Home Dunia Buku Belajar Akhlak Berliterasi dari Hassan al- Banna
Belajar Akhlak Berliterasi dari Hassan al- Banna

Belajar Akhlak Berliterasi dari Hassan al- Banna

42
0

“Kamu adalah yang kamu baca, kamu adalah yang kamu tulis”. Perkataan itu mungkin berlaku untuk kebanyakan orang, namun tidak untuk Dale Carnegie. Penulis buku How to Win Friends & Influence Others ini, ditemukan meregang nyawa bunuh diri. Buku Dale yang kebanyakan berbicara tentang pengembangan diri, tidak serta merta menjamin dirinya mengenal dirinya sendiri. Khotbahnya berbalik menghukuminya, meminta pertanggungjawaban atas setiap kata yang ia tulis di buku- bukunya.

Memang itulah kesulitan menjadi penulis. Pembaca yang terkadang kadung memuja- muja kita seperti dewa, kemudian dalam sekejap menjadi setan yang membabi buta menghukumi kita karena kecewa. Memang begitulah tuntutan menjadi penulis di tengah masyarakat paternalistik. Masyarakat yang lugu, cepat mendewakan, cepat pula menghinakan tanpa alasan yang rasional. Maka, sudah sepantasnya kita sebagai penulis mawas diri jauh- jauh hari, untuk selalu jujur dalam berkarya.

Menjadi keharusan bagi kita untuk selalu jujur lahir dan batin. Karena menjadi penulis bukan hanya perkara menarik minat baca, di sana ada pertanggungjawaban yang kita emban di hadapan Allah Ta’ala. Penulis berintegritas adalah mereka yang tidak membohongi pembacanya. Ada nilai moral yang tercermin dari setiap bait coretan- coretannya. Yang kita lakukan, bukan hanya mengaduk- ngaduk perasaan pembaca dalam kesiaan, namun juga menggiring mereka untuk senantiasa menjadi baik hari ke hari.

Itulah yang kita pelajari dari pejuang literasi seperti Hassan al- Banna. “jadilah kamu teladan. Karena orang- orang sesungguhnya lebih terpengaruh oleh akhlaq bukan oleh kefasihan; bahkan apabila kamu memiliki kefasihan Qis bin Sa’adah al- Iyadi dengan kedalaman kata- katanya, itu tidak serta merta dapat membuat kamu dapat mempengaruhi orang- orang, jika perbuatanmu menyalahi apa yang kamu katakan”. Perkataan al- Banna yang satu ini, mencerminkan jiwanya sebagai sosok pegiat literasi sejati. Seakan ia menegasikan pada kita keharusan untuk menjadi pribadi yang jujur dalam berkarya.

Tak ayal jiwa literator sejati itu memancar dalam sejarah hdiupnya yang singkat. Cukup 42 tahun, Hassan al- Banna telah berhasil menginspirasi kaum muslimin di seluruh dunia dengan karyanya. Hal tersebut menjadi bukti, bahwasanya yang dibutuhkan oleh para pembaca zaman itu bukan semata- mata orang dengan karya, namun juga, orang- orang yang jujur dengan karyanya.

Suatu ketika, para pendengki di majalah Wafd mencela Hassal al- Banna, “siapa kamu Hassan al- Banna? Kamu hanya guru kaligrafi di sekolah dasar, (berani- beraninya) kamu bercakap panjang dengan sosok berkedudukan tinggi seperti Musthofa Nuhas (tokoh nasionalis Mesir)”. Membaca tulisan itu, sahabat al- Banna, Sholih al- Asymawi naik pitam ingin segera membalas dengan keras tulisan tersebut. Tulisan Asymawi sudah siap dicetak kemudian disebar, namun, di sinilah akhlak literasi itu terpancar dalam jiwa al- Banna. Al- Banna melarang Asymawi untuk menyebar tulisan bantahan tersebut, bahkan ia malah menyuruh sahabatnya tersebut untuk menulis ulang, dengan judul yang meluluhkan, “Dari Hassan al- Banna, guru kaligrafi kepada yang mulia Musthofa Nuhas”. Begitu tertulis judul tulisannya di majalah al- Ikhwan al- Muslimun.

Itulah hasil perkawinan antara hati, pikiran dan gerak tangan yang jujur dalam menulis. Literasi bagi Hassan al- Banna bukan lagi soal bantah membantah kusir tanpa ujung. Di sana ada pesan tersirat untuk senantiasa mengutamakan maslahat. Maslahat untuk senantiasa bersatu sesama muslim, sesama anak bangsa, sesama manusia. Itulah literasi yang berakhlaq.

Paling tidak, literasi berakhlaq yang kita maksud itu, dapat secara sederhana ajeg dalam satu perkataannya, “jadilah kamu seperti pohon, orang- orang melemparinya dengan batu, namun ia balas lempar dengan buah yang ranum”. Kita para pegiat literasi adalah pohon itu. Penikmat karya kita adalah orang-orang yang tak jarang melempari kita. Namun kita terus saja menumbuhkan buah- buah yang layak untuk mereka santap, buah itu adalah karya kita.

Allahu a’lam bis showab..

*Cairo, 10 Agusutus 2018

42

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *