulah Ustmaniyah. Di wilayah lain ada inggris yang sedang menjajah India, Inggris berambisius untuk menguasai Daulah Ustmaniyah agar melindungi mereka dan bisa mendaptkan jalur cepat lewat darat dan laut. Sementara itu beberapa wilayah Utara Afrika berhasil diawasi dibawah kekuasaan prancis. Oleh karena itu yang dimaksud politik orang sakit adalah ; membiarkan ia tetap hidup agar wafatnya tidak menjadi sebab perselisihan antara 3 negara digdaya ketika itu, maka cara yang paling tepat kala itu adalah mengamputasi dan membagi-bagi Daulah Ustmaniyah seperti mengamputasi orang sakit agar tetap hidup. Hingga rencana inipun berhasil, Prancis mengambil Al Jazair tahun 1830, Tunisa tahun 1881, Maroko tahun 1912. Inggris mengambil Mesir tahun 1882, Sudan tahun 1899, sementara Rusia mengambil bagian selatan Daulah Ustmaniyah.

Setelah Perang dunia selesai dengan kemenangan 3 negara digdaya [Inggris, Rusia, Prancis], dengan kemenangan ini mereka sepakat untuk membagi sisa orang tubuh orang yang sakit sebelumnya, maka diresmikanlah perjanjian sykes-picot pada tahun 1916, Prancis mendapat bagian sebagian wilayah Syam kemudian dibaginya menjadi 2 negara [Suriah, dan Lebanon]. Inggris mendapat bagian Palestina, Jordania dan Irak untuk memudahkan meraka untuk menyatukan antara India.

Tujuan dari pembagian Daulah Ustamniyah berbentuk Negara-negara independen adalah untuk melemahkan umat muslim supaya tidak bersatu membangun kekhilafan kembali, menjadikan musuh kuat dari segi politik, persenjatan, dan mudah menang dalam peperangan, juga setiap Negara mempunyai hukum tersendiri yang diinisiasi oleh barat supaya tidak mengangkat senjata dalam masalah Palestina, dan juga bangsa arab yang terpecah belah di sibukkan dengan mengamankan Negara masing-masing sehingga kesadaran akan Palestina kurang.

  1. PERJANJIAN BALFOUR DAN PERAN INGGRIS

           Di bulan November tahun 1917 Deklarasi Balfour yang ditandatangani oleh sekretaris luar negri Inggris Arthur Balfour dipublikasikan, isinya adalah dukungan pemerintah Inggris kepada komunitas yahudi untuk mendirikan Negara di atas tanah Palestina, awalnya ditawarkan kepada mereka tanah uganda tetapi mereka menolak, juga pegunungan daerah Sinai Mesir samapun mereka menolak karena beberapa alasan, dan juga ada Qobros, dan Argentina, akan tetapi yang dipilih Palestina karena daerah ini punya sejarah bagi mereka.  Pada bulan Desember ditahun yang sama jendral Alfenby komandan militer Inggris menduduki Palestina, diapun memasuki Al Quds, seraya berkata dalam pidatonya “sekarang… perang salib telah usai…”.

                Kesimpulan apa yang dikatakan Toriq Bisyri seorang pemikir islam ada 3 hal dalam masalah perlawanan kita pada Israel dengan bentuk negara-negara bangsa. 3 hal itu adalah ; Pertama, kita tidak bisa menhadapi Israel dengan bentuk negara-negara bangsa. Kedua, kita tidak bisa menyatukan bangsa Arab jikalau bebentuk negara-negara bangsa karena mementingkan ego masing-masing. Ketiga, kita tidak bisa mewujudkan keamanan bangsa karena masing negara mempunyai pemahaman khusus bagi daerahnya.

———————————————————

REFRENSI

  1. Artikel Qodhoya wa Nadzorot edisi ke-9, april 2018.
  2. Cordova media ; sejarah palestina di masa Daulah Ustmaniyah [1299-1924].
  3. Kajian SINAI [studi informasi alam islami] oleh Edgar Hamas 23 februari 2016 ; palestina agama manakah yang paling berhak atas tanah suci.
  4. Wikipedia berbahasa Arab ; wasiat betrus, perjanjian sykes-picot.
  5. Video Khazanah Trans 7 ; Perkembangan yahudi dari masa ke masa
  6. Cordova media ; Adnan Menderes sang syahid dari Turki

36

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *