Home Dunia Buku Cara Menulis Buku Ala Hassan al- Banna
Cara Menulis Buku Ala Hassan al- Banna

Cara Menulis Buku Ala Hassan al- Banna

21
0

Masih banyak dari kita yang mengira bahwa aktifitas menulis adalah perkara yang sulit. Berbagai alasan kita lontarkan untuk menjadi pembenaran. Ngurus anak, ngantor seharian, tugas kuliah numpuk, nggak ada waktu, semuanya adalah sekian dari alasan kita mengurungkan niat untuk menulis.

Sebagian dari kita juga ada yang enggan menulis, bukan karena kesibukkan, tapi tidak tahu caranya, tidak tahu cara memulainya. Tenang, di tulisan ini kita akan belajar satu dari sekian cara menulis buku dari seseorang dengan kesibukan paling numpuk, dengan umurnya yang terbilang pendek, 42 tahun, ia telah meninggalkan inspirasi bagi kaum muslimin di seluruh dunia. ialah as- Syahid Hassan al- Banna rahimahullah.

“kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Pasti kita sering mendengar quote Hassan al- Banna yang satu ini. Ya, itu menggambarkan bagi kita sosoknya yang betul- betul punya hasrat untuk berkarya. Bagi Rojulun Qur’ani (pria dengan akhlaq Qur’an) ini, begitu Robert Jackson salah seorang penulis Barat menjulukinya, berkarya adalah sesuatu yang harus lebih banyak kuantitasnya dibanding waktu. “waktu kita hidup boleh jadi sedikit, namun itu tidak serta merta membuat karya kita sedikit pula”, itulah yang dibisikkan al- Banna kepada kita dalam berkarya.

Adapun tentang teknis menulis ala Hassan al- Banna memang tidak kita temukan secara verbatif dari perkataannya langsung. Namun, tentang itu bisa kita rujuk pada salah seorang muridnya yang amat mencintainya, namanya adalah Abdullah Aqil, seorang Azhari dari tanah Haram yang amat sangat menyesal tidak sempat menemui Hassan al- Banna kecuali setelah 3 bulan kesyahidannya.

Sampai sekarang masih banyak orang- orang yang mengira bahwa Hassan al- Banna bukanlah seorang yang alim, dengan dalih karya- karyanya hanyalah segelintir saja, al- Ma’tsurat, Memoar Dakwah, Rosail Ta’lim dan Aqaid. Itu saja karyanya, kata orang- orang yang dengki terhadap sosoknya.

Namun di bukunya Kalimat Mutarjalat fi Miawiyyah al- Imam as- Asyahid, Mustasyar Abdullah Aqil membantah klaim tersebut. Ternyata yang tidak dipahami oleh para pendengki Hassan al- Banna adalah caranya menelurkan karya. “kita menemukan, berjilid- jilid tebal besar tulisan Hassan al- Banna yang jumlah halamannya mencapai ribuan halaman, (hasil dari pengumpulan) dari tulisannya di majalah al- Manar milik Rasyid Ridho, majalah Ikhwanul Muslimin, majalah al- I’tishom, majalah as- Syihab… itu semua menjadi bukti keluasan ilmu Hassan al- Banna.. di umur saya yang baru menginjak 80 tahun, saya baru tahu Hassan al- Banna punya karya sebanyak itu”. Di lain kesempatan Aqil juga menyebutkan bahwa karya- karya Hassan al- Banna mencapai 20 jilid buku.

Dari sini kita dapat mengetahui cara Hassan al- Banna menelurkan karyanya. “mencetak sendiri, atau kelak dicetak orang”. Tulis sebanyak- banyaknya, kalaupun umur kita tidak jodoh menjadikannya buku, biar kelak orang- orang yang membukukannya. Filosofi berkarya inilah mungkin, yang juga menginspirasi Fujiko F. Fujio dengan karya monumentalnya Doraemon. Keyakinan bahwa karya kita, tidak serta merta hilang terbawa kerpergian kita.

Yang dapat kita instisarikan juga dari kasus Hassan al- Banna dalam menulis adalah caranya mengangsur karyanya. Seperti dikatakan Mustasyar Aqil tadi, bahwa karyanya yang bejibun tebal itu hasil pengumpulan dari tulisan- tulisan serialnya di majalah- majalah yang tersebar ke pelosok negeri. Cara yang demikian, masih relevan untuk kita lakukan di hari ini. Untuk kita yang punya semangat untuk menulis namun tehambat oleh kesibukan, cara Hassan al- Banna boleh jadi patut kita tiru.

Kalau Hassan al- Banna mengangsur tulisannya di majalah, kita hari ini bisa mengangsurnya di website pribadi kita. Atau, lebih mudahnya di halaman sosial media, yang hampir semua dari kita hari ini pasti memilikinya. Sehari satu tulisan tidak kurang dari 500 karakter, satu bulan lebih sedikit, satu buah buku karya tangan kita sudah dapat dinikmati oleh orang- orang. Sederhana sekali. Tinggal apakah kita punya komitmen untuk melakukan itu atau tidak.

Melalui karyanya yang menginspirasi, nama Hassan al- Banna mengantero di penjuru Bima Sakti. Bukan hanya tulisannya yang menginspirasi, namun tulisan orang- orang tentangnya tak kalah membuat namanya semakin masyhur harum di telinga umat. Adalah Dr. Salim Awaa, salah seorang pemikir dari Mesir yang mengatakan, “saya menantang, siapa saja muslim di atas permukaan bumi hari ini, yang mengenal Islam tanpa mengenal nama Hassan al- Banna!”. Yap, dari Hassan al- Banna kita juga belajar satu kaidah berliterasi untuk dapat menyajarah, “menulis atau ditulis”. Itulah pilihan hidup kita para pahlawan yang mau tak mau mesti kita pilih.

Allahu a’lam bis showab..

*Cairo, District 8, Medinet Nasr, Cairo, 9 Agustus 2018.

21

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *