Home Dunia Ide 2 Peran dan 2 Jalan Menyongsong Kebangkitan Islam
2 Peran dan 2 Jalan Menyongsong Kebangkitan Islam

2 Peran dan 2 Jalan Menyongsong Kebangkitan Islam

26
0

Menuju cahaya, begitu as- Syahid Hassan al- Banna menamakan salah satu risalahnya. Artinya kita umat Islam sedang menyongsong arah barunya meninggalkan keterpurukan yang digambarkan sebagai kegelapan. Menuju cahaya, artinya berpindah ke masa kebangkitan setelah kemunduran.

Risalah itu ditulis pada 1936, di umur Hassan al- Banna yang menginjak 30 tahun. Di umur jamahnya Ikhwanul Muslimin yang menginjak 8 tahun. Risalah tersebut ditujukan kepada raja Faruq, Musthofa Nuhas dan seluruh pemimpin Islam di dunia untuk bersama- sama menyadarkan rakyatnya, menyambut fajar kebangkitan umat yang telah tiba menyapa.

“Wahai sahabat..”, begitu sapa al- Banna kepada para pemimpin dunia, “sesungguhnya Allah menitipkan kepada kalian urusan umat ini, dan Ia telah jadikan setiap maslahatnya, urusan-urusannya, hari ini dan masa depannya sebagai sebuah amanah bagi kalian juga sebagai titipan-Nya… setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Perkataan itu, menyiratkan sebuah pesan, bahwa para pemimpin kita, memang punya porsi yang lebih besar mengawal kebangkitan kita.

Kemudian di alinea selanjutnya, al- Banna mengingatkan pada kita umat Islam pentingnya mengetahui posisi kita sekarang sebagai sebuah umat. Kita sedang berada di fase perpindahan, dari suatu keadaan ke keadaan lainnya, “dan sungguh, fase-fase paling kritis dan penting dalam kehidupan sebuah umat adalah masa di mana (kita mesti) mencermati perpindahan (kita) dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya”, begitu kata al- Banna.

Kemudian di sinilah al- Banna memeta 2 peran yang mesti kita lakukan dan 2 jalan yang mesti kita pilih untuk menyongsong ketercerahaan tersebut. 2 peran tersebut adalah:

  1. Menyelamatkan umat dari keterikatan (tekanan) politik sehingga dapat memperoleh kebebasannya dan dapat kembali memimpin dunia. itu yang pertama menurut al- Banna.

Bukan tanpa alasan, memang kebebasan adalah modal utama untuk sebuah kebangkitan. Tidak ada kebangkitan tanpa kebebasan. Al- Banna betul- betul menyadari kondisi geopolitik dunia Islam di masanya bahkan hingga sekarang, bahwa cengkraman sistem otoritarian masih menjadi masalah utama yang harus diselesaikan oleh umat Islam untuk menyongsong hari barunya.

  1. Peran yang kedua yang mesti kita lakukan adalah membangun umat dari awal, untuk menemukan jalannya sendiri, sehingga ia dapat bersaing dengan umat- umat yang lain dalam tataran kesejahteraan sosial, begitu kata al- Banna.

Setelah selesai menghirup kebebasan, yang mesti kita lakukan adalah mengawal kebangkitan umat, sehingga dapat berjalan dengan lancar menyongsong ketercerahannya. Dari kedua masukan al- Banna, kita dapat menemukan kelaziman yang bertahap memeta kebangkitan kita, yang tersimpul dalam dua kata, bebas (huryah) dan bangunan (bina’). Yang mesti kita lakukan adalah menghirup kebebasan kemudian membangun umat.

Kemudian di bahasan selanjutnya, setelah kita mengetahui 2 peran kita, al- Banna menyuguhkan kepada kita 2 rel yang mesti kita pilihkan untuk kereta kebangkitan umat menuju kebangkitannya, 2 jalan itu adalah:

  1. Jalan Islam, dasar-dasarnya, kaidah- kaidahnya, dan peradabannya. Itulah jalan pertama kebangkitan kita menurut al- Banna. Dari pada kita memilih tren- tren isme hari ini milik umat lain sebagai pedoman kita, lebih baik kita menampilkan cara kita sebagai solusi.
  1. Adapun jalan yang kedua adalah jalan Barat, sistemnya, gaya hidupnya, dan metodeloginya. Namun yang deimikian langsung dinafikan oleh Hassan al- Banna lewat kesimpulannya, “dan akidah kita adalah jalan yang pertama (jalan Islam) dan kaidah- kaidahnya, dasar- dasarnya, ia adalah jalan satu- satunya yang wajib umat berjalan di atasnya untuk menyongsong masa depannya”.

Namun dari paparan di atas, apakah itu artinya umat Islam dilarang sama sekali mengambil manfaat dari Barat? Tidak, al- Banna tidak menafikan itu. Justru itulah yang kita sebut dengan jalan Islam, mengambil manfaat dari segala sesuatu. Sebagaimana disabdakan oleh Rosulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambilah”. Itulah 2 peran kita, dan 2 jalan yang mesti kita pilih, merebut kebebasan dan mengawal umat berada di atas jalan kebangkitannya, lewat cara Barat atau cara kita sendiri.

Allahu a’lam bis showab..

Referensi: Majmuatur Rasail lil Imam al- Banna hal 125

 

26

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *