Home Dunia Buku Apa Hubungan Antara Mencari Pahlawan, Menyurati Generasi, dan Literasi?
Apa Hubungan Antara Mencari Pahlawan, Menyurati Generasi, dan Literasi?

Apa Hubungan Antara Mencari Pahlawan, Menyurati Generasi, dan Literasi?

18
0

Menyurati generasi, literasi dan kepahlawanan, bertemu dalam satu rangkai kata, hasrat menyejarah. Hasrat menyejarah, paling tidak lahir dari 2 perkataan pemikir Islam yang kita segani, Sayyid Qutb dan Malik bin Nabi. Kata Sayyid, “orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kerdil”. Kemudian Malik bin Nabi melegasikan hasrat tersebut menjadi sebuah ambisi, di penghujung umurnya ia berkata, “aku akan kembali setelah 30 tahun lagi”. Baik Malik bin Nabi dan Sayyid Qutb, sebenarnya kita dapat menyederhanakan hasrat mereka menjadi sebuah padanan kalimat, “berbagi agar kemudian dapat dikenang pergi”.

‘Menyurati generasi’ dan ‘mencari pahlawan’ memiliki kesamaan, keduanya lahir sebagai jawaban atas krisis. Krisis apa? Krisis kepahlawanan. Hari ini, musibah yang bertubi itu datang, krisis peradaban dan krisis kepahlawanan. Masih mendingan apabila peradaban kita berkerisis namun kita masih banyak punya stok pahlawan, dalam artian orang- orang yang dengan tulus bekerja untuk peradabannya dan menyelesaikan masalahnya. Namun hari ini, di peradaban kita, para pahlawan sukar kita temukan.

Dan kesamaan lainnya yang menghubungkan antara proyek ‘menyurati generasi’ dan ‘mencari pahlawan’ milik Anis Matta adalah fakta bahwa keduanya lahir dari refleksi tentang sumber daya peradaban kita yang tidak sepenuhnya dipergunakan. “kita adalah Mawar yang indah namun sukar untuk memekar”, ungkapan itu mewakili proyek menyurati generasi.

Hal serupa, dapat kita temukan dalam tuturan Anis Matta di bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, “tapi jangan menanti kedatangannya (para pahlawan), juga menggodanya untuk hadir ke sini… mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya saja belum memulai..” . Menyurati generasi dan mencari pahlawan, keduanya adalah bisikan bahwa setiap kita punya kesempatan yang sama untuk dapat menyejarah; karena sebenarnya kita memiliki daya untuk menyatakan itu.

Adapun hubungan antara literasi, menyurati generasi dan mencari pahlawan adalah hubungan yang saling khusus menghususkan. Hari ini, kita hidup di masa kebangkitan. Tipikal pahlawan di masa kebangkitan adalah mereka memiliki kecemasan mendalam tehadap peradabannya, kecamasan itu lahir di ambang batas kehancuran dan kebangkitan. Maka, cara yang paling memungkinkan bagi mereka para pahlawan untuk menyurati generasinya adalah melalui literasi. Karena biasanya, kecamasan yang mendalam dapat sepenuhnya terlampiaskan melalui tulisan. Paling tidak itu juga yang menjelaskan Umar pernah berkata, “ajarilah anakmu sastra, niscaya ia menjadi seorang yang pemberani”. Berani adalah salah satu sifat pahlawan. Sebagaimana kata Umar, bahwa keberanian itu boleh jadi tumbuh karena satu kebiasaan, yaitu berliterasi.

Dan yang membuat ikatan antara pahlawan dan literasi begitu sangat kuat adalah sebuah jaringan yang kita sebut filosofi. Bukan pahlawan jika tidak memiliki filosofi, dan bukan filosof jika tidak punya karya monumental berupa karya tulis. Oleh sebab itu, tak ayal kita menemukan bahwa di gelombang ke- 2 kebangkitan kita sebagai umat, kita menemukan bahwa para pahlawan kita, Hassan al- Banna, Sayyid Qutb, Malik bin Nabi, Muhammad Imaroh, Yusuf Qardhawy semuanya merupakan pegiat literasi yang telah menelurkan pelbagai macam karya.

Yang juga menjelaskan kenapa para pahlawan kebangkitan kita berliterasi adalah filosofinya sendiri. Dengan tulisan mereka dapat mengukur sejauh mana wilayah kemungkinan yang dapat dijangkau oleh filosofinya menyurati generasi. Contohnya adalah Hassan al- Banna yang membawa gagasan syumuliyyatul Islam. Dalam karya- karyanya dapat kita temukan betapa ajeg dan luas wilayah kemungkinan filosofinya tersebut, utamanya adalah yang tersirat dalam ungkapannya, “kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”.

Jika kita menggabungkan antara proyek ‘menyurati generasi’, mencari pahlawan dan literasi, maka sederhananya dapat kita katakan seperti ini:

*Pahlawan adalah fa’il (subjek)

*menyurati adalah fi’il (kata kerja)

*literasi adalah maf’ulun bih (hasil kerja)

*ke generasi (untuk siapa)

semuanya memiliki ruangnya masing- masing, baik ‘menyurati generasi’, ‘pahlawan’ dan literasi. Semuanya adalah kerangka dari filosofi besar. Hasrat untuk menyejarah. Yang dilakukan pahlawan adalah menyurati, lewat apa? Literasi. Siapa yang dikirimi? Generasi. Itulah proyek menyejarah kita.

Allahu a’lam bis showab..

*Cairo, District 8, Medinet Nasr, 8 Agustus 2018

18

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *