Home Dunia Kajian Belajar Prinsip Pertama Ekonomi Syariah, Ayo Berkorban !
Belajar Prinsip Pertama Ekonomi Syariah, Ayo Berkorban !

Belajar Prinsip Pertama Ekonomi Syariah, Ayo Berkorban !

12
0

By: Waryadi, (Mahasiswa STEI SEBI)

The first lesson about making decisions is summarized in the adage , “ there is not such thing as a free lunch.” To get one thing that we like, we usually have to give up another thing that we like . making decisions requires trading off one goals against another”.

Prinsip yang pertama ini, menjelaskan bahwa masing-masing kita dihadapkan dengan Trade-Off. Trade Off adalah situasi dimana seseorang harus membuat keputusan terhadap dua hal atau mungkin lebih, mengorbankan salah satu aspek dengan alasan tertentu untuk memperoleh aspek lain dengan kualitas yang berbeda. Untuk mendapatkan sesuatu, umumnya kita mengorbankan sesuatu yang lain . Hal ini mengidentifikasikan bahwa setiap orang akan selalu dihadapkan dengan banyak pilihan dalam hidupnya. Setiap individu harus menentukan pilihan yang tepat diantara banyak pilihan yang ada. Konsekuensi nyata yang akan di hadapi dari pilihan yang kita ambil adalah akan ada hal lain yang akan kita korbankan. There is no such thing as a free lunch (tidak ada yang gratis didunia ini)  adalah salah satu prinsipnya.

Allah mengilhamkan dua hal dalam diri manusia, yaitu keburukan (Futur) dan ketakwaan (Taqwa). Allah Ta’ala berfirman :

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (Q.S As Syam:8)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan pilihan kepada manusia, pilihan jalan keburukan dan kebaikan. Ada kebebasan pada manusia untuk memilih dan menentukan pilihannya. Kedua pilihan tersebut mengandung konsekuensi tersendiri, jalan keburukan konsekuensinya adalah kesengsaraan hidup, kesempitan hati, hilangnya keberkahan dari Allah Ta’ala dan di akhirat akan mendapat balasan neraka. Jika jalan kebaikan yang di pilih maka kebahagian dunia dan akhiratlhah yang akan didapat.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim)”.

Trade off yang terbesar dalam ekonomi secara global adalah pilihan antara Effisiensi dan Equity. Efisiensi adalah kondisi ideal ketika sebuah masyarakat dapat memperoleh hasil atau manfaat yang maksimal dari penggunaan sumber daya yang dimilikinya, sementara Equity adalah kondisi ideal ketika kesejahteraan ekonomi terbagi atau terdistribusikan secara adil di antara segenap anggota masyarakat. Tradeoff antara efisiensi dan pemerataan merupakan salah satu usaha pemerintah untuk pemerataan dengan pengenaan pajak lebih besar bagi masyarakat yang memiliki penghasilan lebih besar, untuk dibagikan kepada mereka yang kurang beruntung. Pada saat bersamaan, hal ini membebankan pula biaya efisiensi. Insentif terhadap orang-orang yang bekerja menjadi turun, sehingga orang-orang menurunkan produktivitasnya. Akibatnya, hasil perekonomian secara keseluruhan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pemerintah untuk melakukan pemerataan, pada saat bersamaan akan mengecilkan ukuran ekonomi tersebut.

Terkait Trade-Off equity, insentif, dan pemerataan, dalam ekonomi Islam dikenal adanya zakat dan jizyah (untuk penduduk non muslim). Salah satu tujuan zakat dan jizyah ini juga adalah untuk pemerataan hasil-hasil ekonomi (equity). Sistem ekonomi Islam bahkan tidak membenarkan penumpukan harta kekayaan di tangan orang-orang tertentu saja. Meskipun, Islam tetap mengakui dan menjunjung tinggi harta hak milik individu.

Namun demikian, hal ini tidak akan mengurangi insentif terhadap orang-orang yang bekerja seperti yang terjadi dalam pembahasan ekonomi sekuler. Sebab dalam sistem ekonomi Islam, ada satu hal yang tidak akan pernah dibahas oleh ekonomi sekuler. Yaitu orientasi akhirat.Insentif dalam Islam tidak melulu berupa materi.Ada insentif lainnya berupa kehidupan akhirat yang lebih baik.Insentif untuk orang-orang yang bekerja bahkan bisa jadi berlipat ganda di akhirat. Sehingga orang-orang yang menyadari hal ini tidak akan mengalami penurunan produktivitas karena mereka tidak mempermasalahkan penurunan “insentif dunia” yang hanya bersifat sementara saja. Bahkan produktivitas mereka dapat saja tetap meningkat. Akibatnya, ukuran ekonomi (efisiensi) tidak terpengaruh oleh hukum pemerataan berupa zakat.

 Allah berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.

Penulis :

DATA PRIBADI

Nama Lengkap        : Waryadi

Panggilan               : Waryadi / Ka War

Tempat, Tanggal Lahir : Indramayu, 19 Agustus 1995

Alamat Domisili     : Jalan H Rohimin, No.7OB, RT.O8 RW.O3,

    Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Kota Jakarta

    Selatan, Provinsi DKI

    Jakarta, Kode Pos 1225O

Jumlah Saudara      : anak ke- 6 dari 6 bersaudara

Email                      : Waryadi19@gmail.com

Referesi :

Al’Quran

As’Sunnah

Mankiw, N. Gregory, 2007. “Thinking Like an Economist”, dalam Principles of Macroeconomics, Ohio: Thomson South-Western.

 

12

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *