Home Dunia Buku Bagaimana Cara Mendidik Anak Menjadi Penulis?
Bagaimana Cara Mendidik Anak Menjadi Penulis?

Bagaimana Cara Mendidik Anak Menjadi Penulis?

21
0

Saat remaja, Tharwat Abaza, salah seorang novelis besar dari Mesir, setiap kali datang liburan musim panas, ia selalu saja meluangkan waktunya duduk bersama dua orang sastrawan mengkaji syair- syair Ahmad Syauqi, salah seorang penyair terkenal Arab.

Tharwat membacakan syair- syair tersebut, kemudian kedua gurunya membenarkan bacaannya apabila ada kesalahan gramatikal dalam penyebutan, tak jarang pula keduanya memahamkan Tharwat makna dari syair- syair yang dibacakannya itu, karena memang sulit dipahami.

Suatu ketika, salah satu gurunya itu, Ahmad Ali berkata pada Tharwat, “bacaan kamu selalu saja salah Tharwat, bagaimana kamu bisa jadi seorang sastrawan, sedangkan memahami kaidah- kaidah bahasa saja kamu belum bisa!”

Mendengar perkataan itu, Tharwat terenyuh untuk menempa diri belajar. Sejak saat itu, seluruh bacaan yang ia baca, ia lantangkan keras- keras. Buku sastra, geografi, sejarah dan biologi, semuanya Tharwat baca keras- keras. Setiap katanya ia baca dengan jelas harakatnya. Begitu pula dengan kaidah gramatikalnya, ia tidak akan melanjutkan bacaannya sebelum rampung ia pahami kaidah bahasanya.

Kemudian, liburan musim panas datang kembali. Tharwat seperti biasa tak mau melewatkan pelajaran syairnya bersama kedua gurunya, Ahmad dan Taufik. Sarwat tidak ingin menceritakan kepada kedua gurunya itu kerja kerasnya belajar sepanjang tahun hingga tiba hari itu, di mana ia dan kedua gurunya itu dapat bertatap muka kembali. Sarwat ingin memberi kejutan kepada keduanya.

Benar saja, kedua gurunya tersebut kaget bukan main, Tharwat sangat lancar sekali melantunkan syairnya, keduanya sama sekali tidak menemukan kesalahan seperti di liburan yang lalu. “keduanya amat begitu terpukau dengan syair yang kulantunkan, namun aku tak tahu, apakah mereka terpukau karena bacaanku atau karena segan dengan wibawa ayahku, aku tak tahu” , kata Tharwat kebingungan.

                                                                                           **************

Apabila kita baca dengan teliti buku- buku biografi para penulis kawakan, Timur maupun Barat, maka akan kita temukan bahwa peran keluarga dalam membentuk mereka menjadi seorang pembaca ternyata lebih punya andil dari pada mencetak mereka menjadi penulis. Begitulah faktanya.

Keluarga cinta membaca yang menjadikan perpustakaan sebagai ruang utama aktifitas sehari- hari, dari pagi, siang hingga malam.  Tidak pula menjamin seorang anak dapat tumbuh menjadi seorang penulis. Contohnya adalah Saiful Islam, putera Hassan al- Banna, ia tidak tumbuh menjadi seorang penulis, padahal lingkungan keluarganya sangat mendukung menjadikannya penulis.

Hal tersebut dapat kita ketahui dari cerita Saiful sendiri, menceritakan sosok ayahnya yang amat sangat memperhatikan aktifitas membacanya,  “jadi, memang perpustakaan yang ditinggalkan Ayah memang sangat mempengaruhi perkembangan pikiran dan jiwaku”, kata Saiful memulai ceritanya, “Ayah memang mendorong kami anak- anaknya untuk cinta membaca. Ayah menambahkan 50 Qirsy dalam uang jajan kami, agar kami bisa membeli buku….dalam banyak tulisannya Ayah bahkan sering sekali menekankan pentingnya memiliki perpustakaan sendiri di setiap rumah keluarga muslim, meskipun perpustakaan itu sederhana saja”.

Ada pula anak- anak yang tumbuh minat baca dan tulisnya karena aktifitas orangtuanya di luar rumah, contohnya adalah Tharwat Abaza, yang telah kita baca kisahnya di atas, yang ayahnya merupakan seorang politisi yang berteman baik dengan penulis kawakan bernama Shadiq Kailani. Sarwat tidak menemukan lingkungan membaca di rumahnya, namun ia menemukan lingkungan tersebut dari buku- buku hadiah dari teman ayahnya itu, Shadiq Kailani, juga dengan berdiskusi sastra dengan guru-gurunya. Tharwat menjadi penulis bukan karena terlahir di keluarga cinta membaca dan gemar menulis, melainkan karena berteman dengan orang- orang yang suka membaca dan menulis.

Namun, dari kasus Saiful Islam dan Tharwat Abaza, apakah yang demikian membuat kita berkesimpulan bahwa penulis memang tidak lahir di keluarga penulis? Tidak juga demikian. Contohnya adalah sastrawan Ali Thanthowi yang berhasil mewariskan jiwa kepenulisannya kepada kedua cucunya Abidah al-Muayyid dan Mujahid Ma’mun Diraniyyah.

Jadi apabila kita ingin menarik pola, bagaimana kita mencetak anak kita menjadi penulis, memang sulit rasanya menentukan pola pastinya, sebagaimana kita selalu saja menemukan kasus khusus di setiap pola lingkungan keluarga para penulis besar. Namun yang pasti, mereka para penulis besar selalu lahir dari lingkungan membaca, entah itu dalam keluarga ataupun di luar keluarga. Maka, apabila kita ingin mencetak anak- anak kita menjadi penulis, sederhana saja, yang kita lakukan adalah memastikan anak- anak kita tumbuh di lingkungan membaca. Urusan kelak ia menjadi penulis atau tidak, biarkan takdir yang menjawab.

Allahu a’lam bis showab

Referensi:

*”Kaifa Asna’u min Thifli Katiban” karya Abdullah Umar

21

Faris Ibrahim Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

LEAVE YOUR COMMENT

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *